Film Judheg Rekam Luka Sosial serta Ungkit Daya Hidup yang Luar Biasa

Elde Joyosemito
Judheg, sebuah film layar lebar berbahasa ‘ngapak’ yang menyoroti persoalan sosial di pedesaan diputar dan menjadi bahan diskusi. (Foto: Istimewa)

PURBALINGGA, iNewsPurwokerto.id – Judheg, sebuah film layar lebar berbahasa ‘ngapak’ yang menyoroti persoalan sosial di pedesaan diputar dan menjadi bahan diskusi yang dihadiri langsung sutradara dan pemainnya. 

“Ini pertama kalinya Judheg diputar terbuka untuk publik di Purbalingga,” ujar Misya Latief, sutradara film di Kedai Pojok Taman Kota.

Misya yang asli berasal dari Desa Tunjungmuli, Karangmoncol ini menyatakan bahwa film tersebut mengangkat persoalan sosial yang dilihatnya langsung, seperti kemiskinan, pernikahan dini, jeratan rentenir, kekerasan dalam rumah tangga, degradasi moral dan problematika sosial lainnya. 

“Saya mengangkat persoalan ini dengan harapan bisa menggugah empati dan merumuskan solusi atau minimal penonton tergerak agar orang terdekatnya tidak terjebak seperti hal itu,” ujarnya.

Film berdurasi 117 menit ini berkisah tentang Warti (Darti Yatimah), seorang gadis 16 tahun yang telah menjadi ibu muda. Dalam tekanan kemiskinan, Warti berjuang menyusui bayinya, Cahyo (Adzfar AI Kautsar), meski stres dan gizi buruk membuat ASI-nya tak keluar.

Sementara itu, suaminya Supri (Sigit Blewuk) yang pengangguran justru larut judi online, mabuk-mabukan dan kekerasan dalam rumah tangga.

Warti yang juga masih bekerja sebagai pengrajin bulu mata palsu sambil mengasuh bayinya kemudian mencari kekuatan untuk mengambil keputusan besar dalam hidupnya. 

“Apakah dia akan bertahan atau keluar dari rumah tangga toxic demi menyelamatkan diri dan anaknya, itu yang menjadi jalan cerita utama Judheg,” imbuh Misya.

Judheg menyoroti bagaimana tubuh perempuan merekam luka sosial dan emosional, tetapi juga menyimpan daya hidup yang luar biasa. “Film ini menjadi potret getir tentang perempuan muda yang telah kehilangan masa remajanya, kemudian berusaha memperbaikinya,” katanya

Film yang diproduksi oleh Rekam Films ini mencatat sejarah sebagai film panjang pertama dari Purbalingga atau Banyumas Raya yang menggunakan Bahasa Banyumasan (Ngapak). Film ini juga melibatkan pemain dan kru yang seluruhnya berasal dari Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Banjarnegara.

Sebelumnya, Judheg dengan judul internasionalnya Penat atau Worn Out, sudah tayang di ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20 Tahun 2025, berkompetisi dalam program Indonesian Screen Awards. 

Sidik Nur Rahmat, salah satu penonton yang hadir sangat mengapresiasi Judheg. Menurutnya, film tersebut harus diputar keliling di Purbalingga. “Film ini sangat bagus untuk menjadi alat sosialsiasi penyadaran berbagai persoalan yang benar-benar di alami di perdesaan Purbalingga,” katanya.

Judheg, kata Sidik, juga bisa menggugah seluruh stakeholder untuk tergerak mengatasi persoalan tersebut.

Sigit Nurmianto alias Sigit Blewuk, pemeran utama dalam film tersebut berharap film tersebut berdampak positif bagi Masyarakat. 

“Semoga tidak ada ‘Supri’ seperti karakter yang ada di film, juga agar sama-sana menyadari bahwa pernikahan dini adalah hal yang sangat beresiko,” ujarnya.

Sementara itu, Gunanto Eko Saputro, penggagas acara tersebut berharap diskusi film seperti ini bisa dilakukan secara berkelajutan. “Ini menjadi budaya literasi yang baik dan Judheg bisa sebagai media pembelajarannya,” katanya.

Lebih lanjut, Misya Latief juga membuka peluang diundang untuk berdiskusi dan melakukan pemutaran film di berbagai komunitas. 

“Film ini saya gratiskan untuk diputar sebanyak-banyak dan semoga banyak yang tergerak untuk memberikan perhatian terhadap persoalan yang ada di sekitarnya,” pungkasnya.

Editor : EldeJoyosemito

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network