get app
inews
Aa Text
Read Next : 15.000 Bibit Pohon Bersemi di Bukit Kasturi Lereng Gunung Slamet, Aksi Keren Pemkab Banyumas-Telkom

Waspada Gunung Slamet! Aktivitas Naik, Radius Bahaya Diperluas

Sabtu, 04 April 2026 | 18:53 WIB
header img
Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Slamet, Badan Geologi memperluas zona aman menjadi radius 3 kilometer dari kawah puncak. (Foto: iNewsPurwokerto)

PURBALINGGA, iNewsPurwokerto.id — Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Slamet di Jawa Tengah mendorong Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperluas zona aman menjadi radius 3 kilometer dari kawah puncak. Rekomendasi ini mulai berlaku sejak 4 April 2026.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa status Gunung Slamet masih berada pada Level II (Waspada). Meski demikian, hasil pemantauan terbaru menunjukkan adanya dinamika aktivitas yang perlu diantisipasi oleh masyarakat.

“Aktivitas Gunung Slamet masih tergolong tinggi, sehingga diperlukan penyesuaian jarak aman bagi masyarakat menjadi 3 kilometer dari kawah,” kata Lana dalam keterangan resminya, Sabtu (4/4/2026).

Menurut dia, perubahan visual mulai tampak sejak 3 April 2026, ditandai dengan hembusan gas putih yang keluar secara kontinu dari kawah dengan ketinggian mencapai 300 meter. Kondisi ini mengindikasikan adanya pelepasan gas magmatik dari dalam gunung.

Di sisi lain, pengamatan termal juga menunjukkan tren peningkatan suhu yang signifikan. Suhu kawah yang sebelumnya berada di kisaran 247,4 derajat Celsius pada 2024, kini melonjak hingga 463 derajat Celsius pada awal April 2026.

“Kenaikan suhu tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas panas di kawah serta perkembangan rekahan di area tersebut,” ujarnya.

Aktivitas kegempaan turut memperkuat indikasi tersebut. Dalam periode pertengahan Maret hingga awal April 2026, tercatat ratusan gempa hembusan dan gempa frekuensi rendah yang berhubungan dengan dinamika gas magmatik. Intensitasnya pun cenderung meningkat sejak akhir Maret.

Selain itu, hasil pemantauan deformasi menunjukkan adanya pergerakan magma ke kedalaman yang lebih dangkal. Kondisi ini meningkatkan tekanan di dalam tubuh gunung dan berpotensi memicu erupsi.

“Tekanan di bawah permukaan meningkat dan memicu gempa dangkal, sehingga potensi erupsi tetap harus diwaspadai,” jelas Lana.

Ia menambahkan, potensi bahaya yang dapat terjadi meliputi lontaran material pijar, hujan abu, serta paparan gas vulkanik berkonsentrasi tinggi di sekitar kawah. Abu vulkanik juga dapat menyebar lebih luas mengikuti arah angin.

Badan Geologi mengimbau masyarakat, termasuk pendaki dan wisatawan, untuk tidak beraktivitas dalam radius yang telah ditetapkan. Pemantauan intensif akan terus dilakukan guna mengantisipasi perkembangan aktivitas Gunung Slamet.

“Masyarakat diharapkan tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah,” pungkasnya.

Editor : EldeJoyosemito

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut