Tugu Pembangunan Purwokerto, Jejak Soekarno dan Hadiah Persahabatan Indonesia-Uni Soviet
PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id - Setiap daerah memiliki ikon sejarah yang menjadi penanda identitas wilayahnya. Jika Yogyakarta dikenal dengan Tugu Pal Putih, Semarang memiliki Tugu Muda, dan Ambarawa dengan Monumen Palagan Ambarawa, maka Purwokerto mempunyai Tugu Pembangunan yang hingga kini masih berdiri kokoh di pusat kota.
Bagi sebagian masyarakat, monumen ini lebih dikenal sebagai Tugu Pancasila. Sebutan tersebut muncul karena terdapat lima lambang sila Pancasila yang menghiasi badan tugu. Sementara sebagian warga lainnya menyebutnya Tugu Merdeka lantaran lokasinya berada di ujung Jalan Merdeka.
Namun di balik bentuknya yang sederhana, Tugu Pembangunan menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan Presiden Soekarno, program pembangunan nasional era Demokrasi Terpimpin, hingga hubungan diplomatik Indonesia dengan Uni Soviet atau Rusia saat ini.
Seperti dirangkum oleh iNewsPurwokerto.id pada Senin (1/6/2026), berikut ini ulasan mengenai salah satu monumen bersejarah pada Hari Lahir Pancasila yang ada di Purwokerto.
Tugu Pembangunan berada di persimpangan Jalan Merdeka dan Jalan Gatot Subroto, kawasan strategis di Purwokerto Timur.
Keberadaannya dikelilingi sejumlah bangunan bersejarah yang menjadi saksi perkembangan Kota Purwokerto dari masa ke masa. Di antaranya SMA Negeri 1 Purwokerto yang dahulu merupakan Kantor Karesidenan pada 1921, Rumah Dinas Karesidenan yang dibangun pada 1939, Gedung Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto, serta Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gatot Subroto yang merupakan peninggalan masa kolonial Belanda.
Posisi tersebut menjadikan kawasan sekitar tugu sebagai salah satu titik penting dalam sejarah perkembangan pemerintahan dan kehidupan masyarakat Banyumas.
Berdasarkan prasasti yang masih terpasang hingga saat ini, nama resmi monumen tersebut adalah Tugu Pembangunan “Ajoenan Tjangkoel Pertama”.
Pembangunannya dimulai pada 1 Januari 1961, ketika Indonesia berada dalam masa Demokrasi Terpimpin di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno.
Yang menarik, peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Bung Karno saat berkunjung ke Purwokerto.
Pembangunan tugu ini menjadi penanda dimulainya Program Pembangunan Semesta Berencana, sebuah program pembangunan nasional yang menjadi salah satu agenda besar pemerintah pada masa itu.
Program tersebut dirancang untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960 tentang Garis-garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahun 1961–1969.
Karena itulah, lima lambang sila Pancasila diukir pada badan tugu sebagai simbol arah pembangunan nasional yang berlandaskan ideologi negara.
Setelah proses pembangunan selesai, Tugu Pembangunan diresmikan pada 1 Juni 1961.
Tanggal tersebut bukan dipilih secara kebetulan. Peresmian dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila yang setiap tahun diperingati pada 1 Juni.
Momentum tersebut semakin memperkuat hubungan simbolis antara Tugu Pembangunan dengan semangat pembangunan nasional yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Salah satu fakta menarik yang jarang diketahui masyarakat adalah keterkaitan Tugu Pembangunan dengan hubungan diplomatik Indonesia dan Uni Soviet, yang kini dikenal sebagai Rusia.
Pada masa pemerintahan Soekarno, hubungan Indonesia dengan Moskwa terjalin sangat erat. Kebijakan politik luar negeri Indonesia saat itu cenderung dekat dengan blok Timur yang dipimpin Uni Soviet.
Sejarah mencatat pembangunan Tugu Pembangunan “Ajoenan Tjangkoel Pertama” memiliki kaitan dengan Nikita Khruschchev, Ketua Dewan Menteri Uni Soviet atau yang setara dengan Perdana Menteri.
Kedekatan hubungan antara Presiden Soekarno dan Nikita Khruschchev turut melahirkan berbagai bentuk kerja sama dan dukungan pembangunan. Salah satunya diwujudkan melalui pembangunan monumen yang kemudian menjadi simbol dimulainya program pembangunan nasional di Purwokerto.
Lebih dari enam dekade setelah berdiri, Tugu Pembangunan masih menjadi salah satu landmark penting di Purwokerto.
Nilai sejarah yang dimilikinya membuat monumen ini resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten Banyumas melalui Surat Keputusan Bupati Banyumas pada 23 September 2019.
Penetapan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas peran Tugu Pembangunan sebagai saksi perjalanan sejarah bangsa, khususnya pada masa awal pembangunan nasional era Soekarno.
Bagi masyarakat Purwokerto, monumen ini bukan sekadar penunjuk arah atau penghias kota. Tugu Pembangunan menjadi pengingat akan semangat pembangunan, persatuan, dan cita-cita kesejahteraan yang pernah digelorakan sejak awal kemerdekaan Indonesia.
Hingga kini, keberadaannya tetap menjadi salah satu ikon sejarah Purwokerto yang menyimpan cerita tentang perjalanan bangsa, hubungan internasional Indonesia, dan warisan pemikiran besar Presiden Soekarno.
Editor : Arbi Anugrah