Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Wamendiktisaintek Ingatkan Bahaya Ketergantungan AI, Bisa Picu Kematian Berpikir
Advertisement . Scroll to see content

Koperasi Merah Putih Beli Jelantah Warga, Bakal Diproses Jadi Bahan Bakar Pesawat

Kamis, 29 Oktober 2026 | 19:33 WIB
  • author Elde Joyosemito
Koperasi Merah Putih Beli Jelantah Warga, Bakal Diproses Jadi Bahan Bakar Pesawat
Melalui program pengumpulan minyak jelantah di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), masyarakat dapat menjual minyak bekas memasak. (Foto; iNewsPurwokerto)

BANYUMAS, iNewsPurwokerto.id – Minyak goreng bekas yang selama ini dibuang begitu saja kini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga. 

Melalui program pengumpulan minyak jelantah di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), masyarakat dapat menjual minyak bekas memasak dengan harga Rp5.000 hingga Rp6.000 per liter.

Program tersebut tidak hanya membuka peluang pendapatan bagi rumah tangga, tetapi juga mendorong pemanfaatan limbah dapur untuk mengurangi risiko pencemaran lingkungan.

Tri Lestari, warga Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, mengaku terbantu dengan adanya program tersebut. Sebelumnya, minyak bekas memasak yang tidak lagi digunakan biasanya langsung dibuang karena dianggap tidak memiliki nilai ekonomi.

“Ini kan sisa masakan, selama ini langsung dibuang saja sebelum ada program penjualan minyak jelantah di Koperasi Merah Putih. Setelah ada ini, ya mending dikumpulkan, nanti dibawa ke sini terus bisa buat tambahan pendapatan karena saya kan ibu rumah tangga,” kata Tri, Kamis (29/10/2026).

Dalam sebulan, Tri menggunakan sekitar empat liter minyak goreng untuk kebutuhan rumah tangga. Dari jumlah tersebut, ia memperkirakan bisa mengumpulkan lebih dari satu liter minyak jelantah untuk dijual.

“Informasinya Rp5.000 per liter. Biasanya dalam sebulan ini bisa mengumpulkan lebih dari satu liter,” ujarnya.

Samini, warga lainnya, juga menyambut baik program tersebut. Selama ini, ia biasanya membuang minyak goreng yang sudah keruh, terutama setelah digunakan untuk menggoreng ikan. Sementara minyak yang masih terlihat bening terkadang dimanfaatkan kembali untuk memasak sayur.

Setelah mengetahui minyak jelantah bisa dijual melalui KDKMP, Samini berencana mulai mengumpulkan minyak bekas memasak di rumahnya.

“Alhamdulillah, bisa buat menambah penghasilan. Daripada dibuang, mending dikumpulkan. Bisa buat muter beli minyak baru lagi, lebih efisien, lebih praktis, enggak mubazir,” kata Samini.

Ia mengungkapkan, kebutuhan minyak goreng keluarganya mencapai sekitar lima hingga enam liter per bulan. Meski tidak semuanya menjadi minyak jelantah, Samini berharap minyak bekas yang terkumpul dapat memberikan tambahan pendapatan.

“Belum pernah mengumpulkan sebelumnya, jadi enggak tahu berapa. Karena dibuang terus. Mungkin setelah ini bakal ngumpulin terus buat dijual di sini,” tuturnya.

Program pengumpulan minyak jelantah tersebut merupakan bagian dari upaya memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi bahan baku energi. Minyak yang terkumpul melalui KDKMP selanjutnya disetorkan kepada PT Pertamina Patra Niaga untuk diproses di kilang Pertamina Cilacap menjadi bahan baku sustainable aviation fuel (SAF), atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, program percontohan tersebut dilaksanakan melalui kerja sama Kementerian Koperasi dengan PT Pertamina Patra Niaga. Pada tahap awal, pengumpulan minyak jelantah dilakukan melalui empat KDKMP di Kabupaten Banyumas.

Pemerintah berharap program tersebut dapat menjadi model pengelolaan minyak jelantah yang diterapkan di koperasi desa dan kelurahan di berbagai wilayah Indonesia.

“Harapannya, piloting di empat KDKMP di Banyumas ini bisa menjadi model yang digunakan di seluruh KDKMP di Indonesia. Minyak jelantah dikumpulkan untuk PT Pertamina Patra Niaga, selanjutnya diproses di kilang Pertamina untuk dijadikan bahan bakar avtur,” kata Ferry.

Menurut dia, pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF berpotensi mendukung pengembangan bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan. Produk tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan penerbangan domestik dan berpeluang dipasarkan ke luar negeri.

Dari sisi usaha, pengumpulan minyak jelantah juga dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi koperasi. KDKMP membeli minyak bekas dari warga dengan harga sekitar Rp5.000 hingga Rp6.000 per liter. Selanjutnya, minyak tersebut dijual kepada Pertamina Patra Niaga dengan harga sekitar Rp6.500 hingga Rp7.000 per liter.

“Ini menjadi salah satu sumber pendapatan dari kegiatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Ada selisih pendapatan yang bisa dijadikan tambahan pendapatan bagi koperasi,” ujar Ferry.

Ia menambahkan, program tersebut diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengelola limbah rumah tangga secara lebih bertanggung jawab. Minyak jelantah yang dibuang sembarangan berpotensi mencemari lingkungan sehingga pengumpulan dan pemanfaatannya kembali perlu diperluas.

“Minyak jelantah yang selama ini tidak pernah terpakai dan dibuang seadanya, sekarang bisa dijual kepada kami melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Selanjutnya dibeli dan dimanfaatkan untuk diproses oleh PT Pertamina Patra Niaga,” katanya.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan, kerja sama dengan Kementerian Koperasi merupakan bagian dari upaya mendukung kemandirian energi nasional. Salah satu langkah yang ditempuh ialah mengoptimalkan sumber daya dalam negeri, termasuk minyak jelantah yang selama ini berpotensi menjadi limbah.

“Kerja sama yang begitu erat antara Pertamina dengan Kementerian Koperasi tentunya sebagai bagian dari usaha kita untuk mendukung Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto, khususnya pada kemandirian energi. Kita berusaha menggunakan sumber-sumber energi yang ada di Indonesia sendiri,” kata Simon.

Ia menjelaskan, Pertamina telah melakukan sejumlah pengujian untuk mengembangkan bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan. Pengujian tersebut antara lain melalui uji terbang menggunakan pesawat C-235 serta pengujian bersama maskapai Garuda Indonesia.

Pada 2025, Pertamina juga melakukan uji terbang bersama Pelita Air untuk rute Jakarta-Denpasar pulang-pergi dengan menggunakan campuran 3% SAF dan 97% avtur konvensional.

“Penerbangannya berjalan baik dan kami juga terus melakukan upaya untuk semakin mendorong penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Simon menambahkan, koperasi desa dan kelurahan dapat berperan sebagai titik pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat. Bahan baku tersebut kemudian diproses lebih lanjut di kilang Pertamina untuk menghasilkan produk bernilai tambah.

Pertamina juga telah menjajaki kerja sama pengumpulan minyak jelantah dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Ke depan, perusahaan akan mengembangkan skema pengumpulan yang lebih luas, termasuk dengan melibatkan KDKMP.

Melalui program ini, minyak jelantah yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan energi berkelanjutan.

Editor: EldeJoyosemito

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut