Pembuatan instalasi ini berlangsung selama kurang lebih delapan bulan, dimulai sejak Agustus 2025. Seluruh elemen sekolah, mulai dari siswa, guru, orang tua, alumni, hingga manajemen, terlibat dalam setiap tahap, dari perencanaan hingga pemasangan.
Keterlibatan kolektif tersebut menjadikan instalasi ini bukan hanya karya seni, tetapi juga simbol kebersamaan. Payung dipilih sebagai media karena memiliki makna filosofis sebagai pelindung, mencerminkan peran sekolah sebagai ruang aman bagi seluruh peserta didik tanpa diskriminasi.
Perayaan ini turut dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Ye Su selaku Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, serta perwakilan pemerintah dan jaringan sekolah tiga bahasa di Indonesia.
Selain peresmian instalasi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan seminar nasional, diskusi pendidikan, hingga peluncuran pusat ujian Bahasa Mandarin berbasis komputer. Para tamu juga disuguhkan berbagai inovasi karya siswa, seperti alat pendeteksi kematangan alpukat dan becak hybrid berbasis kecerdasan buatan.
Pengamat pendidikan Yudil Chatim menilai konsep pendidikan tiga bahasa yang diterapkan Puhua School memiliki potensi besar dalam memperkuat peran Indonesia di kancah global.
Momentum ini tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun, tetapi juga penegasan komitmen bahwa pendidikan harus inklusif dan adaptif menghadapi tantangan zaman.
Melalui instalasi ribuan payung tersebut, tersampaikan pesan kuat yakni keberagaman adalah kekuatan yang harus dirawat dan dirayakan bersama.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
