get app
inews
Aa Text
Read Next : Bakar Sampah Berujung Petaka, Kandang dan Tiga Kambing di Bojongsari Terpanggang

Kearifan Lokal Jadi Fondasi Penting Kelola Sumberdaya Alam

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:17 WIB
header img
Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025 pada 10 Agustus, Dharma Bhakti Patanjala menegaskan pentingnya membangun sinergi antar generasi. (Foto: Istimewa)

PURBALINGGA, iNewsPurwokerto.id – Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025 yang jatuh pada 10 Agustus, Dharma Bhakti Patanjala menegaskan pentingnya membangun sinergi antar generasi demi keberlanjutan pelestarian alam. Tahun ini, peringatan HKAN mengusung tema “Membangun Sinergi antar Generasi untuk Masa Depan Konservasi”.

Pembina Dharma Bhakti Patanjala, Indaru Setyo Nurprojo, mengatakan konservasi alam bukan sekadar tanggung jawab ekologis, melainkan bagian dari dharma manusia untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. 

Ia menilai, kearifan lokal yang diwariskan leluhur Nusantara merupakan fondasi penting dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

“Leluhur kita telah memberi teladan bagaimana menjaga hutan dan mata air bukan sekadar untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk anak cucu. Kami menggabungkan pendekatan ilmiah dan nilai-nilai budaya agar konservasi berjalan holistik,” ujarnya.

Dalam pernyataan sikapnya, Dharma Bhakti Patanjala menekankan pelestarian alam harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. 

Nilai-nilai tradisi, kata Indaru, perlu menjadi landasan gerakan konservasi, termasuk mengajak generasi muda untuk menggali dan mengadaptasi kearifan lokal sebagai solusi modern terhadap krisis lingkungan.

Organisasi ini berkomitmen memberi ruang luas bagi generasi Z dan milenial memimpin inisiatif konservasi berbasis budaya. Salah satunya melalui program Siswa Magang Budaya Konservasi yang mempertemukan pemuda dengan ahli budaya senior, serta membangun platform digital untuk mendokumentasikan dan merevitalisasi tradisi konservasi Nusantara.

“Generasi muda memiliki energi dan kreativitas. Jika dikolaborasikan dengan pengetahuan tradisional, akan lahir inovasi yang relevan dengan tantangan zaman,” tutur Indaru.

Dharma Bhakti Patanjala juga mendorong pembentukan Forum Lintas Generasi untuk memadukan pengetahuan tradisional dengan teknologi modern. 

Pihaknya mengusulkan penyusunan Pustaka Digital Konservasi Budaya sebagai pusat pembelajaran, serta mengadakan festival tahunan yang mempertemukan praktisi konservasi tradisional dengan inovator muda.

Indaru menegaskan penolakannya terhadap praktik konservasi yang mengabaikan nilai budaya lokal. Ia mengecam eksploitasi sumber daya alam yang merusak situs budaya dan marginalisasi pengetahuan tradisional dalam kebijakan lingkungan.

Memanfaatkan momentum HKAN 2025, Dharma Bhakti Patanjala mengajak pemerintah, akademisi, komunitas, dan sektor swasta memulihkan ekosistem kritis, terutama mata air dan hutan, dengan melibatkan masyarakat adat melalui pendekatan partisipatif.

“Kami yakin sinergi antara kearifan tradisional dan semangat generasi muda akan menciptakan model konservasi Indonesia yang unik dan diakui dunia. Mari kita rawat bumi sebagaimana leluhur kita merawatnya,” pungkasnya.

Editor : EldeJoyosemito

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut