Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Selat Hormuz Belum Sepenuhnya Pulih Meski AS-Iran Capai Kesepakatan
JAKARTA, iNewsPurwokerto.id - Harga minyak mentah dunia kembali menguat setelah pasar merespons ketidakpastian implementasi kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Selain itu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang belum sepenuhnya pulih masih menjadi perhatian utama para pelaku pasar global.
Mengutip Al Jazeera, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional naik 0,65 persen pada Jumat (19/6/2026), setelah sebelumnya sempat melemah hingga 0,9 persen pada perdagangan hari yang sama.
Kenaikan tersebut membuat kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Agustus berada di level 80,37 dolar AS per barel. Angka itu sekaligus membawa harga minyak kembali menembus batas psikologis 80 dolar AS untuk pertama kalinya sejak Rabu lalu.
Pelaku pasar kini masih menunggu dampak nyata dari nota kesepahaman antara AS dan Iran yang bertujuan mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sebelumnya, harga minyak sempat mengalami tekanan setelah jumlah kapal komersial pengangkut energi yang melintasi Selat Hormuz mulai meningkat.
Namun, situasi kembali berubah setelah Israel melancarkan serangan ke Lebanon yang dilaporkan menewaskan 16 orang. Serangan tersebut dikhawatirkan mengganggu stabilitas kawasan dan mengancam keberlangsungan kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Di sisi lain, bentrokan antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah di wilayah selatan Israel juga dilaporkan menewaskan empat tentara Israel.
Kondisi itu turut berdampak pada agenda diplomasi kedua negara. Pertemuan antara pejabat AS dan Iran yang sebelumnya direncanakan berlangsung di Swiss dilaporkan batal dilaksanakan.
Meski demikian, Selat Hormuz hingga kini masih tetap terbuka untuk aktivitas pelayaran internasional.
Data Kpler menunjukkan tiga kapal tanker super berbendera Arab Saudi yang membawa sekitar 6 juta barel minyak mentah berhasil keluar dari Selat Hormuz pada Kamis.
Menariknya, kapal-kapal tersebut kembali menyalakan sistem pelacakan lokasi atau transponder setelah sebelumnya selama berminggu-minggu berada di kawasan Teluk dalam kondisi tidak aktif.
Selain itu, kapal tanker minyak Tong Lin Wan berbendera Hong Kong dan kapal tanker gas alam cair (LNG) Mraikh berbendera Prancis juga tercatat melintasi jalur tersebut.
Meski aktivitas pelayaran mulai bergerak, kondisinya masih jauh dari normal.
Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz umumnya dilalui sekitar 120 hingga 130 kapal setiap hari. Saat ini, lebih dari 500 kapal masih menunggu giliran untuk keluar dari kawasan Teluk.
Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Meskipun Iran dan AS telah berkomitmen menjaga jalur pelayaran tetap terbuka, operator kapal masih meragukan keamanan bagi kapal maupun awaknya.
Selama hampir empat bulan terakhir, ancaman keamanan terus menghantui sektor pelayaran internasional.
Berdasarkan data Organisasi Maritim Internasional (IMO), setidaknya telah terjadi 46 serangan terhadap kapal sejak konflik berlangsung pada akhir Februari lalu.
Serangkaian serangan tersebut menyebabkan 14 pelaut meninggal dunia.
Selain ancaman serangan, Selat Hormuz juga diduga masih terdapat ranjau laut milik Iran yang jumlahnya belum diketahui secara pasti.
Kondisi itu membuat proses normalisasi jalur pelayaran diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama karena harus diawali dengan operasi penyisiran ranjau yang dapat berlangsung selama beberapa pekan.
Situasi ini membuat ketidakpastian di pasar energi global masih tinggi dan berpotensi terus memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dalam waktu dekat.
Editor: Arbi Anugrah