Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Festival Gunung Slamet 2026 Jadi Ajang Promosi Desa Wisata dan UMKM Purbalingga
Advertisement . Scroll to see content

Tradisi Pengambilan Air Tuk Sikopyah Jadi Ikon Hari Kedua Festival Gunung Slamet

Minggu, 05 Juli 2026 | 07:42 WIB
  • author Elde Joyosemito
Tradisi Pengambilan Air Tuk Sikopyah Jadi Ikon Hari Kedua Festival Gunung Slamet
Air yang diambil oleh tokoh adat dimasukkan ke dalam satu Kendi Pratolo dan 99 lodong bambu yang kemudian dipikul oleh pemuda dan pemudi Desa Serang. (Foto: Istimewa)

PURBALINGGA, iNewsPurwokerto.id – Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan wisata D'Las Serang, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, pada Sabtu (4/7/2026), untuk menyaksikan prosesi budaya pengambilan air Tuk Sikopyah dalam rangka Festival Gunung Slamet (FGS) IX. 

Tradisi yang telah menjadi agenda tahunan ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas keberlimpahan sumber air sekaligus ajakan menjaga kelestarian alam di lereng Gunung Slamet.

Prosesi diawali dari mata air Tuk Sikopyah di Dusun Kaliurip. Air yang diambil oleh tokoh adat dimasukkan ke dalam satu Kendi Pratolo dan 99 lodong bambu yang kemudian dipikul oleh pemuda dan pemudi Desa Serang mengenakan busana tradisional.

Kirab budaya berlangsung semarak. Selain rombongan pembawa air, arak-arakan juga diisi 16 gunungan hasil bumi yang berisi aneka sayuran dan buah hasil panen warga dari delapan RW di Desa Serang. Sejumlah peserta berkostum karnaval turut memeriahkan perjalanan menuju lokasi utama festival di kompleks wisata D'Las Serang.

Koordinator Festival Gunung Slamet IX, Tuwuh Permanajati, mengatakan pelibatan 99 pemuda dan pemudi bukan tanpa makna. Jumlah tersebut melambangkan 99 Asmaul Husna sebagai simbol rasa syukur masyarakat atas anugerah sumber air yang selama ini menopang kehidupan warga.

Ia menjelaskan, prosesi tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan tradisi kepada generasi muda agar budaya lokal tetap lestari.

Menurut Tuwuh, keberadaan Tuk Sikopyah sempat berubah setelah bencana longsor dan banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada awal 2026. Namun mata air kembali muncul di bawah Watu Langgar dengan sumber yang sama sehingga kini lebih mudah dijangkau masyarakat.

"Perubahan lokasi mata air menjadi hikmah bagi masyarakat. Air tetap mengalir dari sumber yang sama, bahkan sekarang lebih mudah diakses. Penyatuan air dari seluruh lodong melambangkan persatuan doa dan harapan seluruh warga," katanya.

Sesampainya di lokasi festival, rombongan kirab disambut Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif bersama Wakil Bupati Dimas Prasetyahani beserta istri, jajaran Forkopimda, perwakilan Kementerian Pariwisata RI, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Bank Indonesia Purwokerto, serta tamu undangan lainnya.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyatuan air dari Kendi Pratolo dan seluruh lodong ke dalam satu wadah besar. Setelah Bupati menuangkan air terlebih dahulu, prosesi diteruskan oleh Wakil Bupati, para pejabat, serta seluruh pembawa lodong.

Air yang telah disatukan bersama gunungan hasil bumi kemudian didoakan oleh sesepuh adat. Setelah itu dilakukan penabuhan gong sebagai penanda masyarakat dipersilakan mengambil air Tuk Sikopyah dan memperebutkan gunungan hasil bumi yang diyakini membawa berkah.

Bupati Fahmi mengatakan Festival Gunung Slamet merupakan salah satu agenda budaya unggulan Kabupaten Purbalingga yang mampu menggabungkan pelestarian tradisi, pengembangan pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

"Festival ini bukan sekadar pertunjukan budaya, tetapi juga mengandung pesan tentang pentingnya menjaga alam, memperkuat kebersamaan, dan mensyukuri karunia Tuhan melalui sumber air serta hasil bumi yang dimiliki masyarakat Desa Serang," ujarnya.

Menurut Fahmi, penyelenggaraan Festival Gunung Slamet pada tahun lalu berhasil menarik sekitar 50 ribu pengunjung dengan nilai transaksi ekonomi mencapai Rp3,5 miliar. 

Pemkab Purbalingga berharap capaian tersebut dapat meningkat pada pelaksanaan tahun ini sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat, khususnya para petani sayuran di Desa Serang.

Usai seluruh rangkaian prosesi selesai, peserta festival menikmati makan bersama Nasi 3G, kuliner khas Desa Serang yang terdiri atas nasi jagung, gereh (ikan asin), gundil (tempe goreng), dan gandul atau tumis pepaya muda. Tradisi makan bersama itu menjadi penutup rangkaian acara sekaligus mempererat kebersamaan antara warga, tamu undangan, dan wisatawan yang hadir pada Festival Gunung Slamet IX.

Editor: EldeJoyosemito

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut