Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : 1.000 Mahasiswa UMP Ikuti Skrining Thalasemia, Kenali Pentingnya Deteksi Dini
Advertisement . Scroll to see content

Bersawa Warga Lokal, Mahasiswa Jepang Pelajari Pemulihan Pascabencana di Desa Serang Purbalingga 

Minggu, 23 Agustus 2026 | 07:29 WIB
  • author Elde Joyosemito
Bersawa Warga Lokal, Mahasiswa Jepang Pelajari Pemulihan Pascabencana di Desa Serang Purbalingga 
Mahasiswa dari Ibaraki University, Jepang, mempelajari proses pemulihan masyarakat dan lingkungan pascabencana banjir bandang di Desa Serang, Karangreja. (Foto: Istimewa)

PURBALINGGA, iNewsPurwokerto.id – Mahasiswa dari Ibaraki University, Jepang, mempelajari proses pemulihan masyarakat dan lingkungan pascabencana banjir bandang di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Joint Community-Service Program 2026 yang diselenggarakan International Relations Office (IRO) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) bersama Ibaraki University. Program mengangkat tema Recovery from Natural Disaster dan berlangsung selama tujuh hari, 17-23 Agustus 2026.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Jepang didampingi Prof. Tatsuo Sato melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi masyarakat dan lingkungan Desa Serang yang sebelumnya terdampak banjir bandang.

Rombongan juga didampingi Komunitas Dharma Bhakti Patanjala bersama warga lokal yang tergabung dalam Edelweis Adventure. Pendampingan dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi wilayah serta pengalaman masyarakat menghadapi bencana.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Dusun Gunung Malang. Kawasan tersebut termasuk wilayah yang terdampak cukup parah ketika banjir bandang menerjang.

Di lokasi, mahasiswa mendapat penjelasan mengenai kondisi sebelum dan setelah bencana, mulai dari perubahan lingkungan, aliran air, dampak terhadap permukiman hingga kerusakan lahan pertanian milik warga.

Pengetahuan masyarakat setempat menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Warga menjelaskan kondisi geografis wilayah, karakter aliran air, jenis tanaman yang dibudidayakan hingga perubahan lingkungan yang terjadi setelah bencana.

Mahasiswa volunteer IRO Unsoed, Rivai Pasaribu, mengatakan kegiatan tersebut memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar mempelajari penanganan bencana.

"Sasarannya adalah pemberdayaan masyarakat pedesaan, pengembangan agrowisata, serta mencari solusi atas persoalan kebencanaan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna," ujar Rivai.

Dia menjelaskan, pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh. Selain memperbaiki kerusakan fisik, masyarakat juga perlu mendapatkan dukungan untuk memulihkan aktivitas ekonomi dan meningkatkan kapasitas menghadapi potensi bencana berikutnya.

"Jadi, pemulihan bukan hanya mengembalikan kondisi fisik seperti sebelum bencana, tetapi juga bagaimana masyarakat bisa bangkit, mengembangkan potensi yang ada dan menjadi lebih siap menghadapi risiko bencana," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Jepang juga diajak mengenal berbagai jenis tanaman dan sayuran yang dikembangkan masyarakat Desa Serang.

Pembelajaran mengenai pertanian lokal tersebut diharapkan membuka wawasan mahasiswa mengenai potensi ekonomi desa sekaligus peluang pengembangan agrowisata.

"Potensi pertanian yang dimiliki masyarakat juga menjadi bagian penting untuk dipelajari karena berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kawasan pedesaan," ujar Rivai.

Bagi Komunitas Dharma Bhakti Patanjala, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan pengetahuan lokal dengan pengetahuan akademik.

Pengetahuan warga yang diperoleh dari pengalaman hidup di kawasan rawan bencana dinilai memiliki peran penting dalam memahami karakter wilayah dan menentukan langkah mitigasi yang sesuai.

"Pengetahuan masyarakat yang tinggal langsung di kawasan ini sangat penting. Mereka mengetahui kondisi lingkungan, aliran air, lahan dan perubahan yang terjadi setelah bencana," kata salah seorang pendamping kegiatan.

Sementara itu, keterlibatan mahasiswa dan akademisi dari Jepang memberikan perspektif berbeda mengenai pemulihan bencana, pengelolaan lingkungan, pertanian serta pemanfaatan teknologi.

Program Joint Community-Service Program 2026 ini dijadwalkan berlangsung hingga 23 Agustus 2026. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara masyarakat Desa Serang, akademisi dan mahasiswa dari Indonesia serta Jepang.

Rivai menilai, kegiatan lapangan seperti itu memberikan pengalaman yang tidak diperoleh mahasiswa hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.

"Desa menjadi ruang belajar yang sangat penting. Mahasiswa bisa melihat langsung bagaimana masyarakat menghadapi bencana, memanfaatkan lingkungan dan berusaha bangkit setelah bencana," katanya.

Melalui kolaborasi Indonesia-Jepang tersebut, pemulihan pascabencana ditempatkan sebagai proses yang tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis. Pemulihan juga mencakup penguatan masyarakat, pemanfaatan potensi lokal, perlindungan lingkungan dan pembangunan desa yang lebih tangguh terhadap bencana.

Editor: EldeJoyosemito

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut