Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kisah Perjuangan Mia, Ibu Hamil yang Rela Motoran 13 Jam Demi Mudik dari Tangerang ke Cilacap
Advertisement . Scroll to see content

Edukasi di Cilacap, Muslimat NU Luruskan Persepsi Kental Manis Bukan Pengganti Susu

Kamis, 17 September 2026 | 18:07 WIB
  • author Arbi Anugrah
Edukasi di Cilacap, Muslimat NU Luruskan Persepsi Kental Manis Bukan Pengganti Susu
Talkshow edukasi dan sosialisasi untuk meluruskan pemahaman kental manis bukan pengganti susu. Foto: iNewsPurwokerto

Erna menambahkan, kader Muslimat NU dinilai memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat. Sebagian besar pengurus Muslimat NU juga aktif sebagai ustazah dan memiliki majelis taklim.

Sementara menurut Kabid Pelayanan Kesehatan PPKB Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Dr. Retno Purwati Rahayu, menyambut baik kegiatan edukasi tersebut.

Ia menjelaskan bahwa kandungan susu dalam produk kental manis relatif kecil. Karena itu, penggunaannya perlu disesuaikan dan tidak menjadikan produk tersebut sebagai minuman utama bagi anak.

"Ini upaya dari muslimat tentang edukasi susu kental manis ini. Memang kalau susu kental manis itu persentase susunya kecil. Jadi kalau dikonsumsi tidak sesuai dengan umur dan untuk jadi pokok untuk minuman itu tidak bagus," tegasnya.

Retno mengatakan Dinas Kesehatan sebelumnya telah memberikan edukasi mengenai pemberian susu sesuai kelompok usia. Namun, pembahasan yang secara khusus mengulas kental manis belum dilakukan secara mendetail seperti dalam kegiatan kali ini.

"Kalau dari Dinkes sebelum-sebelumnya ya pengetahuan tentang susu sesuai dengan umur. Tapi yang khusus tentang kental manis memang tidak terperinci seperti saat ini," katanya.

Sedangkan menurut Sekjen YAICI, Satria Yudhistira, mengatakan kegiatan di Cilacap merupakan bagian dari program edukasi yang telah dilakukan bersama PP Muslimat NU sejak 2017.

Menurut dia, persoalan pemahaman masyarakat mengenai kental manis dan kaitannya dengan gizi anak masih membutuhkan edukasi berkelanjutan.

"Karena permasalahan yang dulu pun sebetulnya belum selesai tentang kental manis dan tentang gizi anak. Harapannya dengan kegiatan ini teman-teman kader juga bisa menyebarkan, minimal posyandu-posyandunya bisa memasukkan materi edukasi tentang ketal malis bukan susu," jelasnya.

Satria juga menjelaskan bahwa edukasi mengenai pelabelan produk kental manis telah didorong bersama sejumlah organisasi sejak 2018.

Menurutnya, pihaknya bersama PP Muslimat NU dan sejumlah LSM telah mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan perubahan regulasi terkait penggunaan kata "susu" pada produk kental manis.

"Sebetulnya sejak 2018 kami bersama PP Muslimat NU dan LSM lainnya juga Itu sudah mendorong ke BPOM Dan memang sudah ada perubahan di PERBPOM untuk menghapus label susu dalam kental manis," ujarnya.

Ia mengatakan perubahan tersebut membuat penggunaan kata "susu" pada label produk kental manis dihilangkan. Namun, pengawasan dan upaya mempertahankan penerapan regulasi tersebut dinilai tetap perlu dilakukan.

Editor: Arbi Anugrah

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut