Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Gempa Kepulauan Seribu, Sejumlah KA Sempat Berhenti Luar Biasa
Advertisement . Scroll to see content

Berusia 139 Tahun, Stasiun Kroya Tetap Jadi Simpul Penting Perjalanan KA Selatan Jawa

Senin, 21 September 2026 | 15:43 WIB
  • author Elde Joyosemito
Berusia 139 Tahun, Stasiun Kroya Tetap Jadi Simpul Penting Perjalanan KA Selatan Jawa
Berada di Desa Bajing, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, stasiun Kroya ini memiliki posisi strategis. (Foto: Istimewa)

KROYA, iNewsPurwokerto.id - Suara roda kereta yang beradu dengan rel menjadi bagian dari keseharian warga Kroya. Di tengah denyut aktivitas masyarakat Kabupaten Cilacap, Stasiun Kroya terus memainkan perannya sebagai salah satu simpul penting perjalanan kereta api di wilayah selatan Jawa.

Berada di Desa Bajing, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, stasiun ini memiliki posisi strategis. Dari Kroya, perjalanan kereta api dapat mengarah ke barat menuju Bandung, ke timur menuju Yogyakarta, Surabaya hingga Banyuwangi, serta ke utara menuju Purwokerto dan Jakarta.

Letaknya yang berada di persimpangan sejumlah jalur perjalanan membuat Stasiun Kroya tidak pernah benar-benar sepi. Setiap hari, penumpang datang dan pergi dengan tujuan yang beragam, mulai dari perjalanan untuk bekerja, bersekolah, mengunjungi keluarga, hingga bepergian untuk keperluan bisnis dan wisata.

Manager Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 5 Purwokerto, M. As’ad Habibuddin, mengatakan posisi strategis tersebut menjadikan Stasiun Kroya sebagai salah satu stasiun penting dalam mendukung mobilitas masyarakat.

“Setiap harinya, terdapat sekitar 95 perjalanan kereta api yang melayani penumpang di Stasiun Kroya, dengan beragam pilihan kelas, mulai dari ekonomi dan eksekutif hingga layanan kereta di atasnya seperti Luxury, Panoramic, dan Suite Class Compartment,” ujarnya.

Ramainya aktivitas di Stasiun Kroya juga tercermin dari jumlah pelanggan yang terus bertambah. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, rata-rata 93.159 pelanggan menggunakan layanan stasiun tersebut setiap bulan.

Dari jumlah itu, sebanyak 46.804 pelanggan tercatat melakukan perjalanan dari Stasiun Kroya, sedangkan 46.356 pelanggan merupakan penumpang yang tiba di stasiun tersebut.

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, rata-rata pelanggan Stasiun Kroya tercatat 62.318 orang per bulan. Jumlah itu kemudian meningkat menjadi 74.961 orang per bulan pada 2024 dan kembali bertambah menjadi 83.290 orang per bulan pada 2025.

Jika dibandingkan dengan rata-rata bulanan pada 2023, jumlah pelanggan pada Januari-Agustus 2026 telah tumbuh sekitar 49 persen.

“Pertumbuhan jumlah pelanggan menunjukkan bahwa Stasiun Kroya memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat. KAI terus berupaya memberikan pelayanan yang aman, nyaman, dan semakin mudah diakses oleh pelanggan,” kata As’ad.

Jauh sebelum kereta api menjadi salah satu pilihan utama perjalanan masyarakat modern, Stasiun Kroya telah menjadi bagian dari sejarah panjang perkeretaapian di Indonesia.

Stasiun yang berada di ketinggian sekitar 11 meter di atas permukaan laut itu mulai beroperasi pada 20 Juli 1887. Lebih dari satu abad kemudian, keberadaannya tetap bertahan dan berkembang mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat.

Kini, wajah stasiun tidak hanya identik dengan peron, jalur rel, dan kereta yang datang silih berganti. Berbagai fasilitas terus dikembangkan untuk memberikan kenyamanan kepada pelanggan.

Fasilitas tersebut antara lain akses Wi-Fi, layanan isi ulang air minum gratis, serta toilet yang bersih dan nyaman. Berbagai fasilitas itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman perjalanan yang semakin baik bagi masyarakat.

Namun, cerita tentang Stasiun Kroya tidak berhenti pada aktivitas di dalam kawasan stasiun. Di luar pagar stasiun, geliat ekonomi ikut tumbuh mengikuti arus perjalanan penumpang.

Kehadiran ribuan pelanggan setiap bulan menciptakan peluang bagi pelaku usaha di sekitar stasiun. Warung, pedagang makanan dan minuman, usaha kecil, hingga berbagai layanan transportasi lanjutan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar simpul transportasi tersebut.

Bagi masyarakat, stasiun bukan sekadar tempat menunggu kereta atau lokasi untuk turun setelah perjalanan panjang. Aktivitas di dalam dan sekitar stasiun telah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi kawasan.

“Hal ini menjadikan stasiun tidak hanya sebagai tempat naik dan turunnya penumpang, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi kawasan,” tutup As’ad.

Editor: EldeJoyosemito

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut