COFIESA: Alat Pres Sederhana Mengubah Sabut Kelapa Menjadi Peluang Ekonomi
Oleh: Dr. Anggun Badu Kusuma dan Tim
DI TENGAH melimpahnya pohon kelapa di pedesaan, ada bagian yang kerap luput dari perhatian yakni sabut kelapa. Setelah buahnya dimanfaatkan, sabut kelapa sering hanya menjadi limbah yang menumpuk dan belum memberikan nilai ekonomi berarti. Namun, bagi kelompok perempuan penerima Program Keluarga Harapan (PKH) di Dukuh Karangbawang, Desa Pakujati, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, sabut kelapa mulai dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Bukan lagi sekadar limbah, melainkan bahan baku yang dapat diolah menjadi produk kreatif bernilai guna dan berpotensi ekonomi.
Perubahan cara pandang itu diperkuat melalui program COFIESA (Coconut Fiber for Environmental Sustainability & Art). Program pengabdian kepada masyarakat yang didukung hibah DPPM 2026 Kemendiktisaintek ini memperkenalkan pemanfaatan sabut kelapa sekaligus teknologi tepat guna yang dapat digunakan masyarakat untuk mengolahnya. Salah satu inovasi yang menjadi bagian penting program tersebut ialah alat pres COREF (Coconut Reinforced Fiber Press).
Teknologi tepat guna tidak selalu identik dengan mesin canggih, mahal, dan rumit. Dalam konteks masyarakat desa, teknologi justru harus menjawab kebutuhan yang nyata: mudah digunakan, sesuai kemampuan pengguna, terjangkau, dan dapat dirawat secara mandiri. Prinsip itulah yang menjadi dasar pengembangan COREF.

Alat pres ini dirancang dengan konstruksi yang relatif sederhana. Rangka utamanya menggunakan besi UNP, dilengkapi bak cetak yang dapat dilepas. Sistem pengepresan menggunakan plat press yang terhubung dengan ulir, sedangkan proses penekanan dilakukan melalui tuas pemutar. Dengan mekanisme tersebut, proses pemadatan bahan tidak bergantung pada mesin berdaya listrik besar.
Secara teknis, desain alat memiliki dimensi utama sekitar 60,5 × 60,5 sentimeter. Bak cetaknya menggunakan plat besi dengan ketebalan 3 milimeter. Desain juga menyediakan beberapa pilihan cetakan, antara lain ukuran 30 × 30 sentimeter dan 25 × 50 sentimeter.
Kesederhanaan tersebut justru menjadi kekuatan. Masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi memiliki peluang untuk memahami cara kerja alat dan menggunakannya dalam proses produksi kelompok.
Cara kerja COREF pada dasarnya diarahkan untuk mengubah bahan olahan berbasis sabut kelapa menjadi lembaran yang lebih padat sehingga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk. Sabut kelapa yang sebelumnya kurang bernilai diolah bersama bahan pendukung seperti kertas dan perekat hingga membentuk adonan yang homogen. Bahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam cetakan dan dipadatkan menggunakan alat pres. Setelah proses pengepresan, material dikeringkan sebelum dipotong, dibentuk, atau dirangkai menjadi produk fungsional.
Dari proses tersebut, sabut kelapa dapat dikembangkan menjadi produk seperti pembatas dinding, kotak tisu, asbak, dan pot tanaman. Di sinilah teknologi tepat guna memiliki makna yang lebih luas. COREF bukan sekadar alat untuk mengepres bahan. Ia menjadi bagian dari sebuah rantai pemberdayaan: limbah → bahan olahan → produk → keterampilan → peluang ekonomi.

Program COFIESA tidak berhenti pada pengenalan alat. Teknologi baru akan memberikan manfaat apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakannya secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kegiatan dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan. Peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknik pengolahan sabut kelapa, tetapi juga diarahkan memahami kualitas produk, pengembangan produk, pengemasan, branding, hingga promosi melalui media digital.
Pendekatan tersebut penting karena persoalan usaha masyarakat sering kali bukan hanya terletak pada kemampuan menghasilkan produk. Produk yang baik tetap membutuhkan pengelolaan, penentuan harga, kemasan, pemasaran, dan strategi promosi yang tepat. Dengan demikian, COFIESA mencoba menghubungkan teknologi produksi dengan pengetahuan kewirausahaan.
Perubahan kemampuan peserta terlihat dari hasil evaluasi program. Sebanyak 15 peserta mengikuti pengukuran sebelum dan sesudah kegiatan. Rata-rata skor keseluruhan meningkat dari 2,00 menjadi 3,47 pada skala empat. Peningkatan paling kuat terlihat pada aspek pengetahuan lingkungan dan keterampilan. Pengetahuan lingkungan meningkat dari 1,87 menjadi 3,56 dengan nilai N-Gain 0,792 atau kategori tinggi. Sementara itu, keterampilan meningkat dari 1,96 menjadi 3,44 dengan N-Gain 0,728, juga berada pada kategori tinggi.
Aspek manajemen dan potensi ekonomi juga mengalami peningkatan, dari 2,18 menjadi 3,40. Namun, capaian tersebut masih membutuhkan pendampingan lanjutan, khususnya dalam pengembangan produk, pemasaran, penentuan harga, dan pengelolaan usaha. Data tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak bekerja sendirian. Dampak teknologi menjadi lebih kuat ketika dipadukan dengan pelatihan, praktik langsung, pendampingan, dan penguatan kapasitas masyarakat.
Salah satu tantangan dalam program pemberdayaan adalah keberlanjutan. Tidak sedikit teknologi yang berhenti digunakan setelah program selesai karena masyarakat belum memiliki kemampuan, akses, atau sistem pengelolaan untuk melanjutkannya. COFIESA mencoba mengantisipasi persoalan tersebut dengan mendorong pembentukan kelompok-kelompok kerja kecil, produksi bersama, pemasaran bersama, serta pemanfaatan media digital untuk promosi. Dalam konteks ini, COREF memiliki posisi strategis. Alat tersebut bukan sekadar benda yang diserahkan kepada masyarakat, tetapi menjadi infrastruktur produksi sederhana yang dapat mendukung proses pengolahan bahan secara mandiri. Bak cetak yang dapat dilepas serta pilihan bentuk dan ukuran cetakan juga membuka ruang untuk pengembangan produk sesuai kebutuhan.
Apa yang dilakukan kelompok PKH Pakujati memberikan sebuah pelajaran sederhana: inovasi tidak harus selalu dimulai dari teknologi yang rumit. Kadang-kadang inovasi justru lahir ketika teknologi dirancang berdasarkan persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Sabut kelapa adalah persoalan lingkungan sekaligus potensi. Alat pres adalah solusi teknis. Kelompok perempuan adalah penggerak. Pelatihan dan pendampingan menjadi penguat. Sementara produk kreatif menjadi jembatan menuju peluang ekonomi. Di titik itulah teknologi tepat guna memperoleh makna sebenarnya bukan sekadar membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, tetapi membuat masyarakat menjadi lebih mampu. COFIESA menunjukkan bahwa ketika limbah lokal dipertemukan dengan teknologi yang sesuai dan kreativitas masyarakat, sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi bahan untuk berkarya. Dan dari sana, peluang ekonomi baru dapat mulai tumbuh, dari desa, dari bahan yang ada di sekitar, dan dari tangan masyarakat sendiri.
Penulis
Dr. Anggun Badu Kusuma dan Tim
Dosen Program Studi Pendidikan Matematika
FKIP, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Ketua Tim Penerima Hibah DPPM 2026 Kemendiktisaintek
Editor: Aryo Arbi