Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ratusan Warga Grujugan Banyumas Terima Bantuan Beras 30 Kilogram dari Bulog
Advertisement . Scroll to see content

Menyeruput Kopi Sambil Menikmati Sejuknya Suasana dan Panorama Alam

Minggu, 27 September 2026 | 06:46 WIB
  • author Elde Joyosemito
Menyeruput Kopi Sambil Menikmati Sejuknya Suasana dan Panorama Alam
Susana kafe yang berada di lingkungan pedesaan yang sejuk. (Foto: iNewsPurwokerto)

PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id — Menikmati secangkir kopi tidak selalu harus dilakukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan. 

Ada kalanya, secangkir kopi justru terasa lebih nikmat ketika ditemani udara sejuk dan panorama pegunungan yang membentang di kejauhan.

Suasana seperti itu menjadi salah satu daya tarik yang bisa dirasakan ketika berkunjung ke Digital Valley Cafe yang berlokasi di Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Banyumas.

Di tempat ini, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati kopi dan makanan, tetapi juga mencari ruang untuk bersantai sambil menikmati suasana sekitar.

Dari area cafe, alam dan megahnya Gunung Slamet menjadi salah satu panorama yang dapat melengkapi pengalaman ngopi, terutama ketika cuaca cerah. 

Pemandangan gunung yang menjulang di kejauhan membuat aktivitas sederhana seperti menyeruput kopi terasa memiliki pengalaman tersendiri.

Nuansa tersebut berpadu dengan rangkaian kegiatan grand opening Digital Valley Cafe yang digelar dalam Ethos Coffee Day, Sabtu (26/9/2026) malam. 

Acara itu tidak sekadar menjadi perkenalan tempat baru, tetapi juga menghadirkan kreativitas anak muda melalui kopi dan kuliner lokal.

Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah Ethos Coffee Pairing Competition. Para peserta tidak hanya menyajikan kopi, tetapi juga memasangkannya dengan makanan yang memiliki cerita dan karakter rasa masing-masing.

Tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut adalah “Merayakan Budaya Melalui Rasa dan Kreativitas”. Para peserta mempresentasikan minuman dan makanan yang mereka padukan sekaligus menjelaskan bahan, konsep, dan alasan di balik pemilihan menu.

Puput Ade Irawan dari Unsoed, misalnya, membawa konsep yang terinspirasi dari resep Hindia Belanda sekitar 200 tahun lalu. Ia menggunakan kopi Liberika Natural yang dipadukan dengan kapulaga, jahe, kayu manis, cengkeh, dan gula aren.

Perpaduan tersebut menghasilkan karakter rasa yang disebutnya warm, spicy, aromatic, dan sweet, dengan sentuhan rempah serta gula aren.

Peserta lain, Ivan W dari Purwokerto, memilih pisang sebagai bagian dari eksplorasi menu. Ia memadukan kopi Arabika Menghalu Natural Honey dengan buah pisang dalam kreasi cold banana coffee. Menurut Ivan, satu bahan dapat dikembangkan menjadi lebih dari satu sajian.

Sementara Haidar Muhammad Irfan Gading menghadirkan menu bernama “Saklawase”. Minumannya terinspirasi dari enting-enting gepuk khas Salatiga dan kemudian dipasangkan dengan getuk goreng khas Sokaraja.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Enting-enting gepuk merupakan jajanan yang memiliki kenangan tersendiri bagi Haidar sejak kecil. Begitu pula getuk goreng yang sudah akrab dengan kesehariannya.

“Menu ini, pertama, enting-enting gepuk, salah satu menu favorit saya dari kecil,” ujarnya. Ia menyebut kedua makanan tersebut menjadi bagian dari memori yang terus melekat hingga sekarang.

Di tengah udara yang sejuk, secangkir kopi dan sepiring kudapan lokal akhirnya bukan sekadar soal rasa. Ada suasana, pemandangan, sekaligus cerita yang ikut hadir dalam satu meja.

Apalagi ketika Gunung Slamet terlihat jelas di kejauhan. Momen seperti ini membuat cafe bukan hanya menjadi tempat untuk makan dan minum, tetapi juga ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan.

Kawasan Ethos Digital Valley (EDV) tidak hanya disiapkan sebagai ruang komersial, tetapi juga diarahkan menjadi tempat berkumpul, bertukar gagasan, serta mengembangkan kreativitas dan inovasi.

Chairman Ethos Kreatif Indonesia, Mukit Hendrayatno, mengatakan sejak awal kawasan tersebut dirancang sebagai ruang yang dapat mempertemukan berbagai gagasan dan potensi, termasuk dalam pengembangan bisnis dan teknologi.

Menurut Mukit, Ethos Digital Valley ke depan diharapkan berkembang menjadi ruang inkubasi bisnis. Kawasan yang awalnya dirancang seluas sekitar 5.000 meter persegi itu kini terus berkembang hingga diproyeksikan mencapai sekitar 2 hektare.

“Tempat ini saya yang milih. Yang awalnya 5.000 meter persegi, terus membengkak ya jadi mungkin 2 hektare kali ya. Mudah-mudahan nanti ke depan ini penginnya jadi inkubasi bisnis,” kata Mukit.

Salah satu konsep yang tengah dipikirkan adalah menggelar kompetisi di bidang teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kompetisi tersebut bahkan dibayangkan dapat menjangkau tingkat Jawa Tengah dan digelar di kawasan Ethos Digital Valley.

Konsep inkubasi teknologi yang disiapkan di Ethos Digital Valley diharapkan dapat menjadi salah satu ruang untuk menjawab tantangan perkembangan teknologi. Kolaborasi, pertukaran gagasan, dan pengembangan inovasi menjadi bagian dari konsep yang tengah dibangun.

Mukit mengatakan, dampak keberadaan Ethos Digital Valley kemungkinan baru akan terlihat dalam beberapa tahun mendatang. Ia berharap kawasan tersebut dapat berkembang menjadi salah satu titik penting bagi pertumbuhan kreativitas dan teknologi di Indonesia, khususnya di wilayah Selatan Jawa.

Sementara itu, Direktur Utama PT Ethos Kreatif Indonesia, Lucky Hatreztyo, mengatakan Ethos Digital Valley sejak awal diarahkan sebagai ruang berkumpul dan berbagi gagasan bagi masyarakat Banyumas Raya.

Menurut Lucky, kawasan tersebut dibangun dengan konsep creative hub yang manfaatnya tidak hanya ditujukan bagi perusahaan, tetapi juga masyarakat di luar lingkungan perusahaan.

“EDV ini dibangun untuk, awalnya memang untuk tadi dijelaskan Pak Mukit, tempat berkumpul, sharing ide, jadi creative hub,” ujar Lucky.

Karena itu, masyarakat yang memiliki kreativitas, gagasan, maupun kebutuhan untuk bertemu dan berkolaborasi diharapkan dapat memanfaatkan kawasan tersebut.

Konsep tersebut juga diterapkan melalui rancangan kawasan yang memadukan ruang kerja dengan ruang komunal. Di dalam kawasan Ethos Digital Valley terdapat ruang kerja, area komunal, hingga Pendopo Mandala Dharma yang menjadi bagian dari konsep pengembangan kawasan.

Editor: EldeJoyosemito

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut