Salat Istisqa Digelar di Sejumlah Titik di Kota Purwokerto, Ikhtiar Memohon Turunnya Hujan
PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id – Salat Istisqa digelar di sejumlah titik di Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, pada Senin (12/10/2026), sebagai ikhtiar doa memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang.
Ratusan umat Islam, mulai dari jajaran pemerintah daerah, masyarakat, hingga pelajar dan tenaga pendidik, mengikuti salat untuk memohon agar kekeringan segera berakhir.
Di Alun-Alun Purwokerto, salat diikuti jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), masyarakat, dan berbagai elemen umat Islam. Kegiatan serupa juga dilaksanakan secara serentak di sejumlah kompleks pendidikan Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto dengan melibatkan siswa jenjang SMP, SMA, dan MA.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas per 12 Oktober 2026, kekeringan telah melanda 91 desa/kelurahan yang tersebar di 24 kecamatan. Dampaknya, sebanyak 22.366 kepala keluarga (KK) atau 76.155 jiwa mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Pemkab Banyumas terus menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak. Di tengah upaya tersebut, pemerintah daerah bersama masyarakat juga memanjatkan doa melalui Salat Istisqa agar hujan segera turun.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan, kekeringan berkepanjangan menjadi keprihatinan bersama karena ketersediaan air sangat penting bagi kehidupan masyarakat, mulai dari kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga berbagai aktivitas lainnya.
“Melalui Salat Istisqa ini, kita berikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan atas segala kekhilafan, sekaligus memohon agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua,” kata Sadewo.
Dia berharap doa yang dipanjatkan bersama dapat dikabulkan sehingga hujan segera turun dengan cukup, membawa kesejukan dan keberkahan, serta menjauhkan Banyumas dari berbagai musibah dan bencana.
Sadewo juga menyampaikan apresiasi kepada para ulama, tokoh agama, dan masyarakat yang turut mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kebersamaan dan keikhlasan dalam menghadapi kemarau menjadi bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan Banyumas yang semakin produktif, adil, dan sejahtera.
Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Banyumas turut menggerakkan masyarakat untuk mengikuti Salat Istisqa. Nur Hidayah, warga Tanjung, Purwokerto, mengaku tergerak secara nurani untuk ikut berdoa agar hujan segera turun.
Dia prihatin karena kemarau yang berlangsung lama membuat sebagian warga kesulitan memperoleh air bersih. Meski tempat tinggalnya masih memiliki persediaan air yang cukup, dia menyadari banyak masyarakat di wilayah lain yang harus mengandalkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Karena tahun ini musim kemaraunya lama banget, hujan juga belum turun-turun,” ujarnya.
Nur mengatakan, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang tidak selalu mudah diperoleh semua orang. Dia juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang dinilai masih kurang bijak dalam menggunakan air.
“Kadang ada yang mengisi bak air di penampungan sampai meluap, minum kalau tidak habis dibuang begitu saja. Ternyata masih banyak orang-orang yang butuh air untuk kehidupan. Harus menunggu bantuan air dulu, harus jalan berpuluh-puluh kilometer untuk mencari sumber air,” tuturnya.
Dia berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya menghemat air, terutama ketika kemarau berkepanjangan membuat persediaan air bersih semakin terbatas.
Keluhan serupa disampaikan Ade, warga Purwokerto Timur. Dia mengatakan, kemarau di wilayah tempat tinggalnya telah berlangsung lebih dari enam bulan. Hujan memang sempat turun, tetapi hanya sebentar sehingga belum cukup membantu memulihkan ketersediaan air.
Menurut Ade, sejumlah wilayah di sekitar tempat tinggalnya mulai mengalami keterbatasan air bersih. Sebagian warga telah menerima bantuan dari pemerintah, sedangkan lainnya meminta air kepada kerabat yang masih memiliki persediaan.
“Saya melihat di kelurahan sebelah sudah mulai ada yang mendapat bantuan air dari pemerintah. Ada juga warga yang kekurangan air meminta kepada saudara yang masih memiliki persediaan air. Saya melihat kondisi di sekitar kita cukup memprihatinkan. Panas juga terasa, kemudian kondisi pertanian dan air retensi mulai menyusut,” ujar Ade.
Dia berharap hujan segera turun di Banyumas sehingga masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih dan lahan pertanian dapat kembali memperoleh pasokan air.
Dampak kekeringan juga dirasakan Siti, pelajar SMA Negeri 1 Purwokerto yang tinggal di Desa Datar, Kecamatan Sumbang. Dia mengatakan, ketersediaan air di lingkungannya mulai terganggu. Air terkadang kotor dan tidak mengalir sehingga warga harus mencari sumber air alternatif.
“Kalau di tempat saya, di Sumbang Datar, terjadi kekeringan. Terkadang airnya kotor dan juga tidak mengalir. Jadi, kami harus mengambil air dari rumah tetangga, toren, ataupun sumur,” katanya.
Kekeringan juga berdampak pada lahan pertanian di wilayah tersebut. Sejumlah sawah mulai mengering sehingga pertumbuhan tanaman padi tidak optimal.
“Sawahnya juga terkadang sudah sangat kering sehingga menyebabkan padi sulit tumbuh dengan subur di lingkungan saya,” ujar Siti.
Selain di Alun-Alun Purwokerto, Salat Istisqa digelar serentak oleh Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto di tiga lokasi, yakni Sport Center kompleks SMP–SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, Sport Center Al Irsyad Al Islamiyyah Boarding School (AABS) Putra, serta lapangan SMA AABS Putri.
Kegiatan tersebut melibatkan siswa, guru, dan tenaga kependidikan. Pelaksanaan Salat Istisqa merupakan tindak lanjut arahan Lajnah Pendidikan Menengah (LPM) Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto melalui surat pemberitahuan tertanggal 9 Oktober 2026.
Di kompleks SMP–SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, salat dipimpin Ustaz Dr. Darsitun sebagai imam, kemudian dilanjutkan khutbah oleh Ustaz Dr Rofik Anhar dari Lajnah Dakwah dan Kaderisasi.
Sementara itu, pelaksanaan di lingkungan AABS Putra dan Putri dilakukan secara terpisah. Kegiatan diawali dengan pembekalan mengenai tata cara serta hikmah Salat Istisqa kepada para siswa.
Ketua LPM Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, Ustaz Fahmi Abdul Karim Altway, mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana ibadah bersama, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter spiritual bagi peserta didik.
“Melalui Salat Istisqa ini, kami ingin menanamkan kepada para siswa bahwa setiap persoalan kehidupan harus dihadapi dengan ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah SWT. Di tengah kondisi kemarau yang berkepanjangan, kita memohon agar Allah menurunkan hujan yang membawa rahmat dan keberkahan. Ini sekaligus menjadi pembelajaran nyata bagi siswa untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Fahmi.
Menurut dia, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu membangun kesadaran spiritual, kepedulian terhadap lingkungan, dan kepekaan terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Kepala SMA AABS Purwokerto, Ustaz Eko Suwardi menambahkan, keterlibatan siswa dalam Salat Istisqa menjadi bagian dari pembelajaran agama yang diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin siswa tidak hanya memahami Salat Istisqa melalui teori di kelas, tetapi juga merasakan langsung bagaimana umat Islam diajarkan untuk merespons keadaan dengan doa dan penghambaan kepada Allah SWT,” katanya.
Editor: EldeJoyosemito