Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Jejak Sejarah Stasiun Gombong, Simpul Transportasi KA Sejak 1887
Advertisement . Scroll to see content

Jejak Maestro Raden Soetedjo di Balik Lagu Penyambut Kereta Berjudul Di Tepinya Sungai Serayu

Rabu, 21 Oktober 2026 | 12:15 WIB
  • author Elde Joyosemito
Jejak Maestro Raden Soetedjo di Balik Lagu Penyambut Kereta Berjudul Di Tepinya Sungai Serayu
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto meresmikan patung Raden Soetedjo di area boarding Stasiun Purwokerto, Rabu (21/10/2026). (Foto: iNewsPurwokerto)

PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id – Ada yang akrab di telinga setiap kali kereta api tiba di stasiun-stasiun wilayah Daerah Operasi (Daop) 5 Purwokerto. 

Di antara suara pengumuman perjalanan, deru lokomotif, dan langkah penumpang yang bergegas menuju peron, mengalun sebuah lagu berjudul Di Tepinya Sungai Serayu.

Bagi sebagian orang, lagu itu mungkin hanya penanda kedatangan kereta. Namun, bagi masyarakat Banyumas, alunan tersebut menyimpan cerita tentang seorang maestro musik yang karyanya melintasi zaman yakni Raden Soetedjo.

Selama puluhan tahun, lagu tersebut menjadi bagian dari pengalaman perjalanan penumpang kereta api di wilayah Daop 5 Purwokerto. Tidak semua orang yang mendengarnya mengetahui siapa penciptanya, apalagi perjalanan panjang sang komponis dalam mengabdikan hidupnya kepada musik.

Kini, sosok Raden Soetedjo mendapat ruang tersendiri di tempat yang selama ini akrab dengan karyanya. PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 5 Purwokerto meresmikan patung Raden Soetedjo di area boarding Stasiun Purwokerto, Rabu (21/10/2026).

Patung itu bukan sekadar penghias ruang publik. Kehadirannya menjadi bentuk penghormatan kepada maestro musik asal Banyumas tersebut, sekaligus ungkapan terima kasih kepada keluarga dan ahli warisnya yang selama ini tidak menarik royalti atas penggunaan lagu Di Tepinya Sungai Serayu sebagai bel kedatangan kereta api.

Di tengah mobilitas ribuan penumpang, patung itu diharapkan menjadi pengingat bahwa sebuah lagu dapat menyimpan identitas daerah dan menghubungkan masyarakat dengan sejarah yang mungkin perlahan terlupakan.

Dari Banyumas, Mengabdikan Hidup untuk Musik

Raden Soetedjo lahir di Banyumas pada 15 Oktober 1909. Ayah kandungnya bernama Poerwadibroto. Namun, ia kemudian diasuh oleh pamannya, Raden Soemandar, yang bekerja sebagai pegawai pabrik gula Klampok di Distrik Purwareja Banyumas, wilayah yang kini masuk Kabupaten Banjarnegara.

Sejak muda, Soetedjo memiliki cita-cita mengabdikan hidupnya pada musik. Keinginan itu membawanya menempuh pendidikan musik di Konservatori Musik Roma, Italia. Pengalaman belajar di luar negeri memperluas wawasannya dan turut membentuk kemampuannya sebagai komponis.

Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa musik bukan sekadar kegemaran, melainkan bidang yang digelutinya secara serius. Ia menghasilkan berbagai karya, mulai dari Di Tepinya Sungai Serayu, Tidurlah Intan, Melati Pesanku, Selamat Berjuang, Keroncong Senja, Hamba Menyanyi, hingga Juwita Malam.

Di antara karya-karya tersebut, Di Tepinya Sungai Serayu memiliki perjalanan yang istimewa. Lagu itu tidak hanya dikenal sebagai bagian dari khazanah musik Banyumas, tetapi juga hadir berulang kali dalam kehidupan masyarakat melalui pengeras suara stasiun kereta api.

Setiap kali kereta tiba, lagu tersebut kembali terdengar. Bagi penumpang yang rutin bepergian melalui Purwokerto, alunannya dapat menjadi penanda bahwa perjalanan telah sampai di salah satu simpul transportasi penting di Jawa Tengah bagian selatan.

Tanpa harus mengenal riwayat penciptanya, masyarakat telah lebih dahulu akrab dengan karyanya.

Menjadi Bagian dari Sejarah Musik Indonesia

Pengabdian Raden Soetedjo tidak berhenti pada penciptaan lagu. Pada 1946, ia tercatat menjabat sebagai Direktur Musik Radio Republik Indonesia (RRI) Purwokerto. Posisi tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam perkembangan musik melalui lembaga penyiaran pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Dua tahun kemudian, pada 1948, Soetedjo memelopori berdirinya Orkes Studio Djakarta (OSD). Orkes tersebut terlibat dalam perekaman lagu kebangsaan Indonesia Raya dan menjadi cikal bakal Jakarta Philharmonic Orchestra.

Pada 1950, ia juga bergabung dengan Korps Musik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Atas pengabdiannya, Soetedjo memperoleh pangkat kehormatan Letnan Muda Udara I AURI.

Pengakuan terhadap kiprahnya terus berlanjut. Pada 1968, ia menerima penghargaan di bidang seni dari Gubernur Jakarta Ali Sadikin.

Soetedjo meninggal dunia di Jakarta pada 12 April 1960 dalam usia 50 tahun dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet, Jakarta.

Meski telah lama berpulang, namanya tetap hidup melalui karya-karya musiknya. Di Banyumas, namanya juga diabadikan menjadi Taman Budaya Soetedja, sebuah pengingat bahwa daerah tersebut memiliki tokoh seni yang turut mewarnai perjalanan musik Indonesia.

Apresiasi untuk Warisan yang Tetap Hidup

Bagi PT KAI Daop 5 Purwokerto, peresmian patung Raden Soetedjo merupakan bagian dari upaya memberikan penghargaan kepada seniman daerah yang karyanya telah menjadi bagian dari pengalaman perjalanan pelanggan.

Vice President KAI Daop 5 Purwokerto, Rangga Putra Maulana, mengatakan lagu Di Tepinya Sungai Serayu mempunyai arti lebih dari sekadar penanda kedatangan kereta api.

“Bagi kami, lagu ‘Di Tepinya Sungai Serayu’ bukan sekadar penanda kedatangan kereta api di Stasiun Purwokerto. Lagu ini telah menjadi bagian dari identitas dan pengalaman perjalanan masyarakat. Kami sangat menghargai keputusan keluarga dan ahli waris Raden Soetedjo yang tidak menarik royalti atas penggunaan lagu tersebut. Patung Raden Soetedjo ini menjadi bentuk apresiasi kami atas kebaikan hati dan kontribusi keluarga dalam menjaga warisan budaya Banyumas,” ujar Rangga.

Menurut dia, keberadaan patung tersebut juga diharapkan memperkenalkan sosok Raden Soetedjo kepada generasi muda dan para pengguna jasa kereta api yang datang dari berbagai daerah.

Stasiun, kata Rangga, merupakan ruang pertemuan masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Karena itu, ruang publik tersebut dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk menunjang mobilitas, tetapi juga untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan daerah.

“Stasiun merupakan ruang pertemuan masyarakat dari berbagai latar belakang. Kami berharap Patung Raden Soetedjo dapat menjadi tempat untuk mengenal lebih dekat tokoh seni Banyumas dan mengingat bahwa karya budaya memiliki nilai yang melampaui zamannya,” tambahnya.

Pembangunan patung tersebut merupakan bagian dari Program Bantuan Bina Lingkungan 2026 yang dilaksanakan melalui kerja sama KAI Daop 5 Purwokerto dengan Yayasan Lestari Banjoemas Raya (YLBR).

Pengerjaannya melibatkan sejumlah pekerja seni. Septian Puji Andriyanto, pematung asal Magelang, terlibat dalam pengerjaan elemen patung. Sementara itu, Jatmiko Wicaksono, dosen STIKOM Yogyakarta, berperan dalam penataan desain artistik.

Area tersebut juga dilengkapi biografi singkat Raden Soetedjo serta replika biola Stradivarius Paganini yang dibuat oleh perajin alat musik asal Banyumas, Sugeng Riyanto.

Kehadiran biografi dan replika alat musik itu diharapkan membantu pengunjung mengenal lebih jauh sosok Raden Soetedjo, perjalanan hidupnya, dan kiprahnya dalam dunia musik.

Keluarga Terharu, Nama Leluhur Kembali Dikenang

Bagi keluarga, penghormatan yang diberikan KAI menjadi momen emosional. Perwakilan keluarga dan ahli waris Raden Soetedjo, Artika Mantaram, mengaku terharu atas perhatian yang diberikan kepada leluhurnya.

“Kami sekeluarga merasa sangat terharu dan berterima kasih atas apresiasi yang diberikan KAI kepada Raden Soetedjo. Bagi keluarga, karya beliau merupakan bagian dari warisan budaya yang patut terus dikenang. Kami berharap keberadaan sudut ini dapat membuat masyarakat semakin mengenal sosok beliau dan mencintai musik serta kebudayaan Banyumas,” ungkap Artika.

Keputusan keluarga untuk tidak menarik royalti atas penggunaan Di Tepinya Sungai Serayu selama ini turut menjaga kedekatan lagu tersebut dengan kehidupan masyarakat. Alunannya terus hadir dalam rutinitas perjalanan, menemani penumpang yang datang maupun mereka yang hendak melanjutkan perjalanan.

Kini, apresiasi melalui patung menjadi bentuk lain dari upaya menjaga ingatan tentang sang komponis. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak mengenal lagu ciptaannya, keberadaan patung dan biografi di Stasiun Purwokerto membuka kesempatan untuk mengenal pula sosok di balik melodi tersebut.

KAI Daop 5 Purwokerto dan YLBR berharap kolaborasi antara dunia transportasi, komunitas pelestari sejarah, keluarga seniman, dan pekerja seni dapat terus berkembang. Pelestarian budaya, melalui langkah semacam ini, membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar warisan seni daerah tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.

Pada akhirnya, perjalanan kereta api bukan hanya tentang keberangkatan dan kedatangan. Ada pula cerita tentang tempat, manusia, dan kebudayaan yang menyertainya.

Di Stasiun Purwokerto, Di Tepinya Sungai Serayu akan terus mengalun sebagai penanda kedatangan kereta. Sementara itu, patung Raden Soetedjo menjadi pengingat bahwa di balik lagu yang akrab di telinga penumpang, ada seorang komponis asal Banyumas yang telah meninggalkan jejak panjang dalam sejarah musik Indonesia.

Editor: EldeJoyosemito

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut