Mie Mbah Tusiyem, Kuliner Legendaris Ambal Kebumen yang Bertahan Sejak 1973
KEBUMEN, iNewsPurwokerto.id – Jika dari Purwokerto ke Yogyakarta atau sebaliknya melalui jalur pantai selatan (pansela) dan lewat Ambal, jangan lupa cicipi Mie Mbah Tusiyem.
Di Desa Pucangan, Kecamatan Ambal inilah warung bakmi Jawa yang telah bertahan lebih dari lima dekade. Kuliner tradisional ini tetap mempertahankan cita rasa racikan bumbu warisan pendirinya.
Warung yang mulai beroperasi sekitar 1973 itu menjadi salah satu tujuan pencinta kuliner.
Pengunjungnya tidak hanya berasal dari wilayah Kebumen, tetapi juga dari luar daerah. Sebagian bahkan menyempatkan diri mampir ketika pulang kampung atau melintas di jalur Ambal.
Lokasinya memang tidak berada di tepi jalan utama. Pengunjung harus masuk ke kawasan perkampungan Desa Pucangan, tepatnya di RT 01 RW 04. Dari ruas jalan Kutowinangun-Ambal, akses menuju warung berada di sebelah barat sebelum Polsek Ambal.
Meski agak tersembunyi, lokasi warung kini lebih mudah ditemukan melalui aplikasi peta digital. Halaman rumah yang cukup luas dengan pepohonan rindang menjadi ciri khas tempat makan tersebut.
Suasananya jauh dari kesan rumah makan modern. Warung Mbah Tusiyem justru menempati bangunan rumah bergaya pedesaan yang sederhana. Pengunjung bisa menikmati hidangan di tengah suasana kampung yang teduh dengan semilir angin tanpa pendingin ruangan.
Menu andalannya adalah bakmi Jawa yang tersedia dalam dua pilihan, yakni bakmi goreng dan bakmi kuah. Selain itu, tersedia ayam goreng kampung sebagai menu pelengkap.
Sajian bakmi kuah menjadi salah satu pilihan yang menggugah selera. Aroma kaldu ayam langsung tercium ketika mangkuk dihidangkan di meja. Mi kuning disajikan bersama suwiran ayam kampung, irisan seledri, dan taburan bawang goreng yang melimpah.
Kuahnya terasa gurih dengan perpaduan kaldu ayam dan rempah tradisional. Sementara tekstur mi yang kenyal dan lembut berpadu dengan suwiran ayam kampung sehingga menghasilkan cita rasa khas bakmi Jawa rumahan.
Keistimewaan lainnya terletak pada ayam goreng kampung. Bumbu yang digunakan tidak berlebihan sehingga cita rasa alami daging ayam tetap terasa. Hidangan ini semakin nikmat disantap bersama sambal korek berbahan cabai merah yang disajikan dalam wadah gerabah.
Bagi pengunjung, perpaduan bakmi dan ayam goreng kampung tersebut menghadirkan sensasi masakan rumahan yang akrab di lidah. Sebagai pelengkap, tersedia pula emping melinjo dan beragam kerupuk khas yang bisa dinikmati bersama hidangan utama.
Anak perempuan Mbah Tusiyem yang kini meneruskan usaha keluarga mengatakan, resep bakmi tersebut masih mengikuti racikan pendirinya. Mereka tidak banyak mengubah komposisi bumbu yang menjadi ciri khas warung itu.
Dia hanya melanjutkan resep bumbu dari Mbah Tusiyem, tidak banyak bumbu selain rempah khas Jawa dan ayam kampung.
Kesederhanaan juga terlihat dari penyajian dan suasana tempat makan. Dari luar, warung ini lebih menyerupai rumah warga biasa daripada restoran. Sejumlah kendaraan pengunjung yang terparkir di halaman menjadi salah satu petunjuk bahwa rumah tersebut merupakan tujuan kuliner.
Setelah menikmati bakmi atau ayam goreng, pengunjung juga bisa memesan teh manis panas yang disajikan dengan cita rasa khas teh Jawa, yakni panas, legi, dan kenthel. Rasa tehnya pekat dengan sensasi sepat yang mengingatkan pada teh tradisional.
Keberadaan Mie Mbah Tusiyem menjadi bukti bahwa kuliner tradisional dapat bertahan di tengah perubahan zaman.
Dengan tetap menjaga resep warisan keluarga dan suasana pedesaan, warung sederhana di Desa Pucangan ini terus menjadi tempat singgah bagi pencinta bakmi Jawa yang ingin menikmati masakan dengan cita rasa rumahan.
Editor: EldeJoyosemito