Komunitas Dharma Bhakti Patanjala Gelar Konservasi Mata Air Berbasis Budaya

Elde Joyosemito
Upaya pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal digelar Komunitas Dharma Bhakti Patanjala, PPA Gasda, Pemdes Talagening, dan Komunitas Talasena. (Foto: Istimewa)

PURBALINGGA, iNewsPurwokerto.id - Upaya pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal dilakukan melalui kolaborasi empat pilar masyarakat, yakni Komunitas Dharma Bhakti Patanjala, PPA Gasda, Pemerintah Desa Talagening, dan Komunitas Talasena. 

Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam kegiatan Konservasi Mata Air Berbasis Budaya yang digelar pada Minggu (11/1/2026) di Kompleks Lembah Watu Sanggar, Desa Talagening, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga.

Kegiatan ini tidak berhenti pada agenda seremonial penanaman pohon. Lebih dari itu, inisiatif tersebut dirancang sebagai langkah strategis untuk membangun model konservasi terpadu yang menggabungkan pemulihan ekologi hutan dengan penguatan nilai-nilai kearifan lokal yang telah mengakar di masyarakat.

Pemilihan Kompleks Lembah Watu Sanggar sebagai lokasi kegiatan dinilai memiliki nilai historis dan filosofis yang kuat. 

Kawasan ini diyakini menjadi titik pertemuan dua peradaban besar Nusantara, yakni Kalingga di wilayah utara dan Galuh di selatan.
Kedua peradaban tersebut dikenal memiliki tradisi panjang dalam menjaga harmoni dengan alam, khususnya sumber air. 

Di Desa Talagening, jejak sejarah dan ekologi itu kembali dihidupkan melalui penanaman pohon endemik yang disertai ritual budaya dan pertunjukan seni sebagai simbol penghormatan terhadap alam.

Kegiatan ini dihadiri Asisten II Sekda Purbalingga Mukodam, anggota DPRD Dapil 3 dari Fraksi PKB dan Gerindra, serta perwakilan dari Perhutani, Perbakin, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pertanian, dan unsur Forkompicam Bobotsari.

Partisipasi juga datang dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar SMP hingga SMA/SMK, Karang Taruna, perguruan pencak silat Merpati Putih, hingga para pegiat seni dan budaya.

Mukodam menegaskan pentingnya sinergi lintas elemen dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Kolaborasi antara pegiat pecinta alam, pelaku budaya, pemerintah daerah, DPRD, serta masyarakat menjadi kunci keberhasilan konservasi. Mata air dan hutan ini harus dijaga bukan hanya untuk saat ini, tetapi sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang. Kepedulian terhadap alam dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya,” ujarnya.

Selain fokus pada pemulihan ekosistem hutan dan mata air, kegiatan ini juga dirangkai dengan aksi sosial berupa layanan pengobatan gratis dan donor darah bagi warga sekitar. 

Program tersebut terlaksana berkat dukungan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Persatuan Apoteker Seluruh Indonesia (PASI), kader kesehatan desa, serta Palang Merah Indonesia (PMI) Purbalingga.

Melalui kegiatan ini, para penyelenggara menargetkan tiga capaian utama, yakni pelestarian sumber mata air berbasis kearifan lokal, pemulihan ekosistem dengan keterlibatan aktif masyarakat, serta penguatan posisi Desa Talagening sebagai contoh model konservasi yang menghargai warisan budaya peradaban Kalingga dan Galuh.

Editor : EldeJoyosemito

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network