PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id - Tidak hanya menyeramkan dan menegangkan, film horor Pocong Merah yang diputar perdana di Rajawali Cinema dan CGV Rita Supermall Purwokerto membawa pesan moral kuat bagi penonton agar tidak mudah menuduh tanpa bukti karena dapat berakibat fatal.
Antusiasme masyarakat Banyumas, Jawa Tengah, terlihat jelas dalam roadshow perdana yang digelar Kamis (19/2/2026). Sekitar 400 penonton hadir memadati dua bioskop tersebut. Kehadiran langsung para pemain dan tim produksi semakin menyemarakkan suasana.
Debut pertama sutradara Hendra Lee ini pun mendapat perhatian luas. Usai penayangan, para pemeran langsung diserbu penonton untuk berfoto bersama. Tampak hadir artis Adinda Halona, Leoni Winar, Nabila Aurora, serta aktor Ferdian Ariyadi, Ahmad Pule, dan Yogi Wanner. Sejumlah pemain pendukung lainnya juga turut hadir menyapa penonton.
Sebelum film diputar, Hendra Lee bersama para pemain dan tim promosi menyempatkan diri menyapa penonton secara langsung. Ia mengungkapkan bahwa Pocong Merah terinspirasi dari kisah yang disebut terjadi di Tanah Jawa, tentang seorang perempuan yang dituduh sebagai dukun santet hingga mengalami kekerasan dan kematian tragis.
“Warna merahnya bukan karena kain kafannya merah, tetapi kain putih yang berlumuran darah. Karena tubuh pemeran dukun santet dalam film ini dimutilasi, darahnya bercucuran. Dari situlah muncul sebutan Pocong Merah,” jelas Hendra.
Film ini mengisahkan Katiyem yang berusaha mencari kebenaran atas kematian tragisnya. Mengusung dua latar waktu, era 1990-an dan masa kini, cerita bermula saat Katiyem dituduh sebagai dukun santet dan dieksekusi secara brutal oleh warga. Aryo, anak Katiyem, kemudian secara diam-diam melakukan ritual untuk menghidupkan kembali arwah ibunya demi membalas dendam.
Yogi Wanner yang memerankan tokoh Aryo mengaku menghadapi berbagai tantangan selama proses syuting. “Lokasi hutan yang licin karena hujan. Tetapi ini yang menarik dan membuat kami semakin tertantang untuk memaksimalkan peran,” ujarnya.
Seluruh proses syuting dilakukan 100 persen di Banyumas. Hendra Lee yang merupakan putra daerah setempat mengaku sengaja memilih Purwokerto sebagai lokasi roadshow perdana. “Saya orang sini dan syutingnya di sini. Jadi kami berharap masyarakat Banyumas bisa menerima film ini dengan baik sebelum melangkah ke kota-kota lain,” ujarnya. Ia juga dikenal sebagai pengagum aktor laga Bruce Lee.
Proses produksi film ini memakan waktu sekitar lima bulan, meliputi satu bulan pengembangan skenario, 10 hari syuting di tengah musim hujan, serta sekitar tiga bulan proses penyuntingan.
Selain menyuguhkan ketegangan horor, film ini dinilai sarat pesan moral. Sejumlah penonton mengaku terkesan karena cerita tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dan melakukan tuduhan tanpa klarifikasi.
Sementara itu, Adi Mulyadi selaku Marcom Checklist Cinema yang memproduksi film ini menjelaskan, strategi promosi dimulai dari Purwokerto sebagai basis pasar utama. Menurutnya, latar lokasi, keterlibatan talenta lokal, serta figur sutradara menjadi potensi besar untuk menarik minat penonton Banyumas.
“Saya berharap penayangan pertama ini bisa diterima masyarakat Purwokerto, lalu berkembang ke kota-kota lain,” ujarnya optimistis.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
