Dia pernah menjadi buruh bangunan, merawat mesin di tempat penyewaan PlayStation, hingga mengantar koran pada sore hari di kawasan Patikraja. Malam harinya digunakan untuk belajar materi akademik dan mempersiapkan tes psikologi.
"Masa nganggur satu tahun itu banyak sekali hikmahnya. Saya pernah jadi buruh bangunan, selepas bekerja sore harinya lanjut lagi jadi loper koran mengantar pesanan di daerah Patikraja. Malamnya baru belajar akademik dan tes psikologi," kenang Aries.
Pengalaman bekerja keras demi memperoleh penghasilan sederhana itu menjadi bekal mental yang sangat berarti ketika akhirnya diterima sebagai taruna Akademi Militer pada 2003.
Menurut Aries, kerasnya kehidupan sebelum masuk militer justru membuatnya mampu bertahan menghadapi pendidikan yang terkenal penuh disiplin dan tekanan.
"Perubahan dari sipil ke militer itu sulit sekali. Tapi yang membuat saya tegar, ya karena ingat satu tahun mencari uang itu susah. Kalau sampai menyerah dan balik kanan, orang tua saya pasti menangis sedih," ujarnya.
Lulus dari Akademi Militer, penugasan pertama membawanya ke Papua. Selama 11 tahun ia mengabdi di berbagai wilayah di Bumi Cenderawasih. Pengalaman panjang itu kemudian berlanjut di Bandung sebelum akhirnya kembali ke Banyumas sebagai Wakil Komandan Batalyon Infanteri 405/Suryakusuma.
Kepulangannya ke tanah kelahiran menghadirkan momen yang paling berharga dalam hidupnya. Ia memiliki kesempatan mendampingi sang ayah yang sedang sakit hingga mengembuskan napas terakhir.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
