Adapun di Cilacap, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat deflasi 1,07 persen dengan kontribusi minus 0,35 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami deflasi 0,56 persen dengan andil minus 0,04 persen. Sementara itu, kelompok transportasi masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di kedua wilayah tersebut.
Selama Juli 2026, berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Program tersebut diwujudkan antara lain melalui penyelenggaraan Pasar Murah Inflasi Banyumas (SARAHSIMAS), pasar murah dalam rangka kegiatan TMMD Sengkuyung Tahap III, hingga pendampingan kepada petani untuk meningkatkan produktivitas pangan.
Selain itu, TPID Kabupaten Banyumas juga menggelar High Level Meeting (HLM) untuk mengantisipasi dampak musim kemarau dan potensi El Nino terhadap ketersediaan pangan. Koordinasi rutin bersama pedagang besar, asosiasi, kelompok tani, serta penguatan komunikasi publik melalui media dan pengembangan jaringan distribusi pangan melalui toko tani juga terus dilakukan guna menjaga stabilitas harga.
Aswin menegaskan, BI bersama TPID akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi yang efektif kepada masyarakat.
"Ke depan kami akan terus memperkuat implementasi strategi 4K melalui GPIPS agar stabilitas harga tetap terjaga, pasokan pangan tersedia, distribusi berjalan lancar, dan inflasi Banyumas Raya tetap berada dalam sasaran nasional," kata Aswin.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
