Sidat Jadi Komoditas Andalan Ubah Desa yang Awalnya Miskin untuk Lebih Berdaya

Elde Joyosemito
Ikan sidat (Anguilla bicolor) yang selama ini dikenal sebagai komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi perlahan mengubah cara warga melihat potensi desa. (Foto: iNewsPurwokerto)

CILACAP, iNewsPurwokerto.id - Dari aliran Sungai Citanduy, harapan baru tumbuh di Desa Sidamukti, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Ikan sidat (Anguilla bicolor) yang selama ini dikenal sebagai komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi perlahan mengubah cara warga melihat potensi desa mereka.

Di tangan mereka, sidat tak lagi sekadar ikan yang dijual dalam kondisi segar. Komoditas tersebut dikembangkan melalui budidaya, kemudian diolah menjadi berbagai produk pangan seperti abon, sambal, hingga kerupuk.

Bagi masyarakat Sidamukti yang sebagian besar menggantungkan hidup sebagai buruh tani, budidaya sidat menjadi alternatif sumber penghasilan sekaligus pintu masuk menuju pemberdayaan ekonomi desa.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Pur 123 Indah Jaya, Misbah, mengatakan pengembangan sidat berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

"Saya itu adalah orang yang tidak bisa. Karena warga saya itu warga masyarakat desa, khususnya Desa Sidamukti itu orangnya adalah petani buruh. Kehidupannya sengsara, sehingga kami akan berusaha," tutur Misbah, pekan lalu.

Potensi sidat di Sidamukti tidak muncul begitu saja. Desa tersebut berada di kawasan yang dilalui Sungai Citanduy, sungai yang membentang di wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Sidat memiliki siklus hidup yang unik. Ikan ini berkembang biak di laut dan kemudian bermigrasi menuju perairan sungai untuk tumbuh. Kondisi tersebut membuat kawasan Sungai Citanduy menjadi salah satu habitat yang memiliki potensi sidat.

Warga Sidamukti tidak melakukan pemijahan sendiri. Bibit sidat yang diperoleh kemudian dipelihara dalam kolam pembesaran hingga mencapai ukuran ekonomis.

Proses tersebut bukan pekerjaan mudah. Terlebih ketika bibit masih berukuran kecil dan membutuhkan perawatan lebih telaten dibandingkan sejumlah jenis ikan konsumsi lainnya.

Namun, ketekunan warga perlahan menunjukkan hasil. Dari bibit sekitar 82 kilogram, kelompok mampu mengembangkan biomassa sidat hingga mencapai 283 kilogram.

Ukuran panen yang dibidik pun cukup spesifik, yakni satu kilogram berisi sekitar empat ekor sidat.

Sembilan Bulan Menunggu, Harga Sidat Menggiurkan

Budidaya sidat membutuhkan kesabaran. Ikan tersebut baru dapat dipanen setelah melalui masa pembesaran sekitar sembilan bulan.

" Sembilan bulan sekali panennya. Enggak kayak lele, ya. Kalau lele kan tiga bulan sekali. Kalau sidat ini istimewa, sembilan bulan sekali," kata Community Development Officer (CDO) PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Lomanis, Ita Puspitasari.

Waktu pemeliharaan yang panjang tersebut sebanding dengan nilai ekonomi yang dihasilkan. Sidat hasil budidaya warga dapat dijual dengan harga sekitar Rp165 ribu per kilogram.

Pada panen perdana, kelompok mampu menghasilkan sekitar 250 kilogram sidat. Hasil panen tersebut langsung dibeli koperasi mitra untuk selanjutnya dipasarkan.

"Karena kita kerja sama dengan koperasi, jadi hasilnya itu langsung diambil koperasi, langsung dibeli koperasi," ujar Ita.

Pasar sidat juga cukup menjanjikan. Komoditas ini memiliki permintaan dari pasar luar negeri, salah satunya Jepang.

Namun, warga tidak ingin berhenti pada penjualan ikan segar.

Ketika Sidat Menjelma Abon dan Sambal

Dari kolam pembesaran, perjalanan sidat berlanjut ke dapur-dapur warga. Ikan yang tidak terserap pasar segar diolah menjadi produk pangan dengan nilai jual yang lebih tinggi.

"Jadi kalau sidat adalah satu, itu jadi abon sidat. Kedua, ada abon kayabaki. Yang ketiga, kepala sidat menjadi kerupuk sidat. Yang berikutnya menjadi sambal sidat," kata Misbah.

Pengolahan tersebut membuat nilai ekonomi sidat menjadi lebih panjang. Ikan yang sebelumnya hanya bernilai ketika dijual dalam kondisi segar kini dapat menghasilkan produk turunan.

Langkah tersebut juga membuka ruang keterlibatan lebih banyak warga, terutama dalam proses pengolahan dan produksi makanan.

Pertamina kemudian mendorong pengembangan program tersebut agar tidak berhenti pada budidaya.

Pada 2025, pengolahan sidat mulai dikembangkan lebih serius. Abon, sambal, dan kerupuk menjadi sejumlah produk yang dihasilkan masyarakat.

"Nah, tahun 2025 kami juga mengembangkan selain budidaya ikan sidat, kita pengolahannya juga. Pengolahannya itu ikan sidat kita jadikan abon, lalu kita jadikan sambal, dan juga kerupuk," tutur Ita.

Berawal dari Desa Miskin

Program pemberdayaan tersebut tidak terlepas dari kondisi sosial ekonomi masyarakat Sidamukti. Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Lomanis melihat potensi sidat sekaligus persoalan kesejahteraan warga.

Ita mengatakan Sidamukti sebelumnya termasuk desa dengan tingkat kemiskinan cukup tinggi di Cilacap. Pada saat program dirancang, sekitar 34 persen warga disebut berada dalam kondisi menganggur dan terjerat kemiskinan.

"Dari program ini sendiri karena memang dulu di sini di Desa Sidamukti adalah termasuk desa miskin di Cilacap. Jadi hampir 34 persen waktu itu Desa Sidamukti warganya pengangguran dan juga terjerat dalam kemiskinan," kata Ita.

Keberadaan Sungai Citanduy kemudian menjadi salah satu alasan sidat dipilih sebagai komoditas pemberdayaan.

"Karena memang di sini dilalui Sungai Citanduy. Sungai Citanduy ini habitat di mana ikan sidat bertelur," ujarnya.

Pada 2024, Pertamina mulai memberikan fasilitas kolam pembesaran sekaligus pelatihan kepada warga. Pendampingan dilakukan dengan menggandeng Koperasi Mina Sidat yang memiliki pengalaman dalam budidaya komoditas tersebut.

"Sebelumnya itu masyarakat di sini sama sekali tidak tahu cara budidaya ikan sidat. Jadi dari Pertamina kita kasih fasilitas kolam, lalu kita kasih juga pelatihan," jelas Ita.

Tak Berhenti di Kolam

Program pemberdayaan sidat di Sidamukti kini diarahkan agar memberikan manfaat ekonomi dari hulu hingga hilir.

Jika sebelumnya warga hanya memikirkan bagaimana membesarkan ikan, kini mereka mulai belajar mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah.

Besarnya minat terhadap produk olahan membuat Pertamina berencana membangun rumah produksi. Selama ini proses pengolahan masih dilakukan di rumah-rumah warga.

"Nah, karena permintaan sangat banyak dan juga karena memang peminatnya banyak banget, jadi kita akhirnya membuatkan rumah produksi," kata Ita.

Rumah produksi diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengolahan sekaligus membuat proses produksi lebih terorganisasi.

Sidat dan Konsep Ekonomi Sirkular

Menariknya, pemberdayaan sidat di Sidamukti tidak berhenti pada prinsip menghasilkan produk sebanyak mungkin. Warga juga mulai menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah organik hasil pengolahan.

Sisa organik dari proses produksi digunakan sebagai bahan pakan maggot. Maggot tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele.

"Jadi kalau pengolahan itu kan ada sampahnya organik, ya. Nah, sampah organik dari hasil pengolahan tadi kita gunakan untuk pakan maggot. Nanti pakan maggotnya sendiri kita gunakan untuk pakan lele. Jadi kayak circular economy, seperti itu," jelas Ita.

Pola tersebut menciptakan rantai ekonomi yang saling terhubung. Sidat dibesarkan di kolam, dipanen dan dijual sebagai ikan segar. Sebagian hasil panen kemudian masuk ke proses pengolahan menjadi abon, sambal, dan kerupuk.

Sementara limbah organiknya tidak serta-merta menjadi sampah, melainkan dimanfaatkan kembali untuk mendukung budidaya maggot dan lele.

Bagi warga Sidamukti, perjalanan sidat dari Sungai Citanduy menuju kolam pembesaran hingga menjadi produk pangan bukan sekadar cerita tentang ikan.

Di baliknya ada upaya mengubah potensi alam menjadi sumber penghidupan, membuka peluang usaha, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Dari seekor sidat, warga kini melihat lebih banyak kemungkinan: penghasilan, pekerjaan, produk olahan, hingga harapan agar desa yang dulu lekat dengan persoalan kemiskinan dapat tumbuh menjadi desa yang lebih berdaya.

Editor : EldeJoyosemito

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network