2.877 Arsip Batik Indonesia Ungkap Jejak Perdagangan dan Perjumpaan Budaya

Arbi Anugrah
Ribuan arsip batik dari berbagai wilayah Jawa Tengah dihimpun dalam nominasi Arsip Batik Indonesia: Jaringan Dagang dan Budaya 1900–2023 untuk Memori Kolektif Bangsa 2026. Foto: Istimewa

BANYUMAS, iNewsPurwokerto.id - Arsip Batik Indonesia menyimpan cerita tentang perdagangan, perjumpaan budaya hingga kehidupan sosial masyarakat yang berlangsung selama lebih dari satu abad.

Jejak tersebut kini dihimpun dalam nominasi Arsip Batik Indonesia: Jaringan Dagang dan Budaya 1900–2023 untuk program Memori Kolektif Bangsa (MKB) 2026 yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Sebanyak 17 lembaga dan pemilik koleksi dari sejumlah wilayah Jawa Tengah terlibat dalam pengajuan tersebut. Mereka menyatukan arsip yang sebelumnya tersebar dalam berbagai koleksi.

Khazanah itu terdiri atas 13 bundel, dengan rincian 2.427 lembar arsip tekstual, 360 lembar foto, 90 lembar arsip bentuk khusus serta satu rekaman.

Koleksinya berasal dari sejumlah daerah, termasuk Pekalongan, Batang, Lasem di Kabupaten Rembang, Banyumas dan Boyolali.

Arsip Batik Ungkap Rantai Perdagangan dari Hulu ke Hilir

Salah satu kekuatan koleksi tersebut berada pada dokumen yang memperlihatkan aktivitas perdagangan batik dari masa ke masa.

Bon, nota perdagangan, catatan pesanan dan surat permintaan barang dari sekitar 1920 hingga 1990 menjadi bagian dari arsip yang dihimpun. Ada pula sketsa batik buatan tangan sejak 1930 serta dokumen perdagangan dari Museum Batik Tiga Negeri Lasem dan Yayasan Lasem Heritage.

Foto dari Rumah Arsip Banjoemas dan Yayasan Lasem Heritage memperlihatkan penggunaan batik dalam kehidupan masyarakat pada periode 1900 hingga 1980-an.


Ribuan arsip batik dari berbagai wilayah Jawa Tengah dihimpun dalam nominasi Arsip Batik Indonesia: Jaringan Dagang dan Budaya 1900–2023 untuk Memori Kolektif Bangsa 2026. Foto: Istimewa

Koleksi lainnya mencakup sketsa pola batik dari Museum Batik Gan, etiket dan merek dagang kain katun impor dari Eropa serta India milik Afif Syakur. Surat perdagangan dan foto keluarga pengusaha batik Haji Bilal juga menjadi bagian dari khazanah tersebut.

Koordinator Jaringan Lintas Daerah, Atik Fara dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Pekalongan, mengatakan pengumpulan arsip dilakukan melalui kerja sama lintas wilayah dan komunitas.

"Kolaborasi lintas daerah dan lintas komunitas ini menjadi salah satu kekuatan utama nominasi, tujuan dari bergotong royong adalah mengumpulkan arsip batik yang sangat jarang," kata Atik, Minggu 30 Agustus 2026.

Menurut Atik, kain batik masih relatif mudah ditemukan di museum, kolektor maupun pasar. Namun, dokumen yang dapat menjelaskan rantai perdagangan dan perjalanan batik justru jauh lebih sulit ditemukan.

"Kain batik dengan berbagai motif sepanjang sejarah perkembangannya masih mudah ditemukan di museum, kolektor atau diperjualbelikan. Namun arsip tekstual, video, foto terkait rantai nilai batik ini cukup langka," imbuh Atik.

Dokumen tersebut membantu menelusuri mata rantai batik, mulai dari penyedia bahan baku dan pembatik hingga pengusaha, pedagang serta pasar di luar Jawa dan mancanegara.

Batik Jadi Ruang Pertemuan Berbagai Budaya

Arsip yang terkumpul juga menunjukkan bahwa perjalanan batik tidak berlangsung dalam satu lingkungan budaya saja.

Pelaku usaha dan pengguna batik berasal dari beragam kelompok, termasuk masyarakat Jawa, komunitas Islam Jawa, keturunan Tionghoa, India dan Arab. Konsumen batik pun tersebar di berbagai wilayah Nusantara hingga luar negeri.

Dengan demikian, perkembangan batik turut merekam pertemuan berbagai kelompok masyarakat dalam aktivitas ekonomi dan budaya.

Dimensi lain terlihat pada arsip klowongan batik Rifaiyah dari Kabupaten Batang. Dalam tradisi tersebut, motif tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi berkaitan dengan doa dan harapan yang diwariskan dalam keluarga.

Batik dalam konteks itu memiliki fungsi sebagai media untuk meneruskan nilai keagamaan dan tradisi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Lasem Simpan Arsip Jejak Ekonomi Batik

Yayasan Lasem Heritage menjadi salah satu pihak yang berkontribusi dalam pengajuan bersama tersebut.

Perwakilan Yayasan Lasem Heritage, Baskoro, mengatakan koleksi yang mereka miliki menunjukkan kuatnya hubungan antara kegiatan ekonomi dan perjumpaan budaya di Lasem.

"Kami memiliki 259 lembar arsip statis. Ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan rekaman yang membuktikan betapa kuatnya jejaring ekonomi dan perjumpaan budaya di Lasem dan jaringan budaya batik Indonesia pada kurun 1900–1950. Lewat penominasian ini, kami ingin memastikan bahwa sejarah panjang kontribusi Lasem dalam kebudayaan batik Indonesia merupakan kontribusi komunal dan layak dilestarikan untuk keberlanjutan batik sebagai warisan budaya takbenda," ujar Baskoro perwakilan dari Yayasan Lasem Heritage.

Koleksi dari berbagai wilayah kemudian disatukan dalam satu nominasi agar perjalanan batik dapat dilihat secara lebih utuh, bukan hanya dari motif dan bentuk kain, tetapi juga dari perdagangan, hubungan sosial dan nilai budaya yang menyertainya.

17 Pihak Satukan Arsip Batik Indonesia

Pengajuan Arsip Batik Indonesia: Jaringan Dagang dan Budaya 1900–2023 menjadi upaya mempertemukan arsip yang selama ini tersimpan di berbagai lembaga dan koleksi pribadi.

Sebanyak 17 pihak dari sejumlah wilayah Jawa Tengah ikut terlibat dalam proses tersebut. Keberagaman sumber membuat khazanah yang diajukan memiliki sudut pandang yang lebih luas mengenai perjalanan batik Indonesia.

Jika ditetapkan sebagai bagian dari Memori Kolektif Bangsa 2026, kumpulan arsip tersebut diharapkan menjadi sumber untuk memahami sejarah batik dari berbagai sisi, mulai dari produksi, perdagangan dan penggunaan hingga perjumpaan budaya serta nilai sosial dan spiritual.

Program Memori Kolektif Bangsa merupakan inisiatif ANRI untuk menemukan, menjaga dan memperkenalkan arsip yang memiliki arti penting bagi perjalanan sejarah serta pembentukan identitas Indonesia.

Program tersebut juga sejalan dengan upaya pelestarian warisan dokumenter dunia melalui Memory of the World yang dikembangkan UNESCO.

Dengan ribuan dokumen yang berhasil dihimpun, Arsip Batik Indonesia memperlihatkan bahwa sejarah batik tidak berhenti pada kain dan motif. Di baliknya terdapat cerita tentang perdagangan, manusia, budaya dan hubungan antarkelompok yang ikut membentuk perjalanan Indonesia.

Editor : Arbi Anugrah

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network