Beda Daerah, Budaya dan Keyakinan, Mahasiswa Baru Ini Bersatu di Kampus UMP

Elde Joyosemito
Mereka datang dari berbagai wilayah Indonesia, membawa latar belakang suku, budaya, dan keyakinan yang beragam. (Foto: Istimewa)

PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id — Merantau untuk kuliah bukan sekadar berpindah kota. Bagi sebagian mahasiswa baru, keputusan meninggalkan kampung halaman juga berarti memasuki lingkungan sosial dan budaya yang sama sekali berbeda.

Hal itu dirasakan sejumlah mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada tahun ajaran baru ini. Mereka datang dari berbagai wilayah Indonesia, membawa latar belakang suku, budaya, dan keyakinan yang beragam. Namun, semuanya bertemu pada satu pilihan yang sama: UMP sebagai tempat untuk menimba ilmu dan membangun masa depan.

Bagi Andi Niswah Azilah, misalnya, perjalanan menuju Purwokerto menjadi pengalaman baru yang tidak terlupakan. Mahasiswi asal Kalimantan Timur itu untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Pulau Jawa setelah memilih Program Studi D4 Keperawatan Anestesiologi UMP.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Program studi yang diminatinya belum tersedia di daerah asalnya. "Saya memilih UMP karena ada anestesiologinya," kata Niswah saat ditemui di Purwokerto, Jumat (4/9/2026).

Kesan pertamanya terhadap lingkungan kampus pun cukup positif. Ia justru menemukan sesuatu yang tidak sepenuhnya ia bayangkan sebelumnya, yakni bertemu dengan mahasiswa dari berbagai daerah, bahkan mahasiswa internasional.

"Saya senang bisa bertemu teman dari berbagai daerah, dan ternyata di sini ada dari internasional juga," ujarnya.

Bagi Niswah, kehidupan sebagai mahasiswa baru tidak hanya tentang mengikuti perkuliahan. Ia ingin memanfaatkan masa kuliahnya untuk aktif berorganisasi, memperluas pertemanan, sekaligus menyelesaikan pendidikan tepat waktu.

"Pesan saya buat teman-teman, tetap semangat dan semoga kita bisa lulus dengan tepat waktu, mengikuti organisasi yang ada di UMP, dan membahagiakan orang tua," katanya.

Ketika Kekhawatiran Berubah Menjadi Pengalaman

Cerita berbeda datang dari Olivia Rambu Leki. Mahasiswi asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu juga memilih D4 Keperawatan Anestesiologi UMP.

Program studi yang masih relatif jarang tersedia di perguruan tinggi menjadi salah satu pertimbangan Olivia. Selain itu, prospek pekerjaan setelah lulus turut menguatkan keputusannya untuk merantau ke Purwokerto.

Namun, ada perasaan lain yang sempat muncul sebelum ia benar-benar memulai kehidupan kampus. Sebagai mahasiswa non-Muslim, Olivia sempat bertanya-tanya apakah dirinya dapat dengan mudah beradaptasi di lingkungan perguruan tinggi berbasis Muhammadiyah.

"Awal masuk UMP tentu membawa rasa ragu dan sedikit cemas terkait bagaimana saya akan beradaptasi dengan lingkungan kampus UMP yang berbasis Muslim," tutur Olivia.

Keraguan itu perlahan memudar setelah ia mengikuti rangkaian kegiatan mahasiswa baru. Interaksi dengan teman-teman membuat Olivia menemukan pengalaman yang berbeda dari kekhawatirannya.

"Namun, kekhawatiran itu seiring berjalannya waktu, selama saya memulai ospek, saya merasakan adanya kebersamaan dan toleransi yang sangat bagus," ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Olivia melihat kehidupan kampus bukan hanya sebagai ruang akademik. Baginya, UMP juga menjadi tempat belajar memahami perbedaan dan membangun sikap saling menghargai.

Ia berharap suasana tersebut terus dipertahankan sehingga UMP menjadi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan terbuka bagi mahasiswa dengan latar belakang yang beragam.

Datang dari Sumatra, Menemukan Lingkungan yang Nyaman

Pengalaman merantau juga dirasakan Anjelina Halawa, atau yang akrab disapa Angel. Mahasiswi asal Sumatra Utara itu memilih UMP karena menilai perguruan tinggi tersebut memiliki reputasi yang baik serta akreditasi unggul.

Sesampainya di Purwokerto, Angel menemukan lingkungan kampus yang membuatnya semakin yakin dengan pilihannya.

"Kesan saya di UMP itu lingkungannya nyaman, teman-temannya suportif, dan juga memiliki toleransi yang tinggi. Saya sangat senang karena di sini saya mendapatkan teman-teman yang baik," kata Angel.

Bagi Angel, dukungan lingkungan pergaulan menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa perantauan. Ia berharap UMP terus berkembang sebagai perguruan tinggi yang mampu menghasilkan lulusan berprestasi, berakhlak, sekaligus memiliki daya saing global.

Berbeda Keyakinan, Tetap Merasa Diterima

Kisah lainnya datang dari Aurell Chintya Purba. Mahasiswi asal Pekanbaru, Riau, itu memilih Program Studi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan UMP.

Rekomendasi dari sang kakak menjadi salah satu alasan Aurell menentukan pilihan. Pertimbangan lainnya adalah keberadaan program studi tersebut yang telah berakreditasi unggul dan belum banyak tersedia di perguruan tinggi lain.

Setibanya di Purwokerto, Aurell bahkan mengaku sempat terkejut melihat fasilitas dan bangunan kampus UMP.

Namun, yang paling membekas justru bukan kemegahan fasilitas kampus, melainkan bagaimana ia diterima oleh lingkungan pertemanannya.

Sebagai pemeluk agama Kristen yang menempuh pendidikan di kampus Muhammadiyah, Aurell mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam beradaptasi.

"Kesan di sini orangnya toleransinya tinggi. Saya kan dari latar belakang Kristen, di sini Muhammadiyah, jadi toleransinya tinggi banget. Saya tetap ditemenin, diajak main juga, dicakapin duluan," ungkapnya.

Pengalaman tersebut membuat Aurell semakin memahami bahwa perbedaan tidak selalu menjadi jarak. Di lingkungan kampus, perbedaan justru dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan belajar.

Karena itu, ia menilai toleransi merupakan nilai yang paling penting untuk terus dijaga di lingkungan perguruan tinggi.

"Paling utama itu toleransi nomor satu, karena kita berbeda-beda, dari suku mana saja yang datang, dari beragam agama," katanya.

Kisah Niswah, Olivia, Angel, dan Aurell memperlihatkan wajah lain kehidupan kampus: mahasiswa datang dari tempat yang berbeda, membawa cerita dan keyakinan yang tidak sama, tetapi kemudian bertemu dalam satu ruang yang sama.

Bagi mereka, UMP bukan hanya tempat untuk mengejar gelar akademik. Kampus juga menjadi ruang perjumpaan, tempat belajar memahami perbedaan, membangun persahabatan, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia yang semakin beragam.

Dari Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Sumatra Utara hingga Riau, perjalanan mereka bermuara di Purwokerto. Beda pulau, beda latar belakang, bahkan beda keyakinan, tetapi memiliki satu ruang untuk tumbuh bersama yakni kampus UMP.

Editor : EldeJoyosemito

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network