Karena itu, dia mempertanyakan apakah perguruan tinggi saat ini telah mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan dan memanfaatkan AI secara tepat.
Stella menilai ancaman “kematian berpikir” akibat ketergantungan terhadap AI bukan hanya menjadi persoalan perguruan tinggi. Keluarga juga memiliki peran penting dalam menjaga kemampuan berpikir anak.
Dia meminta orang tua membiasakan anak membaca buku, termasuk novel. Anak juga perlu didorong untuk membaca buku secara utuh dari awal hingga akhir.
Menurut Stella, kebiasaan membaca secara menyeluruh dapat membantu anak melatih kemampuan memahami persoalan sekaligus mempertahankan proses berpikir.
Selain membaca, orang tua juga disarankan memberikan tugas yang tidak dapat dengan mudah diselesaikan hanya dengan bantuan AI.
Dengan demikian, anak tetap dituntut memahami persoalan, mencari solusi, dan menggunakan kemampuan intelektualnya sendiri.
Stella mengaku tertarik dengan analogi yang disampaikan salah seorang peserta seminar yang menyamakan AI dengan seorang joki.
“AI seperti joki, betul. AI makin pintar, tapi yang menggunakan joki tetap bodoh,” ujarnya.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
