Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah Ethos Coffee Pairing Competition. Para peserta tidak hanya menyajikan kopi, tetapi juga memasangkannya dengan makanan yang memiliki cerita dan karakter rasa masing-masing.
Tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut adalah “Merayakan Budaya Melalui Rasa dan Kreativitas”. Para peserta mempresentasikan minuman dan makanan yang mereka padukan sekaligus menjelaskan bahan, konsep, dan alasan di balik pemilihan menu.
Puput Ade Irawan dari Unsoed, misalnya, membawa konsep yang terinspirasi dari resep Hindia Belanda sekitar 200 tahun lalu. Ia menggunakan kopi Liberika Natural yang dipadukan dengan kapulaga, jahe, kayu manis, cengkeh, dan gula aren.
Perpaduan tersebut menghasilkan karakter rasa yang disebutnya warm, spicy, aromatic, dan sweet, dengan sentuhan rempah serta gula aren.
Peserta lain, Ivan W dari Purwokerto, memilih pisang sebagai bagian dari eksplorasi menu. Ia memadukan kopi Arabika Menghalu Natural Honey dengan buah pisang dalam kreasi cold banana coffee. Menurut Ivan, satu bahan dapat dikembangkan menjadi lebih dari satu sajian.
Sementara Haidar Muhammad Irfan Gading menghadirkan menu bernama “Saklawase”. Minumannya terinspirasi dari enting-enting gepuk khas Salatiga dan kemudian dipasangkan dengan getuk goreng khas Sokaraja.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Enting-enting gepuk merupakan jajanan yang memiliki kenangan tersendiri bagi Haidar sejak kecil. Begitu pula getuk goreng yang sudah akrab dengan kesehariannya.
“Menu ini, pertama, enting-enting gepuk, salah satu menu favorit saya dari kecil,” ujarnya. Ia menyebut kedua makanan tersebut menjadi bagian dari memori yang terus melekat hingga sekarang.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
