PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id — Krisis air bersih akibat kemarau panjang di Kabupaten Banyumas, terus meluas. Hingga kini, kekeringan telah berdampak terhadap 82 desa/kelurahan yang tersebar di 22 kecamatan dengan jumlah warga terdampak mencapai sekitar 69.000 jiwa.
Berdasarkan data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Banyumas, sebanyak 20.011 kepala keluarga (KK) terdampak krisis air bersih. Kekeringan tidak hanya mengganggu kebutuhan air untuk rumah tangga, tetapi juga berdampak terhadap 19 fasilitas umum.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas Dwi Irawan Sukma mengatakan distribusi air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
"Hingga saat ini, kami mencatat ada 20.011 kepala keluarga atau sekitar 69.000 jiwa yang terdampak langsung oleh krisis air bersih ini. Tidak hanya permukiman warga, krisis ini juga berdampak pada 19 fasilitas umum di berbagai wilayah," kata Dwi pada Rabu (7/9/2026).
Penanganan kekeringan dilakukan BPBD bersama unsur gabungan, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya. Bantuan air bersih telah dikirim sebanyak 1.176 kali ke berbagai lokasi terdampak.
Total volume air yang telah didistribusikan mencapai 5.946.000 liter. Bantuan tersebut menyasar wilayah yang sumber airnya mulai mengering atau tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat.
Sejumlah wilayah yang mengalami krisis air bersih antara lain Desa Tamansari, Kecamatan Karanglewas; Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh; Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok; Desa Cingebul, Kecamatan Lumbir; serta Desa Petahunan, Kecamatan Pekuncen.
Dampak kekeringan bahkan telah menjangkau wilayah perkotaan. Kelurahan Mersi dan Arcawinangun di Kecamatan Purwokerto Timur termasuk wilayah yang mengalami kesulitan air bersih.
Di sisi lain, BPBD Banyumas juga mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Hingga kini, luas area yang terdampak karhutla di sejumlah wilayah Banyumas tercatat mencapai 53,088 hektare.
Karhutla tersebut terjadi di sejumlah kecamatan, antara lain Purwokerto Utara, Baturraden, Sumbang, Kedungbanteng, Cilongok, Wangon, dan Lumbir.
Dwi menyampaikan apresiasi kepada berbagai instansi, lembaga kemanusiaan, organisasi sosial, dan dunia usaha yang turut membantu penanganan kekeringan. Bantuan antara lain datang dari Mandiri Taspen, MDMC, Pertamina, PMI, Dompet Dhuafa, Rotary, serta sejumlah pihak lainnya.
Dwi mengatakan dampak kekeringan pada musim kemarau 2026 lebih berat dibandingkan kondisi pada 2023 yang juga dipengaruhi fenomena El Nino.
Pada 2026, kekeringan telah melanda 82 desa yang tersebar di 21 kecamatan. Sementara pada 2023, terdapat 81 desa di 19 kecamatan yang terdampak kekeringan.
Meski jumlah desa terdampak hanya bertambah satu dibandingkan 2023, dampak kekeringan tahun ini dinilai lebih besar karena mencakup wilayah yang lebih luas dan jumlah warga terdampak yang lebih banyak.
"Untuk perbandingan, dampaknya masih tinggi yang tahun ini," katanya.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
