Sannidhi Ketubuhan Banyumasan: Kala Lengger Narsih Wariskan Filosofi Menari Lebih dari Sekadar Gerak

Arbi Anugrah
Sannidhi Ketubuhan Banyumasan: Kala Lengger Narsih Wariskan Filosofi Menari Lebih dari Sekadar Gerak. Foto: Istimewa

BANYUMAS, iNewsPurwokerto.id - Menjelang sore, 24 Oktober 2026, Biyung Narsih, yang lebih akrab dikenal sebagai Lengger Narsih, hadir dalam Sannidhi Ketubuhan Banyumasan, agenda bulan pertama program Banyumas Adhigana Stage (BAS) di Taman Sari Banyumas Kota Lama, Kabupaten Banyumas. Bersama suaminya, Edi, ia berbagi pengalaman panjangnya sebagai pelaku tradisi Lengger di hadapan sekitar tiga puluh penari dari berbagai sanggar di Banyumas Raya.

Pertemuan ini tidak sekadar menjadi ruang diskusi tentang tari, tetapi juga kesempatan untuk menelusuri pengetahuan yang tumbuh dari tubuh, pengalaman, dan kehidupan sehari-hari. Sejak berusia tujuh tahun, Biyung Narsih telah menekuni Lengger. Lebih dari lima dekade berkesenian, ia terus menjaga kegemarannya menari sekaligus merawat hubungan antara Lengger dan kehidupan masyarakat Banyumasan.


Biyung Narsih berbagi pengalaman panjangnya sebagai pelaku tradisi Lengger di hadapan sekitar tiga puluh penari dari berbagai sanggar di Banyumas Raya. Foto: Istimewa

Dalam perbincangan tersebut, Biyung Narsih mengajak para peserta melihat Lengger lebih jauh dari sekadar kepiawaian tubuh dalam menari. Tradisi ini memiliki tempat dalam berbagai peristiwa kehidupan masyarakat. 

Lengger, misalnya, hadir dalam perayaan panen sebagai ungkapan rasa syukur, serta dalam praktik ritual tertentu yang dipercaya memiliki daya penyembuhan. Kedekatan dengan kehidupan masyarakat inilah yang memperlihatkan bahwa Lengger tidak tumbuh semata-mata sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman sosial dan kebudayaan masyarakat Banyumasan.

“Semoga kita semua yang berkumpul di sini tidak lelah untuk menguri-uri budaya, termasuk anak-anakku yang sudah aktif menari di berbagai sanggar di wilayah Banyumasan. Gerakkan tubuhmu dengan segala pengetahuan yang kamu bawa. Ketika penonton tidak memberikan tepuk tangan, jangan jadikan itu ukuran pencapaianmu. Yang lebih penting adalah bagaimana kamu tetap merawat keinginan tubuhmu untuk terus menari, terlebih untuk budayamu sendiri.” ungkap Lengger Narsih dalam kesempatan tersebut.

Bagi Riski Dwi Kemala, S.Sn., M.Sn., selaku Produser Banyumas Adhigana Stage (BAS), pemahaman semacam inilah yang menjadi salah satu alasan penting dihadirkannya Biyung Narsih dalam Sannidhi. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang diskusi yang menghadirkan praktisi seni dan tenaga ahli dengan pengalaman serta dedikasi panjang di bidangnya. 

Para maestro menjadi rujukan penting karena pengetahuan mereka tidak hanya dibangun melalui praktik, tetapi juga melalui perjalanan berkesenian, rekam jejak, dan pengalaman nyata yang dapat dibagikan kepada generasi berikutnya.

Atas dasar itu, kehadiran Biyung Narsih bukan semata-mata untuk berbicara tentang teknik menari Lengger, melainkan juga membagikan pengetahuan mengenai alasan tradisi tersebut tumbuh, bertahan, dan memiliki arti bagi masyarakat pendukungnya.

Hal ini sejalan dengan perhatian Biyung Narsih terhadap perkembangan penari masa kini. Ia melihat bahwa kemampuan menarikan Lengger perlu disertai pemahaman mengenai konteks budaya yang melatarbelakanginya. 

“Banyak sekarang penari yang hanya bisa menarikan Lengger, tetapi jarang memiliki pengetahuan tentang mengapa Lengger penting bagi tradisi masyarakat Banyumasan,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa mewarisi sebuah tradisi tidak cukup dengan menguasai bentuk dan ragam geraknya. Ada nilai, fungsi, ingatan, serta hubungan sosial yang perlu dipahami agar tradisi tidak kehilangan makna ketika diwariskan kepada generasi berikutnya. Penari tidak hanya dituntut mampu menggerakkan tubuh, tetapi juga diajak mengenali pengetahuan kebudayaan yang melekat pada setiap praktiknya.

Perjalanan Biyung Narsih sendiri memperlihatkan bagaimana keberlanjutan Lengger terhubung dengan kehidupan masyarakat. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan membuat Lengger terus hadir dalam beragam peristiwa sosial. 

Dari ruang-ruang itulah tradisi memperoleh kesempatan untuk terus dipraktikkan, dikenal, dan dirawat. Kegemarannya menari yang telah bertahan selama puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.

Setelah diskusi, pertemuan berlanjut melalui praktik menari bersama. Para peserta tidak hanya mendengarkan pengalaman seorang maestro, tetapi juga berkesempatan mengenali dan mempraktikkan pengetahuan gerak secara langsung. 

Percakapan yang sebelumnya berlangsung melalui kata-kata kemudian beralih menjadi pengalaman tubuh. Gerak menjadi medium untuk mengamati, merasakan, dan mempelajari pengetahuan yang tumbuh dari praktik panjang seorang penari.

Editor : Arbi Anugrah

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network