Menurut dia, sekitar 77 persen sampah di Banyumas telah terkelola. Sementara 23 persen lainnya masih belum tertangani secara optimal dan tersebar di 15 kecamatan.
"Banyumas yang sudah terkelola sudah 77 persen, yang belum terkelola 23 persen yang tersebar di 15 kecamatan. Makanya saya meminta Pak Presiden dibantu 15 TPST untuk 15 kecamatan untuk menangani 23 persen yang belum bisa dikelola," kata Sadewo.
Ia berharap keberadaan Waste Station dapat mendorong masyarakat membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga. Selain membantu mengurangi persoalan sampah, fasilitas tersebut diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Sadewo menilai sampah tidak semestinya hanya dipandang sebagai sesuatu yang dikumpulkan, diangkut, kemudian dibuang. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah anorganik masih memiliki nilai guna dan dapat memberikan keuntungan ekonomi.
Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup, Vinda Damayanti Ansjar, mengatakan keberhasilan Waste Station tidak cukup diukur dari keberadaan bangunan atau fasilitasnya. Dampak program tersebut perlu dilihat dari keterlibatan masyarakat, volume sampah terpilah yang terkumpul, serta manfaat ekonomi dan lingkungan yang dihasilkan.
"Keterlibatan sektor perbankan juga membuka peluang untuk menghubungkan pengelolaan sampah dengan layanan dan insentif keuangan, sehingga masyarakat dapat merasakan secara langsung manfaat dari kebiasaan memilah sampah," ujar Vinda.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
