UMKM Jadi Penopang Utama Sektor Jasa Keuangan di Banyumas Raya
Meski demikian, OJK mengakui BPR dan BPRS masih menghadapi tantangan, terutama tingginya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang mencapai 22,31 persen. Haramain menjelaskan, kondisi itu dipengaruhi proses normalisasi kredit restrukturisasi pascapandemi COVID-19.
“BPR dan BPRS harus menyesuaikan kualitas portofolio kredit restrukturisasi stimulus COVID-19 berdasarkan hasil penilaian terhadap kemampuan debitur,” ujarnya.
Selain sektor perbankan, kinerja industri keuangan nonbank (IKNB) di wilayah tersebut juga menunjukkan perkembangan positif dan turut menopang pembiayaan UMKM. Lembaga keuangan mikro (LKM) di Banyumas Raya mencatat pertumbuhan DPK sebesar 20,15 persen. Sementara itu, perusahaan pembiayaan menyalurkan pembiayaan hingga Rp4,047 triliun pada Oktober 2025, dengan porsi terbesar mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran.
OJK Purwokerto juga terus memperkuat dukungan terhadap UMKM melalui program literasi dan inklusi keuangan. Sepanjang 2025, OJK telah menggelar 116 kegiatan literasi keuangan yang menjangkau 144.773 peserta, mulai dari pelaku UMKM, santri, pelajar, hingga kelompok masyarakat lainnya.
“Ke depan, OJK bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan akan terus bersinergi menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus memperkuat peran UMKM sebagai penggerak ekonomi daerah di tengah dinamika ekonomi global dan domestik,” kata Haramain.
Editor : EldeJoyosemito