Infratani Buahkan Hasil, Pesantren di Banyumas Sukses Bangun Kemandirian Ekonomi
BANYUMAS, iNewsPurwokerto.id - Implementasi program Infratani (Integrated Farming with Technology Information and Society) di sejumlah pondok pesantren sebagai upaya mendorong kemandirian ekonomi berbasis sektor pertanian mulai membuahkan hasil.
Salah satunya diterapkan di Pondok Pesantren Al Ijtihad, Desa Sirau, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, yang kini mengembangkan berbagai komoditas pertanian dan peternakan secara terintegrasi.
Kepala Ponpes Al Ijtihad Kemranjen, Tukiran Yatmo Suwito, mengatakan program ini menjadi langkah strategis dalam membangun kemandirian pesantren. Berbagai sektor usaha digarap, mulai dari persawahan padi, peternakan domba, perikanan, hingga budidaya cabai.
“Semua ini dalam rangka mendukung kemandirian ekonomi pondok pesantren. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia dan Dinas Pertanian yang telah membantu pengembangan ini,” ujarnya usai panen perdana cabai di lahan pertanian milik ponpes.
Salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan adalah cabai. Saat ini, Ponpes Al Ijtihad menanam sekitar 4.000 batang cabai di lahan seluas kurang lebih 2.000 meter persegi. Produksi cabai terbilang cukup tinggi, dengan hasil panen mencapai sekitar 1 kuintal setiap lima hari.
“Dalam satu siklus, panen bisa sampai 25 kali, sehingga totalnya sekitar 25 kuintal. Sebanyak 95 persen hasil panen kami jual ke pasar karena kebutuhan internal tidak terlalu besar,” jelasnya.
Harga jual cabai juga relatif stabil dan menguntungkan. Terakhir, harga mencapai Rp53 ribu per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp97 ribu per kilogram saat momentum Lebaran.
Pengelolaan pertanian di pesantren ini turut melibatkan para santri. Selain menjadi sumber ekonomi, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses pembelajaran. Saat ini, terdapat dua santri yang secara khusus terlibat dalam pengelolaan kebun sebagai bagian dari pendidikan berbasis praktik.
“Santri selalu kami libatkan agar mereka memiliki keterampilan dan pengalaman langsung di bidang pertanian,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Christoveny, menjelaskan bahwa Program Infratani dirancang sebagai model pertanian terintegrasi yang menggabungkan teknologi, informasi, dan pemberdayaan masyarakat, dengan pondok pesantren sebagai basis komunitas.
“Program ini mengembangkan komoditas seperti cabai, beras, dan bawang merah. Tujuannya tidak hanya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung swasembada pangan dan pengendalian inflasi,” katanya.
Ia menambahkan, pondok pesantren seperti Darul ‘Ulum, Nuururrohman, dan Al Ijtihad di Kemranjen menjadi contoh pengembangan komunitas berbasis pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Banyumas, Arif Sukmo Buwono, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan pondok pesantren dalam meningkatkan produksi cabai.
“Produksi cabai harus terus digenjot untuk mencapai swasembada pangan sekaligus menjaga stabilitas harga. Dukungan dari BI melalui Program Infratani sangat membantu,” ujarnya.
Menurutnya, program ini juga selaras dengan pengembangan generasi petani muda melalui program Taruna Karya Mandiri (TAKARA MERDAYA), yang menargetkan generasi Zilenial untuk terjun di sektor pertanian, khususnya cabai rawit merah.
“Ke depan, kami akan terus menyinergikan berbagai program untuk meningkatkan produksi sekaligus membangun regenerasi petani muda,” tandasnya.
Editor: EldeJoyosemito