Embun Beku Kembali Selimuti Dieng, Wisatawan Berburu Momen Bun Upas
BANJARNEGARA, iNewsPurwokerto.id – Fenomena embun beku atau bun upas kembali menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng yang berada di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, lapisan kristal es tipis tampak menghiasi sejumlah titik di kawasan wisata Dieng, terutama di sekitar Kompleks Candi Arjuna.
Kemunculan bun upas yang identik dengan musim kemarau di Dieng itu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Banyak pengunjung datang sejak dini hari untuk menyaksikan secara langsung fenomena alam langka tersebut sekaligus mengabadikannya melalui foto maupun video.
Sekretaris Desa Dieng Kulon, Sabar Alfarisi, mengatakan embun beku mulai terlihat dalam tiga hingga empat hari terakhir seiring menurunnya suhu udara pada malam hingga pagi hari.
“Kurang lebih sudah tiga hari terakhir embun beku mulai muncul di Dieng. Sebarannya terlihat di sekitar kawasan Candi Arjuna dan beberapa area terbuka lainnya,” kata Sabar, Rabu (10/6/2026).
Menurut dia, fenomena bun upas yang kembali muncul langsung menarik perhatian wisatawan yang tengah berkunjung ke Dieng. Kehadiran embun beku menjadi magnet tersendiri karena hanya muncul pada kondisi cuaca tertentu saat musim kemarau.
“Sudah banyak wisatawan yang datang untuk melihat dan mengambil foto embun beku. Fenomena ini memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung Dieng,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang warga, Akhmad Musyafa, mengatakan lapisan embun beku yang muncul pada Rabu pagi terlihat cukup tebal dan jelas terlihat di area lapangan sekitar Candi Arjuna.
“Hari ini embun beku cukup tebal dan sangat kelihatan di lapangan sekitar Candi Arjuna,” katanya.
Secara terpisah, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto menjelaskan kemunculan bun upas tahun ini dipengaruhi kondisi cuaca yang sangat kering di kawasan Dieng.
Berdasarkan data BMKG, curah hujan di wilayah tersebut sejak 6 hingga 9 Juni 2026 tercatat nol milimeter. Kondisi tersebut menunjukkan atmosfer berada dalam keadaan sangat kering.
“Curah hujan nol milimeter menunjukkan atmosfer berada dalam kondisi sangat kering. Selain itu, langit cenderung cerah tanpa awan pada malam hingga pagi hari,” ujar Goeroeh.
Ia menjelaskan, minimnya tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari dapat dilepaskan secara maksimal ke atmosfer dan luar angkasa saat malam hari. Akibatnya, proses pendinginan berlangsung lebih cepat sehingga suhu permukaan tanah turun drastis.
Data BMKG mencatat suhu udara minimum di Dieng pada 9 Juni 2026 mencapai 1,05 derajat Celsius pada pukul 01.01 WIB. Adapun suhu rumput atau permukaan tanah bahkan lebih rendah, yakni 0,60 derajat Celsius pada pukul 08.30 WIB.
“Kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya lapisan kristal es tipis pada rumput, tanaman pertanian, dan permukaan lainnya yang terpapar udara dingin secara langsung,” katanya.
Selain faktor cuaca, topografi Dieng juga berperan penting dalam pembentukan bun upas. Kawasan Dieng yang berbentuk cekungan dan dikelilingi pegunungan membuat udara dingin mudah terakumulasi di dasar lembah.
Menurut Goeroeh, pada malam hari udara dingin dari lereng pegunungan bergerak turun dan terperangkap di kawasan yang lebih rendah. Kondisi ini menyebabkan suhu di Dieng menjadi jauh lebih dingin dibandingkan wilayah sekitarnya.
Fenomena bun upas sendiri merupakan kejadian yang lazim terjadi setiap musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng. Meski menjadi daya tarik wisata, embun beku juga kerap menjadi perhatian para petani karena dapat memengaruhi tanaman yang sensitif terhadap suhu dingin ekstrem.
Dengan kondisi cuaca yang masih kering dan suhu udara yang terus menurun pada malam hari, kemunculan bun upas diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan di kawasan Dieng.
Editor : EldeJoyosemito