Andy F Noya Kenang Momen Penonton Bertahan Saat Hujan di Jazz Gunung Slamet
BANYUMAS, iNewsPurwokerto.id - BRI Jazz Gunung Slamet 2026 kembali membuktikan daya tariknya sebagai festival musik yang mampu menyatukan jazz, alam, dan semangat para penonton. Meski hujan sempat mengguyur kawasan Wana Wisata Baturraden, Kabupaten Banyumas, Sabtu (27/6/2026), ribuan pengunjung tetap bertahan hingga pertunjukan kembali berlangsung.
Begitu hujan mereda, area konser kembali dipenuhi penonton yang duduk lesehan menikmati udara sejuk kaki Gunung Slamet. Suasana malam semakin hidup ketika grup musik NonaRia membuka penampilan dengan lagu Juwita Malam, disambut tepuk tangan meriah dari para pengunjung.
Festival tahun ini mengusung tema "Jazztination", yang memadukan pertunjukan musik jazz dengan panorama alam pegunungan. Penonton disuguhi penampilan lintas generasi mulai dari Mocca, NonaRia, Amelia Ong, Emptyyy, hingga Kevin Yosua Big 6.
Antusiasme penonton mendapat perhatian khusus dari tokoh publik Andy F Noya yang turut hadir dalam acara tersebut. Menurutnya, loyalitas penonton menjadi alasan Jazz Gunung Slamet mampu terus digelar hingga memasuki penyelenggaraan ketiga.
"Kenapa Jazz Gunung ini bisa tiga kali di Gunung Slamet? Karena ada teman-teman yang datang untuk menonton," katanya.
Andy kemudian mengenang pengalaman pada penyelenggaraan tahun sebelumnya yang juga diguyur hujan deras. Saat itu panitia bahkan harus mengundur jadwal konser hingga pukul 20.00 WIB.
"Karena Jazz Gunung ini memang membutuhkan penonton-penonton yang fanatik. Tahun lalu hujan juga. Jam 6 hujan deras. Sampai kita harus mengundurkan acaranya dimulai jam 8 malam," ucapnya.
Ia mengaku sempat pesimistis acara bisa dilanjutkan. Namun sesampainya di lokasi, pemandangan yang terlihat justru membuatnya terharu.
"Kami jujur aja hari itu udah nyerah. Kita bilang Tuhan apa yang terjadi, terjadilah. Dan ada keajaiban, teman-teman. Karena kami waktu sampai di sini kami kaget. Banyak teman-teman yang masih bertahan sini kerukupan sama plastik," ujarnya.
Jazz Gunung Indonesia yang diprakarsai Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan almarhum Djaduk Ferianto terus mengembangkan konsep konser di kawasan pegunungan sebagai bagian dari promosi pariwisata Indonesia.
Melalui Jazz Gunung Series, penyelenggara ingin menghadirkan pengalaman berbeda dengan menggabungkan musik, budaya, alam, serta destinasi wisata unggulan di berbagai daerah.
Tema "Jazztination" tahun ini dipilih untuk memperkuat konsep tersebut sehingga penonton tidak hanya menikmati pertunjukan musik, tetapi juga keindahan alam Baturraden.
Pendiri Jazz Gunung Indonesia, Sigit Pramono, menegaskan festival ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.
"Jadi sekali lagi terima kasih, saya ingin ucapkan karena juga penyelenggaraan acara seperti ini itu harus ada sponsornya yang paling kuat," ucapnya.
Selain konser musik, pengunjung juga dapat menikmati Kampung Durian yang menghadirkan berbagai varietas durian Nusantara sekaligus mengenalkan potensi petani lokal.
"Satu-satunya konser jazz di dunia, orang bisa makan durian sekaligus. Dan itu bisa terjadi di Purwokerto," ujar Sigit.
Di sela penampilannya, personel NonaRia menilai semakin banyak anak muda mulai tertarik mendengarkan musik jazz. Menurut vokalis Nesia Ardi, salah satu penyebabnya adalah keinginan masyarakat mencari warna musik baru.
"Kalau menurut saya mungkin ada satu titik kebosanan juga mungkin di masyarakat kayak dengerin lagu yang di satu dekade belakangan itu hal yang sama gitu," katanya.
Ia berharap ketertarikan tersebut diikuti dengan keinginan mempelajari sejarah jazz secara lebih mendalam.
"Kayak sekarang oke dengerin jazz, tapi sejauh mana kamu dengerin jazz? Dua apakah itu hanya untuk ikut-ikutan temen atau emang bener-bener iya. Kalau iya you will dig deeper. Kamu akan dig lebih ke belakang lagi, tahun 30-an ada apa, tahun 20-an ada apa. Terus jazz itu berawal dari mana dan segala macam," jelasnya.
Nesia juga menolak anggapan bahwa jazz hanya dinikmati kalangan tertentu.
"Kita gak akan bilang kalau jazz itu untuk kelas elit tertentu. Karena jazz itu muncul dari bawah, dari kaum yang marginal gitu. Apakah kalian akan mencari tahu sejauh itu atau enggak," ujarnya.
Hal senada disampaikan personel NonaRia lainnya, Nanin Wardhani. Menurutnya, internet membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda untuk mengenal berbagai genre musik.
"Sama yang jelas internet sih itu sangat membuka pengetahuan musik. Waktu kami masih usia sekolah dulu kan gak ada pilihan ya, cuman pasti dengerinnya sama, generasi kami itu pasti sama, kalau gak dari TV, radio. Kalau anak-anak sekarang bisa eksplor sendiri. Bagus banget sih."
Ia berharap anak muda tidak berhenti sekadar menikmati musik jazz, tetapi juga memahami perjalanan sejarahnya.
"Betul, teman-teman bisa explore dan cari tahu lebih dalam lagi mengenai jazz," tutup Nanin.
Editor: Arbi Anugrah