Bakti Sosial, Para Dokter Spesialis Mata Gelar Operasi Katarak Gratis
PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id – Harapan untuk kembali melihat dengan jelas menjadi kenyataan bagi puluhan warga yang mengalami katarak. Dalam rangka Bulan Bakti Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) 2026, Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto menggelar bakti sosial operasi katarak gratis sebagai bagian dari gerakan nasional bertajuk "Satu Hari Sejuta Harapan untuk Indonesia Kembali Melihat, One Doctor One Sight."
Program tersebut merupakan bentuk kolaborasi para dokter spesialis mata untuk memperluas akses layanan kesehatan mata, khususnya bagi masyarakat yang mengalami gangguan penglihatan akibat katarak.
Kepala Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto, dr. Kukuh Prasetyo, SpM, ChM, (Hon.)FIOF, mengatakan keterlibatan pihaknya dalam Bulan Bakti PERDAMI menjadi wujud kepedulian terhadap masyarakat yang selama ini terkendala mendapatkan layanan operasi katarak.
"Melalui kegiatan ini kami berharap semakin banyak pasien memperoleh kesempatan untuk kembali melihat dengan lebih baik, dapat beraktivitas secara mandiri, dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik," ujar Kukuh.
Katarak merupakan kondisi ketika lensa mata mengalami kekeruhan sehingga cahaya tidak dapat masuk secara optimal ke retina. Akibatnya, penglihatan menjadi kabur dan semakin menurun apabila tidak segera ditangani.
Gangguan tersebut umumnya berkembang secara perlahan. Gejalanya meliputi pandangan berkabut, warna benda tampak memudar, mata lebih sensitif terhadap cahaya, kesulitan melihat pada malam hari, hingga terganggunya aktivitas sehari-hari seperti membaca maupun bekerja.
Meski identik dengan proses penuaan, katarak juga dapat dipicu berbagai faktor lain, seperti diabetes, cedera mata, penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, paparan sinar ultraviolet, hingga kelainan bawaan.
Di Indonesia, katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan. Berdasarkan hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) 2014–2016 yang dilakukan PERDAMI bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan di 15 provinsi, prevalensi kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun mencapai 3 persen. Dari angka tersebut, sekitar 81,2 persen disebabkan oleh katarak.
Karena itu, penanganan katarak tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mata, tetapi juga menyangkut kualitas hidup, produktivitas, dan kemandirian seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Padahal, kebutaan akibat katarak sebenarnya dapat dicegah melalui pemeriksaan rutin dan tindakan operasi yang tepat. Dalam prosedur operasi, lensa mata yang keruh diangkat kemudian diganti dengan lensa buatan atau intraocular lens (IOL) sehingga kemampuan melihat pasien dapat dipulihkan.
Perkembangan teknologi juga membuat operasi katarak kini semakin presisi. Berbagai metode operasi maupun pilihan lensa tanam dapat disesuaikan dengan kondisi mata serta kebutuhan aktivitas masing-masing pasien.
Sebagai bagian dari jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics, Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto mendukung penuh pelaksanaan bakti sosial tersebut. Tidak hanya menyediakan layanan operasi, program juga mencakup seluruh tahapan pelayanan, mulai dari pendataan peserta, skrining awal, pemeriksaan mata, pemeriksaan penunjang, tindakan operasi bagi pasien yang memenuhi syarat medis, hingga kontrol pascaoperasi.
Menurut Kukuh, pendekatan menyeluruh tersebut penting untuk memastikan setiap pasien memperoleh pelayanan yang aman dan sesuai dengan kondisi kesehatannya.
Pelaksanaan bakti sosial berlangsung pada 7–9 Juli 2026. Seluruh rangkaian kegiatan mengikuti standar pelayanan, mulai dari seleksi calon pasien, pemeriksaan penunjang, tindakan operasi, hingga evaluasi kondisi pasien pada kontrol hari ketujuh setelah operasi.
Melalui program ini, JEC ANWARI Purwokerto berharap masyarakat yang selama ini mengalami keterbatasan penglihatan akibat katarak dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih mandiri.
Kemampuan melihat kembali, lanjut Kukuh, bukan hanya berarti pulihnya fungsi penglihatan. Bagi banyak pasien, kondisi tersebut membuka kesempatan untuk kembali membaca, bekerja, beribadah, mengenali wajah anggota keluarga, bepergian dengan lebih aman, hingga berinteraksi kembali di lingkungan sosial.
"Setiap pasien yang kembali melihat adalah harapan baru. Karena itu kegiatan ini bukan sekadar layanan medis, melainkan bentuk dukungan nyata agar masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih percaya diri," katanya.
JEC Eye Hospitals and Clinics sendiri telah berkiprah di bidang pelayanan kesehatan mata sejak 1984. Selama lebih dari empat dekade, jaringan rumah sakit mata tersebut telah menangani lebih dari 200 ribu operasi katarak di Indonesia.
Selain menyediakan layanan operasi konvensional dengan metode phacoemulsification, JEC juga menghadirkan teknologi Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS) untuk memberikan penanganan yang lebih presisi dan sesuai kebutuhan pasien.
Editor : EldeJoyosemito