get app
inews
Aa Text
Read Next : Social Media Summit 2026 Sukses Digelar, Ribuan Konten Kreatif Siap Dongkrak Potensi Banyumas

Generasi Muda Diajak Padukan Kearifan Lokal dengan Kecerdasan Buatan

Jum'at, 17 Juli 2026 | 15:24 WIB
header img
Upaya menjaga kelestarian budaya dan lingkungan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital menjadi fokus pembahasan dalam forum Ngopi Bareng. (Foto: Istimewa)

PURBALINGGA, iNewsPurwokerto.id – Upaya menjaga kelestarian budaya dan lingkungan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital menjadi fokus pembahasan dalam forum Ngopi Bareng dan Dialog Budaya Lintas Generasi yang digelar di Pendopo Majapura, Desa Majapura, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Kamis (16/7/2026) malam.

Mengusung tema "Menakar Masa Depan Nusantara: Integrasi Ekologi, Teknologi, dan Narasi Lokal di Era Digital", kegiatan tersebut mempertemukan sekitar 120 peserta yang terdiri atas kalangan muda, pegiat lingkungan, budayawan, akademisi, aparatur pemerintah, tokoh agama, praktisi media, hingga masyarakat umum dari Purbalingga, Banyumas, Pemalang, dan Banjarnegara.

Forum yang diinisiasi Kerabat Pendopo Majapura bersama Kerabat Nusantara Bangkit itu dikemas dalam suasana dialog terbuka dengan konsep lesehan. Ki Aji Bagus Dharmawan memandu jalannya diskusi yang mengangkat keterkaitan antara budaya lokal, pelestarian lingkungan, dan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Penyelenggara menyebutkan forum tersebut digelar sebagai upaya menjembatani kesenjangan kultural yang dihadapi generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi. Nilai-nilai budaya lokal dinilai perlu dihadirkan kembali dalam konteks yang relevan agar tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya generasi Z dan Alpha.

Salah satu narasumber, pegiat teknologi digital dan budaya asal Surakarta, Adhitiyas Bagus, menilai perkembangan teknologi, termasuk AI, dapat dimanfaatkan untuk memperkuat promosi budaya lokal apabila digunakan secara tepat.

"Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat akar budaya lokal, bukan justru menghilangkannya. Tantangannya adalah menyampaikan narasi budaya dengan pendekatan yang mudah diterima generasi digital tanpa mengurangi makna yang terkandung di dalamnya," ujarnya.

Sementara itu, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman sekaligus Ketua Komunitas Dharma Bhakti Patanjala, Indaru S. Nurprojo, menyoroti pentingnya kesadaran budaya dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya kawasan mata air di lereng timur Gunung Slamet.

Menurutnya, keberlangsungan sejumlah mata air selama ratusan tahun tidak hanya ditopang oleh aturan formal, tetapi juga oleh tradisi, cerita rakyat, simbol, dan kebiasaan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun.

"Pelestarian lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan regulasi. Kesadaran budaya yang hidup di masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan konservasi," katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa sejumlah kawasan seperti Ponjen, Tanalum, Grantung, dan Talagening menjadi contoh bagaimana nilai budaya masih berperan dalam mendukung upaya konservasi hingga saat ini.

Selain menjadi ruang diskusi, forum tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, media, dan masyarakat.

Penyelenggara menyatakan kegiatan serupa akan diselenggarakan secara berkala sebagai wadah dialog antargenerasi sekaligus memperkuat gerakan pelestarian budaya dan lingkungan di tingkat lokal.

Editor : EldeJoyosemito

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut