Sejarah Stasiun Slawi yang Beroperasi Sejak 1885, Dulunya untuk Angkut Teh dan Tembakau
SLAWI, iNewsPurwokerto.id – Stasiun Slawi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, bukan sekadar tempat naik dan turunnya penumpang kereta api. Selama lebih dari satu abad, stasiun ini menjadi bagian dari perjalanan sejarah sekaligus perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah Tegal bagian selatan.
Stasiun Slawi mulai beroperasi pada 1885 sebagai bagian dari jalur kereta api Tegal–Slawi–Prupuk. Pada masa kolonial, keberadaan jalur tersebut memiliki peran penting dalam mengangkut berbagai hasil perkebunan dari wilayah sekitar, terutama gula, teh, dan tembakau.
Seiring perubahan zaman, fungsi Stasiun Slawi turut bergeser. Jika dahulu kereta api banyak digunakan untuk mendukung distribusi hasil bumi, kini stasiun tersebut lebih banyak menjadi simpul mobilitas masyarakat, mulai dari pekerja, pelajar, mahasiswa, pedagang hingga wisatawan.
"Stasiun Slawi bukan hanya tempat kereta berhenti. Di dalamnya ada perjalanan masyarakat, aktivitas ekonomi, harapan untuk bekerja dan belajar, serta koneksi dengan daerah lain. Karena itu, keberadaan stasiun memiliki arti yang jauh lebih luas bagi masyarakat," kata Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto M. As'ad Habibuddin.
Penumpang Terus Bertambah
Peran Stasiun Slawi sebagai pusat mobilitas masyarakat terlihat dari tren peningkatan jumlah penumpang dalam beberapa tahun terakhir.
Data PT KAI mencatat rata-rata volume penumpang yang berangkat dan datang di Stasiun Slawi mencapai 16.671 orang per bulan pada 2023.
Jumlah tersebut meningkat menjadi 18.209 orang per bulan pada 2024, kemudian kembali naik menjadi 20.904 orang per bulan pada 2025.
Sementara hingga Juli 2026, rata-rata volume penumpang telah mencapai 23.417 orang per bulan. Angka tersebut meningkat sekitar 40 persen dibandingkan 2023.
"Pertumbuhan ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kereta api. Bagi KAI, setiap peningkatan jumlah pelanggan merupakan kepercayaan yang harus dijawab dengan pelayanan yang semakin aman, nyaman, tepat waktu, dan efisien," ujar As'ad.
Saat ini, Stasiun Slawi melayani delapan perjalanan kereta api setiap hari, yakni KA Kamandaka dan KA Joglosemarkerto.
Layanan tersebut memberikan akses bagi masyarakat Slawi dan sekitarnya menuju sejumlah kota di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kereta api pun menjadi pilihan untuk menunjang berbagai kebutuhan, seperti bekerja, menempuh pendidikan, berdagang, mengakses layanan kesehatan maupun bepergian untuk keperluan lainnya.
Dari Mengangkut Hasil Bumi hingga Manusia
Pada masa awal pengoperasiannya, jalur Tegal–Slawi–Prupuk menjadi salah satu sarana penting untuk mendukung kegiatan ekonomi. Hasil perkebunan dari wilayah sekitar Slawi dapat dibawa menuju daerah lain melalui jaringan kereta api.
Komoditas seperti gula, teh dan tembakau menjadi bagian dari aktivitas angkutan pada masa tersebut. Kereta api sekaligus melayani kebutuhan perjalanan masyarakat.
Kini, peran tersebut mengalami perubahan. Barang hasil perkebunan tidak lagi menjadi wajah utama aktivitas stasiun. Mobilitas manusia justru menjadi bagian penting dari kehidupan Stasiun Slawi.
Meski demikian, fungsi dasarnya tetap bertahan, yakni sebagai penghubung antardaerah.
Stasiun Slawi juga memiliki catatan tersendiri dalam perkembangan teknologi perkeretaapian Indonesia. Sejak 2005, stasiun tersebut menggunakan sistem persinyalan elektrik buatan dalam negeri dan tercatat sebagai stasiun pertama di Indonesia yang menggunakan sistem tersebut.
Menggerakkan Ekonomi di Sekitar Stasiun
Meningkatnya mobilitas penumpang turut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar stasiun.
Warung makan, kios, toko kelontong, pedagang makanan khas hingga penyedia jasa transportasi seperti ojek, becak dan angkutan kota menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang tumbuh mengikuti pergerakan penumpang.
Sejumlah kuliner khas Tegal juga mudah dijumpai, seperti tahu aci, kerupuk antor dan teh poci.
"Stasiun merupakan bagian dari ekosistem masyarakat. Semakin baik konektivitasnya, semakin besar pula peluang masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari mobilitas tersebut," kata As'ad.
Selain menjadi pintu masuk dan keluar masyarakat, Stasiun Slawi juga memberikan akses menuju sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Tegal.
Salah satunya Wisata Alam Guci yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Slawi. Ada pula Taman Rakyat Slawi Ayu (TRASA) yang menjadi salah satu ruang publik dan tujuan masyarakat.
Kemudahan akses transportasi tersebut membuka peluang bagi wisatawan dari daerah lain untuk menikmati potensi wisata, kuliner dan budaya Kabupaten Tegal.
Tradisi Moci dan Identitas Slawi
Perjalanan panjang Stasiun Slawi tidak terlepas dari identitas budaya masyarakat setempat. Salah satu tradisi yang dikenal luas adalah moci, yakni kebiasaan menikmati teh yang disajikan menggunakan poci berbahan tanah liat.
Tradisi minum teh tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Tegal dan mencerminkan keramahan lokal. Kuliner seperti tahu aci juga menjadi bagian dari identitas daerah yang kerap dicari oleh para pendatang.
Selama 141 tahun, Stasiun Slawi telah melewati berbagai perubahan. Dari sebuah stasiun yang memiliki peran dalam mengangkut komoditas perkebunan hingga menjadi salah satu simpul transportasi masyarakat modern.
"Selama 141 tahun, Stasiun Slawi telah menyaksikan banyak perubahan. Dari masa ketika kereta api mengangkut hasil bumi hingga sekarang ketika kereta api mengantarkan masyarakat menuju berbagai tujuan. Perannya terus berkembang, tetapi esensinya tetap sama, yaitu menghubungkan masyarakat dan membuka akses terhadap berbagai peluang," ujar As'ad.
PT KAI Daop 5 Purwokerto menyatakan akan terus meningkatkan pelayanan kereta api agar perjalanan masyarakat berlangsung aman, nyaman, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Bagi masyarakat Slawi, perjalanan panjang stasiun tersebut bukan sekadar catatan sejarah. Selama lebih dari satu abad, Stasiun Slawi telah menjadi saksi perjalanan masyarakat yang datang dan pergi, sekaligus ikut menggerakkan roda ekonomi dan kehidupan di sekitarnya.
Editor: EldeJoyosemito