Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Diduga akibat Kelalaian Bakar Sampah, Lahan 1,3 Hektare di Karanganyar Kebumen Terbakar
Advertisement . Scroll to see content

Dewan Pakar Geopark Kebumen Paparkan Geotrail di Forum Asia-Pasifik di Malaysia

Jum'at, 11 September 2026 | 07:24 WIB
  • author Elde Joyosemito
Dewan Pakar Geopark Kebumen Paparkan Geotrail di Forum Asia-Pasifik di Malaysia
Kebumen UNESCO Global Geopark (UGGp) terus memperkuat pengembangan potensi geologi, biodiversitas, dan budaya sebagai bagian dari pariwisata berkelanjutan. (Foto: Istimewa)

KEBUMEN, iNewsPurwokerto.id – Kebumen UNESCO Global Geopark (UGGp) terus memperkuat pengembangan potensi geologi, biodiversitas, dan budaya sebagai bagian dari pariwisata berkelanjutan. 

Promosi geotrail menjadi salah satu strategi yang dilakukan melalui pengembangan wisata olahraga dan kegiatan bisnis pariwisata.

Strategi tersebut dipaparkan Ketua Dewan Pakar Badan Pengelola Geopark Kebumen, Dr Ir Chusni Ansori MT, dalam 9th Asia Pacific Geoparks Network Symposium 2026 di Langkawi International Convention Centre, Malaysia, Kamis (10/9/2026).

Dalam forum yang dihadiri ilmuwan dan pengelola geopark dari berbagai negara itu, Chusni menyampaikan makalah berjudul “Geotrail in Kebumen UGGp, It's Promoted Through Kebumen Geopark Trail Run and Kebumen Travel Mart”.

Chusni menjelaskan, Kebumen UGGp memiliki kekayaan geologi yang menjadi dasar pengembangan geopark. Dengan tema “The Glowing Mother Earth of Java”, kawasan tersebut mencakup wilayah daratan sekitar 1.138,7 kilometer persegi dan wilayah laut 21,98 kilometer persegi, meliputi 22 kecamatan dan 374 desa.

Kekayaan geologi Kebumen terutama berada di dua kawasan geoheritage, yakni Karangsambung di wilayah utara dan Karangbolong di bagian selatan.

Karangsambung menyimpan bukti lantai samudra purba dan zona subduksi, sedangkan Karangbolong memiliki karakter bentang alam karst. Potensi tersebut diperkuat dengan 42 geosite, delapan biosite, dan 24 situs budaya.

Menurut Chusni, kekayaan tersebut dikemas dalam tiga jalur geowisata atau geotrail. Jalur pertama, “The True History of Mother Earth and Plate Tectonic Theory”, mengajak wisatawan memahami sejarah bumi dan teori tektonik lempeng.

Jalur kedua, “The Cave: Natural and Human Life”, mengangkat proses karstifikasi dan vulkanik serta keterkaitannya dengan kehidupan manusia, biodiversitas, dan budaya di kawasan gua.

Sementara jalur ketiga, “The Paradise of Oceanic Warmth & Culture”, mengeksplorasi kawasan pesisir Kebumen dengan menggabungkan pemahaman mengenai proses geologi dan budaya masyarakat.

“Keunggulan Kebumen UGGp tidak hanya terletak pada ancient land atau bukti geologi berumur Kapur, tetapi juga living nature dan living culture yang berkembang di tengah masyarakat,” kata Chusni dalam paparannya.

Ia mengatakan, perpaduan geologi, alam, dan budaya tersebut membuka peluang pengembangan berbagai segmen pariwisata, mulai dari geowisata, wisata edukasi, wisata petualangan, pariwisata berbasis masyarakat hingga MICE.

Salah satu media promosi yang dikembangkan adalah Kebumen Geopark Trail Run (KGTR). Kegiatan ini memadukan olahraga, petualangan, sekaligus pengenalan destinasi geopark kepada peserta.

Rute lomba dirancang melewati berbagai bentang alam Kebumen, mulai dari kawasan pantai, perbukitan, hutan hingga desa wisata. Peserta tidak sekadar mengikuti perlombaan, tetapi juga menikmati langsung kekayaan alam dan geologi kawasan geopark.

Pada 2025, KGTR diikuti sekitar 1.600 pelari dengan kategori 3, 7, 14, dan 21 kilometer. Pada 2026, kategori diperluas menjadi 7, 17, 30, dan 50 kilometer. Kegiatan tersebut disebut menghasilkan perputaran dana lebih dari Rp1 miliar bagi pelaku UMKM.

Dalam presentasinya, Chusni yang juga Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumberdaya Geologi BRIN, menunjukkan sejumlah pengembangan konsep, antara lain night running, cave trail, dan rute yang melintasi kawasan pesisir.

Menurut dia, konsep tersebut dapat menjadi sarana untuk menjangkau wisatawan muda sekaligus mengembangkan wisata olahraga dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Selain KGTR, Kebumen Travel Mart 2026 menjadi instrumen pemasaran lainnya. Kegiatan tersebut menggabungkan konsep B2B tabletop, business matching, dan pertunjukan budaya.

Chusni menyebut Travel Mart mempertemukan 258 buyer dari berbagai daerah di Indonesia dan 14 peserta dari Malaysia dengan 60 seller dari Kebumen dan sejumlah wilayah di Jawa.

Rangkaian kegiatan budaya dalam Travel Mart juga menarik lebih dari 3.000 pengunjung lokal. Sementara perputaran dana selama kegiatan disebut mencapai lebih dari Rp2 miliar.

Menurut Chusni, kegiatan tersebut tidak hanya mempromosikan destinasi wisata, tetapi juga memperkenalkan produk makanan, suvenir, dan produk ekonomi kreatif masyarakat.

Pengembangan geopark juga mendapat dukungan kebijakan pemerintah daerah melalui Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pengembangan Geopark Kebumen. Selain itu, pemerintah daerah telah menyiapkan master plan pengembangan geopark periode 2025–2034 dan memasukkan pengembangan geopark dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah.

Chusni mengatakan, penguatan branding geopark mulai memberikan dampak terhadap sektor pariwisata dan perekonomian daerah.

Mengacu pada penelitian Yunianto dan tim pada 2026, sejumlah indikator pembangunan berkelanjutan di Kebumen menunjukkan perkembangan positif seiring penguatan kelembagaan geopark. Aktivitas pariwisata, antara lain, disebut tumbuh dengan peningkatan akomodasi sekitar 5,33 persen per tahun dan kunjungan wisatawan 13,98 persen per tahun.

Pertumbuhan tersebut juga dikaitkan dengan bertambahnya kesempatan kerja, peningkatan tingkat partisipasi angkatan kerja, penurunan pengangguran, pertumbuhan ekonomi daerah, serta peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM).

Chusni menilai kekuatan utama Kebumen UGGp terletak pada keterhubungan antara geologi, alam, dan kehidupan masyarakat. Karena itu, geopark tidak hanya menjadi kawasan untuk menikmati bentang alam, tetapi juga ruang pembelajaran, petualangan, interaksi budaya, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

“Geopark bukan hanya tentang batuan dan bentang alam, tetapi juga bagaimana kekayaan geologi terhubung dengan biodiversitas, budaya, dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Editor: EldeJoyosemito

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut