Menelusuri Jejak Energi Bersih dari Sawah hingga Pesisir Cilacap
CILACAP, iNewsPurwokerto.id – Matahari menjadi sumber energi yang semakin penting bagi warga di sejumlah wilayah pinggiran Cilacap. Dari lahan pertanian di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, hingga kawasan pesisir Dusun Bondan, Kecamatan Kampung Laut, dan Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, energi surya dimanfaatkan untuk menopang berbagai aktivitas masyarakat.
Panel-panel surya yang terpasang di sejumlah lokasi bukan sekadar perangkat penghasil listrik. Teknologi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian masyarakat sekaligus membuka ruang bagi kegiatan ekonomi yang lebih ramah lingkungan.
Pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) itu dikembangkan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap melalui program Desa Energi Berdikari (DEB).
Salah satu lokasi yang menjadi contoh pemanfaatan energi surya adalah DEB Kalijaran. Di desa yang berada di Kecamatan Maos itu, energi matahari dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas pertanian, khususnya melalui pompa irigasi.
Pengembangan program dilakukan melalui pemberdayaan dan pendampingan kelompok petani. PLTS berkapasitas 6,54 kilowatt peak (kWp) digunakan sebagai sumber energi untuk pompa irigasi pertanian.
Pemanfaatan energi surya tersebut mampu menghemat biaya listrik hingga sekitar Rp45 juta. Pada saat yang sama, penggunaan EBT juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon sebesar 8,98 ton CO₂e setiap tahun.
Manfaatnya tidak berhenti pada persoalan energi dan lingkungan. Program tersebut juga memberikan dampak ekonomi. Total pendapatan kelompok penerima manfaat DEB Kalijaran tercatat sekitar Rp220 juta per tahun.
Gambaran pemanfaatan energi bersih tersebut terlihat saat Pertamina bersama masyarakat menggelar panen raya jagung dalam rangkaian Pertamina Media Xpose (Pertamax) Journey 2026 pada pekan ini.
Vice President Community Involvement & Development (CID) Pertamina Patra Niaga Dian Hapsari Firasati mengatakan program DEB dirancang bukan hanya untuk menghadirkan akses energi, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat dan perbaikan lingkungan.
“Melalui Desa Energi Berdikari, kami ingin memastikan bahwa pemanfaatan energi bersih dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan,” ujar Dian.
Energi Surya di Pesisir Kampung Laut
Perjalanan kemudian berlanjut ke wilayah pesisir Cilacap. Di Dusun Bondan, Kecamatan Kampung Laut, pemanfaatan energi bersih memiliki arti yang lebih luas bagi masyarakat.
Wilayah yang berada di kawasan perairan tersebut mengembangkan PLTS untuk mendukung kebutuhan listrik masyarakat. Energi yang dihasilkan tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menunjang kegiatan pendidikan, keagamaan hingga aktivitas ekonomi produktif.
PLTS di Dusun Bondan memiliki kapasitas 16,2 kWp. Pemanfaatannya mampu menghasilkan penghematan biaya listrik hingga sekitar Rp147 juta.
Dari aspek lingkungan, penggunaan energi surya tersebut mampu mereduksi emisi karbon hingga 22,23 ton CO₂e per tahun.
Program DEB di Bondan juga memberikan dampak ekonomi. Total pendapatan kelompok penerima manfaat tercatat sekitar Rp12 juta per tahun.
Bagi masyarakat, keberadaan sumber energi bersih menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kehidupan di wilayah yang secara geografis memiliki tantangan tersendiri.
Dari Bank Sampah hingga Kampoeng Kepiting
Model berbeda terlihat di Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah. Di kawasan pesisir ini, energi terbarukan dipadukan dengan aktivitas ekonomi masyarakat dan pengelolaan lingkungan.
PLTS dimanfaatkan antara lain untuk mendukung operasional bank sampah dan pompa aerasi di Kampoeng Kepiting.
PLTS yang memiliki kapasitas 13 kWp tersebut menghasilkan penghematan biaya listrik sekitar Rp27,4 juta. Penggunaan energi surya juga berkontribusi terhadap reduksi emisi karbon sebesar 17,84 ton CO₂e setiap tahun.
Dampak ekonomi program DEB di Kutawaru bahkan terlihat cukup besar. Total pendapatan kelompok penerima manfaat mencapai sekitar Rp958 juta per tahun.
Ketiga wilayah tersebut memperlihatkan bahwa energi bersih dapat diterapkan sesuai dengan karakter masyarakat dan potensi lokal. Di Kalijaran, energi surya menopang sektor pertanian. Di Bondan, PLTS membantu memenuhi kebutuhan energi masyarakat pesisir. Sementara di Kutawaru, EBT terhubung dengan pengelolaan lingkungan dan kegiatan ekonomi.
154 Desa Energi Berdikari
Dian mengatakan pengembangan DEB tidak hanya dilakukan di Cilacap. Hingga saat ini, Pertamina telah memiliki 154 program Desa Energi Berdikari yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Program tersebut terdiri atas 95 DEB Ketahanan Pangan, 20 DEB Pesisir Modern, dan 39 DEB Wisata Energi.
Menurut Dian, keberadaan program tersebut menjadi bagian dari komitmen Pertamina dalam mendorong pemanfaatan energi bersih yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Sementara itu, Executive General Manager RU Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan berbagai program DEB di Cilacap menunjukkan komitmen Pertamina dalam memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
“Selain menjalankan tugas utama menyediakan energi terbaik bagi negeri, Pertamina juga memiliki komitmen untuk terus menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan,” kata Hermawan.
Pengembangan energi baru terbarukan di desa-desa tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemasangan panel surya. Lebih jauh, energi bersih menjadi modal untuk memperkuat ketahanan pangan, mengembangkan ekonomi masyarakat, sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.
Dari lahan pertanian hingga kampung pesisir, matahari kini tidak hanya menjadi bagian dari keseharian warga Cilacap. Energinya mulai diolah menjadi kekuatan baru untuk membuat masyarakat lebih mandiri.
Editor: EldeJoyosemito