Film Judheg Rekam Luka Sosial serta Ungkit Daya Hidup yang Luar Biasa
Warti yang juga masih bekerja sebagai pengrajin bulu mata palsu sambil mengasuh bayinya kemudian mencari kekuatan untuk mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
“Apakah dia akan bertahan atau keluar dari rumah tangga toxic demi menyelamatkan diri dan anaknya, itu yang menjadi jalan cerita utama Judheg,” imbuh Misya.
Judheg menyoroti bagaimana tubuh perempuan merekam luka sosial dan emosional, tetapi juga menyimpan daya hidup yang luar biasa. “Film ini menjadi potret getir tentang perempuan muda yang telah kehilangan masa remajanya, kemudian berusaha memperbaikinya,” katanya
Film yang diproduksi oleh Rekam Films ini mencatat sejarah sebagai film panjang pertama dari Purbalingga atau Banyumas Raya yang menggunakan Bahasa Banyumasan (Ngapak). Film ini juga melibatkan pemain dan kru yang seluruhnya berasal dari Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Banjarnegara.
Sebelumnya, Judheg dengan judul internasionalnya Penat atau Worn Out, sudah tayang di ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20 Tahun 2025, berkompetisi dalam program Indonesian Screen Awards.
Sidik Nur Rahmat, salah satu penonton yang hadir sangat mengapresiasi Judheg. Menurutnya, film tersebut harus diputar keliling di Purbalingga. “Film ini sangat bagus untuk menjadi alat sosialsiasi penyadaran berbagai persoalan yang benar-benar di alami di perdesaan Purbalingga,” katanya.
Editor: EldeJoyosemito