Sinemaphoria Banyumas 2026 Umumkan Pemenang, Film Uleman Terbaik Kategori Sineas Lokal
PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id – Festival Film Sinemaphoria Banyumas (FFSB) 2026 menetapkan sejumlah film sebagai pemenang dalam malam penganugerahan di The Village Purwokerto. Film Uleman keluar sebagai Film Terbaik kategori sineas lokal, mengungguli karya-karya lain yang berkompetisi dalam festival tersebut.
Festival yang berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 itu menghadirkan tiga kategori kompetisi, yakni sineas lokal, fiksi umum, dan dokumenter umum. Ajang ini menjadi ruang apresiasi bagi para pembuat film sekaligus mempertemukan karya sinema dengan penonton.
Pada kategori sineas lokal, Uleman meraih penghargaan Film Terbaik. Film Demokrasi Semu memperoleh penghargaan Special Mention, sedangkan Tembelek dinobatkan sebagai peraih Sinematografi Terbaik.
Di kategori fiksi umum, penghargaan Film Terbaik diraih A Cat Can Look at a King, sementara WUK mendapatkan Special Mention. Adapun kategori dokumenter umum menempatkan DJUM sebagai Film Terbaik dan Mariana sebagai penerima Special Mention.
Malam penganugerahan tersebut menjadi puncak rangkaian FFSB 2026. Selain kompetisi dan pemutaran film, festival ini juga menghadirkan kelas master bersama Ismail Basbeth serta pertunjukan seni budaya.
Pemkab Banyumas Dukung Ekosistem Perfilman Daerah
Plt Kepala Dinpora Banyumas Junaidi memberikan selamat kepada seluruh peserta dan pemenang FFSB 2026. Ia juga mengapresiasi Balai Film Banyumas yang telah menyelenggarakan festival tersebut.
Junaidi menyampaikan bahwa film memiliki peran lebih luas daripada sekadar hiburan. Film dapat menjadi media untuk merekam kehidupan masyarakat, menyampaikan pemikiran, serta mengangkat berbagai persoalan sosial.
Pemkab Banyumas berharap Balai Film Banyumas terus berkembang melalui program-program yang mendukung kemajuan perfilman daerah. Keberadaan ruang kreatif dinilai penting untuk membuka kesempatan bagi sineas lokal dalam menghasilkan karya dan mengembangkan kemampuan mereka.
Berawal dari Keterbatasan Ruang Kreatif
Founder Balai Film Banyumas sekaligus Project Director FFSB 2026, Gilang Akbar, mengatakan Sinemaphoria berawal dari keprihatinan terhadap terbatasnya ruang kreativitas bagi masyarakat Banyumas, khususnya di bidang perfilman.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya Balai Film Banyumas sebagai wadah bagi masyarakat yang ingin belajar, mengembangkan keterampilan, dan memproduksi karya film.
Menurut Gilang, Balai Film Banyumas telah terdaftar di Kementerian Hukum dan menjalankan sejumlah program secara rutin. Salah satunya adalah produksi film bersama yang melibatkan berbagai pihak dalam proses kreatif.
Salah satu karya yang lahir dari program tersebut adalah film Other Mother. Produksi film itu melibatkan 45 kru dan talenta yang seluruhnya berasal dari wilayah Banyumas Raya.
Gilang menjelaskan, film tersebut telah dikirimkan ke sejumlah festival film. Karya itu juga terakhir diputar di Gedung Ismail di Jakarta, berdasarkan keterangan yang disampaikannya.
Keterlibatan puluhan kru dan talenta lokal dalam produksi Other Mother menjadi salah satu upaya Balai Film Banyumas untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang perfilman sekaligus mendorong lahirnya karya dari daerah.
Melalui penyelenggaraan Sinemaphoria Banyumas 2026, Balai Film Banyumas berupaya memperluas ruang pertemuan antara pembuat film dan penonton. Keberlanjutan festival, program produksi, serta kolaborasi antarpelaku kreatif diharapkan dapat memperkuat ekosistem perfilman dan membuka lebih banyak peluang bagi sineas lokal Banyumas Raya untuk berkarya.
Editor: EldeJoyosemito