Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Bupati Sadewo Pastikan Warga Desil 1-5 di Banyumas Tetap Bisa Berobat Gratis
Advertisement . Scroll to see content

Maestro Lengger Narsih dan Jejak Panjang Pelestarian Seni Tradisi Banyumasan

Jum'at, 30 Oktober 2026 | 15:55 WIB
  • author Arbi Anugrah
Maestro Lengger Narsih dan Jejak Panjang Pelestarian Seni Tradisi Banyumasan
Perjalanan kesenimanan Maestro Lengger Narsih dalam program Banyumas Adhigana Stage di Taman Sari, Banyumas. Foto: Istimewa

BANYUMAS, iNewsPurwokerto.id - Lebih dari setengah abad mengabdikan diri pada seni tradisi, Maestro Lengger Narsih menyimpan perjalanan panjang yang tak sekadar tercatat melalui pertunjukan. Pengalaman, pengetahuan, hingga benda-benda yang menemani aktivitas berkesenian menjadi bagian dari sejarah hidup yang kini diperkenalkan kepada publik.

Perjalanan seniman bernama Narsihati tersebut diangkat melalui pameran arsip DHAROHARA: Jejak-Jejak Ketubuhan Banyumasan, salah satu rangkaian program perdana Banyumas Adhigana Stage (BAS) bertajuk Ketubuhan Banyumasan. Kegiatan berlangsung di halaman belakang Taman Sari, kawasan Kota Lama Banyumas, Sabtu (24/10/2026) lalu.

Bagi perempuan yang akrab disapa Biyung Narsih atau Mbok Narsih itu, Lengger bukan sekadar seni pertunjukan. Kesenian tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup sekaligus ruang untuk menjaga hubungan antara tradisi dan masyarakat Banyumas.


Perjalanan kesenimanan Maestro Lengger Narsih dalam program Banyumas Adhigana Stage di Taman Sari, Banyumas. Foto: istimewa

Lahir dan tumbuh di Desa Pegalongan, Banyumas, Biyung Narsih mulai mengenal dunia seni sejak berusia tujuh tahun. Ia mengawali perjalanannya melalui tradisi mbarang dan midhang, berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk menari sekaligus menghibur masyarakat.

Pengalaman selama puluhan tahun membentuk karakter penampilannya. Di atas panggung, ia dikenal dengan gerakan Lengger yang lincah dan ekspresif, termasuk penguasaan gerak sendhetan lumpatan.

Kemampuannya tidak hanya terlihat dalam tarian. Biyung Narsih juga memiliki kemampuan nyinden dengan karakter vokal Banyumasan yang khas. Interaksinya dengan penonton melalui dialog spontan dan humor membuat pertunjukannya terasa dekat dengan masyarakat.

Lebih jauh, ia memandang Lengger sebagai bagian dari kehidupan sosial dan tradisi masyarakat agraris. Salah satunya terlihat dalam Ritus Baritan, yang berkaitan dengan doa dan harapan masyarakat terhadap keselamatan, kesuburan tanah, serta keberhasilan panen.

Pengetahuan tersebut terus dijaga melalui aktivitas berkesenian dan Sanggar Ngudi Luwesing Salira. Sanggar ini menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal dan meneruskan seni tradisi Lengger serta musik Calung Banyumasan.

Pengabdiannya mendapat pengakuan melalui penghargaan sebagai Maestro Banyumas. Kisah hidupnya juga diangkat dalam pertunjukan teater tari Memoar Lengger Narsih: Ritus Baritan dan film dokumenter biografi URUP: Uriping Maestro Lengger Narsih.

Melalui DHAROHARA, BAS menghadirkan perjalanan Biyung Narsih dalam bentuk foto, dokumen, busana, aksesori, hingga benda-benda yang berkaitan dengan praktik keseniannya.

Koleksi yang dipamerkan antara lain sampur atau selendang Lengger, sanggul tekuk, mekak atau kemben, ilat-ilat, slebeg, kain batik, dan rok songket. Ada pula aksesori berupa cunduk, sirkam, dan jamang.

Sejumlah foto masa muda, dokumentasi karya, potret bersama kerabat, serta sesajen Lengger turut melengkapi pameran tersebut.

Benda-benda itu bukan sekadar koleksi pribadi. Busana dan aksesori menjadi bagian dari pengalaman tubuh ketika menari, sedangkan foto serta dokumentasi merekam perjalanan yang membentuk sejarah kesenimanan Biyung Narsih.

Penasihat BAS, Andy F. Noya, turut hadir bersama istri, Prof. Condro, Subarkah, serta sejumlah budayawan, seniman, dan akademisi dari wilayah Banyumasan.

Andy mengaku bangga melihat perjalanan panjang Biyung Narsih yang tidak hanya ditunjukkan melalui kemampuan menari, tetapi juga dedikasinya dalam menjaga keberlanjutan Lengger.

“Biyung Narsih sudah menempuh perjalanan panjang dalam dunia Lengger. Melihat berbagai arsip yang dipajang di sini, saya merasa sangat bangga bahwa di wilayah Banyumas Raya kita memiliki figur seperti beliau. Tidak hanya mampu menari Lengger, tetapi juga mampu merawat Lengger,” ungkap Andy F. Noya.

Pameran tersebut juga dilengkapi lukisan berjudul Tubuh Lengger dari Kie Art Projects. Karya seniman asal Purbalingga, Darmawan, itu dibuat secara langsung melalui proses live painting.

Lukisan tersebut menghadirkan interpretasi visual mengenai tubuh Lengger sebagai ekspresi seni sekaligus ruang penyimpan pengetahuan budaya Banyumasan.

Dalam kunjungan pameran, para tamu didampingi langsung oleh Biyung Narsih. Sementara itu, penyusunan dan pengelolaan arsip dilakukan Anjar Tri Laksana dari bagian artistik BAS bersama Anisa Rakhma sebagai pendamping Maestro Lengger Narsih.

Selain mengangkat perjalanan seorang maestro, program Ketubuhan Banyumasan menjadi langkah awal BAS dalam membangun ruang pertemuan bagi pelaku seni dan budaya di Banyumas Raya.

Camat Banyumas sekaligus Pembina BAS, Jakarta Tisam, mengatakan BAS dibentuk untuk merangkul berbagai potensi seni dan budaya, tidak terbatas pada satu wilayah maupun disiplin kesenian.

“Sejak awal dibentuk, Banyumas Adhigana Stage (BAS) berangkat dari sebuah gagasan yang membawa harapan besar bagi perkembangan seni dan budaya Banyumasan. Kami ingin membangun ruang yang tidak hanya menjangkau satu wilayah atau satu disiplin seni, tetapi mampu merangkul beragam potensi, pelaku, komunitas, dan praktik kebudayaan di seluruh Banyumas Raya," kata Jakarta Tisam. 

Menurutnya, untuk mewujudkan gagasan tersebut bukanlah perkara mudah dan tidak dapat dicapai secara instan. Dibutuhkan proses, konsistensi, komitmen, serta keterlibatan banyak pihak agar BAS dapat tumbuh menjadi ruang bersama yang berkelanjutan. 

"Karena itu, kami berharap BAS tidak hanya menjadi tempat untuk menampilkan karya, tetapi juga ruang untuk saling mengenal, bertukar pengetahuan, membangun kolaborasi, dan membuka kesempatan bagi tumbuhnya inisiatif-inisiatif kreatif baru,” ungkapnya.

Direktur BAS, Slamet Santosa, menjelaskan bahwa wadah tersebut hadir untuk menjawab kebutuhan para praktisi seni terhadap ruang berkarya, bertukar pengetahuan, memperluas jejaring, dan membangun kolaborasi lintas disiplin.

Pada program perdananya, BAS melibatkan satu maestro dan tiga kelompok seni dari wilayah Banyumas Raya. Mereka adalah Lengger Narsih, Sanggar Tari Panji Mas dari Banyumas, Pemuda Kie Seni dari Purbalingga, serta Renjana Art Dance dari Cilacap.

Keempatnya menampilkan karya dengan karakter dan pendekatan artistik berbeda. Seluruh pertunjukan dirangkai melalui proses kurasi agar memiliki hubungan dalam satu kesatuan pertunjukan.

Stage Manager BAS, Adam Fauzi Guntar, mengatakan penyusunan alur pertunjukan mempertimbangkan gagasan dan tujuan yang disampaikan setiap kelompok seni.

“Setiap karya yang dipertunjukkan dalam Ketubuhan Banyumasan dikurasi dan disusun dengan mempertimbangkan maksud, gagasan, serta tujuan yang disampaikan dalam deskripsi karya masing-masing talenta. Seluruh karya tersebut tidak hanya dihadirkan sebagai pertunjukan yang berdiri sendiri, tetapi dirangkai sebagai bagian dari satu kesatuan artistik. Pada puncak pertunjukan, kolaborasi antarkarya memang dirancang untuk mempertegas semangat Rangkulan SAMARASA—sebuah pertemuan yang merangkul beragam ekspresi, pengalaman, dan karakter ketubuhan dalam satu ruang kebersamaan,” ungkap Fauzi.

Kolaborasi bertajuk Rangkulan SAMARASA menjadi penutup rangkaian pertunjukan. Setiap kelompok tetap membawa identitas artistiknya, tetapi dipertemukan dalam satu ruang kebersamaan.

Melalui program tersebut, BAS berharap dapat memperkuat hubungan antarpelaku seni dari Banyumas, Purbalingga, Cilacap, hingga Banjarnegara. Perjumpaan, pertukaran pengalaman, dan proses kreatif menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni budaya Banyumasan yang berkelanjutan.

Bagi Biyung Narsih, perjalanan lebih dari 55 tahun di dunia Lengger kini tidak hanya menjadi catatan perjalanan pribadi. Melalui arsip dan pewarisan pengetahuan, pengalaman panjang itu turut membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk mengenal dan menjaga tradisi Banyumasan.

Editor: Arbi Anugrah

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut