Ia menambahkan, penurunan harga emas dunia akibat meredanya tensi geopolitik turut berpengaruh terhadap harga emas perhiasan di pasar domestik.
Dari sisi kelompok pengeluaran, deflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Di Purwokerto, kelompok tersebut mengalami deflasi 0,62 persen dengan andil minus 0,19 persen. Sedangkan di Cilacap, deflasi mencapai 0,67 persen dengan andil minus 0,22 persen,” katanya.
Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit.
Meski terjadi deflasi secara bulanan, inflasi tahunan di Banyumas Raya tetap terkendali dan berada dalam target nasional sebesar 2,5±1 persen.
Christoveny menuturkan kondisi tersebut tidak lepas dari sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Berbagai langkah pengendalian inflasi terus diperkuat melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera, mulai dari Gerakan Pangan Murah, pengembangan sentra komoditas, panen hasil pemberdayaan petani milenial dan pesantren, fasilitasi distribusi pangan, hingga kerja sama antardaerah,” pungkasnya.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
