Menurut Yugo, jegulan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan jemparingan pada umumnya. Dalam teknik ini, pemanah menarik busur hingga sejajar dada dan melepaskan anak panah tanpa dapat melihat sasaran secara langsung.
“Selain sebagai ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarpegiat panahan tradisional sekaligus upaya menjaga kelestarian budaya di tengah perkembangan zaman,” katanya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan juga diharapkan dapat mendukung pengembangan wisata budaya di kawasan Kota Lama Banyumas.
Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menilai jemparingan bukan sekadar olahraga yang mengandalkan ketepatan membidik sasaran. Lebih dari itu, olahraga tradisional tersebut juga mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan ketenangan batin.
“Olahraga ini merupakan bentuk pelatihan untuk membentuk karakter karena selain teknik yang harus dikuasai, juga diperlukan ketenangan dan kedamaian batin,” kata Sadewo saat membuka acara.
Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan Kota Banyumas sebagai pusat kegiatan budaya di Kabupaten Banyumas. Berbagai agenda budaya akan terus didorong agar kawasan tersebut semakin dikenal sebagai destinasi pelestarian tradisi dan seni lokal.
“Kita ingin menjadikan Banyumas sebagai pusat kegiatan budaya di Kabupaten Banyumas. Itu cita-cita saya,” ujarnya.
Sadewo juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan, mulai dari panitia, sponsor hingga peserta yang datang dari berbagai daerah. Menurutnya, jemparingan dan jegulan merupakan warisan budaya yang sarat nilai filosofi sehingga perlu terus dijaga keberlangsungannya melalui regenerasi dan kegiatan-kegiatan pelestarian budaya secara berkelanjutan.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
