Dua Profesor AS Berbagi Pengalaman Pendidikan Kepemimpinan Interkultural

Elde Joyosemito
Dua profesor dari Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, berbagi pengalaman mengenai pentingnya kepemimpinan interkultural dalam dunia pendidikan. (Foto: iNewsPurwokerto)

PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id – Dua profesor dari Northern Illinois University (NIU), Amerika Serikat, berbagi pengalaman mengenai pentingnya kepemimpinan interkultural dalam dunia pendidikan melalui Educational Talk Show bertajuk "Bridging the Gap: Cultivating Intercultural Leadership" yang diselenggarakan SMA Soteria Mahardika Purwokerto, Rabu (15/7/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. James Cohen, pakar ESL/Bilingual Education, serta Prof. Dr. Teresa A. Wasonga, pakar Leadership, Educational Psychology and Foundations. Talk show diikuti kepala sekolah dan guru SMP dari berbagai sekolah di Kabupaten Banyumas.

Dalam paparannya, kedua akademisi menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga oleh sinergi antara keluarga dan sekolah.

"Keluarga merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter anak. Sekolah kemudian memperkuat fondasi tersebut melalui lingkungan belajar yang mendorong rasa ingin tahu, kepemimpinan, kolaborasi, serta penghargaan terhadap keberagaman. Ketika keduanya berjalan seiring, peserta didik akan berkembang lebih optimal, baik secara akademik maupun personal," ujar Prof. Dr. Teresa A. Wasonga.

Sementara itu, Prof. Dr. James Cohen menilai kemampuan memahami perbedaan budaya menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki peserta didik maupun pendidik.

"Pendidikan interkultural bukan sekadar mengenalkan budaya yang berbeda, tetapi membantu peserta didik memahami berbagai perspektif, membangun empati, dan mampu bekerja sama dengan siapa pun di tengah masyarakat yang semakin beragam," katanya.

Sebagai sekolah yang mengusung konsep pendidikan interkultural di Purwokerto, SMA Soteria Mahardika mengembangkan kurikulum yang memadukan Kurikulum Merdeka, pendekatan Intercultural Education, serta penguatan kompetensi global.

Sekolah juga memiliki berbagai program unggulan seperti pembelajaran multibahasa, pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) berperspektif lintas budaya, hingga Pathways Program yang didukung Career Development Center untuk membantu peserta didik merencanakan pendidikan lanjutan dan karier sesuai perkembangan global.

Pengembangan SMA Soteria Mahardika didampingi konsultan pendidikan internasional Nusa Widyantara Indonesia yang bekerja sama dengan Northern Illinois University. Kolaborasi tersebut bertujuan menghadirkan praktik pendidikan berstandar internasional tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal Indonesia.

Dalam sesi diskusi, kedua profesor juga memperkenalkan konsep service culture dan deep culture. Service culture berkaitan dengan sikap yang tampak dalam kehidupan sehari-hari, seperti keramahan, tata krama, dan pelayanan. Sementara deep culture menyangkut nilai-nilai mendasar seperti cara berpikir, keyakinan, pola komunikasi, hingga cara memandang keberagaman.

"Pendidikan interkultural yang efektif harus mampu membangun kedua dimensi tersebut secara bersamaan. Peserta didik tidak hanya belajar berperilaku baik, tetapi juga memahami nilai-nilai yang mendasari setiap tindakan dan menghargai perbedaan," ujar James Cohen.

Kepala SMA Soteria Mahardika Tabita Christiana mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring pendidikan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan mitra internasional.

"Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat melahirkan inovasi pembelajaran yang berdampak bagi peningkatan kualitas pendidikan di Banyumas sekaligus mempersiapkan peserta didik menjadi pemimpin yang mampu berkiprah di tingkat global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia," ujarnya.

Salah satu peserta, Kepala SMP Negeri 1 Patikraja Aris Budiasono, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pemahaman baru tentang perbedaan sekolah interkultural dan sekolah internasional. Menurutnya, sekolah internasional lebih berorientasi pada standar global, sedangkan sekolah interkultural menitikberatkan pada penguatan nilai-nilai keberagaman budaya.

"Selama ini banyak yang menganggap sekolah interkultural sama dengan sekolah internasional. Padahal, sekolah interkultural lebih mengedepankan keberagaman budaya," kata Aris.

Editor : EldeJoyosemito

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network