Melalui hasil pemetaan tersebut, sekolah maupun pemangku kepentingan pendidikan dapat mengetahui aspek yang perlu diperkuat dalam proses belajar mengajar.
"Melalui ini, sinergi antara pihak dinas, kepala sekolah dan para guru diharapkan dapat menyamakan pemahaman, memperkuat kesiapan, serta memberikan pembekalan yang matang bagi para pendidik dalam mendampingi siswa menghadapi TKA," ujarnya.
Sadewo menjelaskan, TKA untuk jenjang SD memiliki fokus utama pada penguatan kemampuan literasi dan numerasi.
Kemampuan yang diukur, kata dia, tidak sebatas kemampuan membaca maupun berhitung secara dasar. Lebih jauh, peserta didik juga dituntut mampu memahami informasi, berpikir logis, serta menyelesaikan berbagai persoalan.
Karena itu, ia mengingatkan agar pelaksanaan TKA tidak kemudian menjadi alat untuk menyeragamkan kemampuan maupun potensi seluruh siswa.
Menurut Sadewo, setiap anak memiliki bakat, minat, dan kemampuan yang berbeda. Perbedaan tersebut harus dihargai dengan memberikan ruang kepada setiap peserta didik untuk berkembang sesuai dengan potensinya masing-masing.
"Setiap anak dipahami memiliki bakat dan potensi yang berbeda-beda, sehingga proses pemetaan kemampuan ini dilakukan tanpa memaksakan bidang tertentu kepada siswa yang memiliki keahlian di bidang lain," tegasnya.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
