"Kami terus mendorong perluasan akseptasi dan penggunaan QRIS melalui edukasi serta aktivasi kepada berbagai kelompok masyarakat," ujarnya.
Program edukasi dan aktivasi tersebut menyasar masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang pasar, pondok pesantren, komunitas perempuan, hingga kelompok lanjut usia.
Menurut Aswin, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital di Banyumas Raya. Dengan semakin luasnya penggunaan pembayaran digital, manfaat transformasi sistem pembayaran diharapkan dapat dirasakan masyarakat maupun pelaku usaha.
"Perkembangan ekonomi dan keuangan digital di Banyumas Raya sejalan dengan pertumbuhan secara nasional. Pada Agustus 2026, transaksi ekonomi dan keuangan digital nasional tumbuh 40,36 persen secara tahunan (yoy) menjadi 6,11 miliar transaksi," katanya.
Secara nasional, akseptasi QRIS juga terus berkembang. Hingga Agustus 2026, jumlah pengguna QRIS mencapai 69,32 juta, sedangkan jumlah merchant mencapai 47,11 juta.
Sementara itu, volume transaksi ritel melalui BI-FAST tercatat mencapai 549 juta transaksi dengan nilai Rp1.346 triliun.
Selain memperluas penggunaan QRIS, KPwBI Purwokerto juga mendorong inovasi dan pengembangan talenta digital. Salah satunya melalui Mini Hackathon yang digelar dalam rangkaian Pekan QRIS Nusantara (PQN) 2026 pada 11-17 Agustus 2026.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
