Dari Angkutan Gula hingga Kereta Modern, Ini Stasiun Kutowinangun yang Berdiri Sejak 1887

Elde Joyosemito
Stasiun Kutowinangun di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, terus berperan sebagai salah satu simpul transportasi kereta api yang menunjang mobilitas masyarakat. (Foto: Istimewa)

KEBUMEN, iNewsPurwokerto.id – Stasiun Kutowinangun di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, terus berperan sebagai salah satu simpul transportasi kereta api yang menunjang mobilitas masyarakat. 

Stasiun yang telah beroperasi sejak abad ke-19 itu kini melayani 17 perjalanan kereta api setiap hari dengan tujuan berbagai kota, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya hingga Banyuwangi.

Stasiun Kutowinangun berada di bawah pengelolaan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 5 Purwokerto. Keberadaannya memberikan alternatif transportasi bagi masyarakat untuk berbagai keperluan, seperti bekerja, menempuh pendidikan, mengunjungi keluarga, maupun berwisata.

Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto M As’ad Habibuddin mengatakan layanan kereta api dari Stasiun Kutowinangun mendukung konektivitas masyarakat Kebumen dan daerah sekitarnya dengan berbagai wilayah di Pulau Jawa.

“Keberadaan Stasiun Kutowinangun memiliki arti penting dalam mendukung konektivitas masyarakat, khususnya di wilayah Kebumen dan sekitarnya. Dengan layanan kereta api yang tersedia setiap hari, masyarakat memiliki alternatif transportasi yang aman, nyaman, dan efisien untuk menjangkau berbagai kota,” kata As’ad.

Stasiun Kutowinangun juga menyimpan jejak panjang sejarah perkeretaapian di wilayah selatan Jawa. Stasiun ini mulai beroperasi pada 20 Juli 1887, seiring perkembangan jalur kereta api yang menghubungkan Kutoarjo dengan Kroya.

Pada masa itu, keberadaan jalur kereta api tidak hanya mendukung mobilitas penumpang, tetapi juga berperan dalam pengangkutan barang. Kawasan di sekitar stasiun pernah terhubung dengan aktivitas industri gula melalui sejumlah percabangan rel yang digunakan untuk mengangkut hasil produksi pabrik gula di sekitarnya.

Seiring perubahan sistem transportasi dan perkembangan industri, jalur-jalur percabangan tersebut tidak lagi beroperasi. Meski demikian, Stasiun Kutowinangun tetap bertahan dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan transportasi masyarakat.

Modernisasi infrastruktur perkeretaapian turut mengubah operasional stasiun tersebut. Pengoperasian jalur ganda lintas selatan pada 2019 menjadi salah satu bagian penting dari peningkatan kapasitas prasarana kereta api.

Saat ini, Stasiun Kutowinangun memiliki empat jalur kereta api yang didukung sistem persinyalan elektrik. Infrastruktur tersebut menunjang kelancaran operasional sekaligus mendukung keselamatan dan efisiensi perjalanan kereta api.

Dari sisi pelayanan, jumlah penumpang yang menggunakan Stasiun Kutowinangun juga menunjukkan peningkatan. Sepanjang 2025, rata-rata volume penumpang yang berangkat dan datang tercatat sebanyak 3.958 orang per bulan.

Sementara itu, hingga September 2026, rata-rata volume penumpang bulanan meningkat menjadi 4.377 orang. Angka tersebut tumbuh sekitar 10 persen dibandingkan rata-rata bulanan pada 2025.

Menurut As’ad, peningkatan jumlah penumpang menjadi salah satu indikator kebutuhan masyarakat terhadap transportasi kereta api. KAI terus berupaya meningkatkan kualitas layanan melalui pembenahan fasilitas stasiun, penyediaan informasi perjalanan, serta penerapan budaya keselamatan dalam kegiatan operasional.

“Kami mengapresiasi kepercayaan masyarakat yang terus menjadikan kereta api sebagai pilihan transportasi. Peningkatan kualitas layanan akan terus dilakukan agar perjalanan pelanggan semakin nyaman dan kebutuhan mobilitas masyarakat dapat terlayani dengan baik,” ujarnya.

Selain menjadi sarana transportasi, Stasiun Kutowinangun juga berpotensi mendukung pengembangan pariwisata lokal. Sejumlah destinasi di kawasan sekitarnya dapat menjadi pilihan bagi penumpang yang ingin menikmati perjalanan sekaligus mengenal potensi daerah.

Salah satunya Jlegi Fun River (JFR), destinasi wisata air yang menawarkan rekreasi dengan suasana alam. Wisatawan yang tertarik pada sektor pertanian dapat mengunjungi Elio Farm untuk merasakan pengalaman memetik melon secara langsung.

Adapun Alun-alun Kutowinangun bisa menjadi alternatif tempat bersantai sekaligus menikmati suasana pusat aktivitas masyarakat setempat.

Keberadaan destinasi tersebut membuka peluang untuk menghubungkan layanan transportasi publik dengan kegiatan wisata. Namun, wisatawan perlu merencanakan perjalanan lanjutan dari stasiun dan memastikan ketersediaan transportasi menuju lokasi tujuan.

As’ad berharap layanan kereta api tidak hanya menunjang mobilitas masyarakat, tetapi juga membantu memperkenalkan potensi wisata dan mendorong aktivitas ekonomi daerah.

“Kami berharap layanan kereta api dapat menjadi bagian dari perjalanan masyarakat untuk mengenal potensi daerah, termasuk destinasi wisata di Kebumen dan sekitarnya. Dengan memanfaatkan transportasi publik, masyarakat dapat merencanakan perjalanan secara lebih praktis sekaligus mendukung perkembangan ekonomi dan pariwisata lokal,” katanya.

Editor : EldeJoyosemito

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network