Anak perempuan Mbah Tusiyem yang kini meneruskan usaha keluarga mengatakan, resep bakmi tersebut masih mengikuti racikan pendirinya. Mereka tidak banyak mengubah komposisi bumbu yang menjadi ciri khas warung itu.
Dia hanya melanjutkan resep bumbu dari Mbah Tusiyem, tidak banyak bumbu selain rempah khas Jawa dan ayam kampung.
Kesederhanaan juga terlihat dari penyajian dan suasana tempat makan. Dari luar, warung ini lebih menyerupai rumah warga biasa daripada restoran. Sejumlah kendaraan pengunjung yang terparkir di halaman menjadi salah satu petunjuk bahwa rumah tersebut merupakan tujuan kuliner.
Setelah menikmati bakmi atau ayam goreng, pengunjung juga bisa memesan teh manis panas yang disajikan dengan cita rasa khas teh Jawa, yakni panas, legi, dan kenthel. Rasa tehnya pekat dengan sensasi sepat yang mengingatkan pada teh tradisional.
Keberadaan Mie Mbah Tusiyem menjadi bukti bahwa kuliner tradisional dapat bertahan di tengah perubahan zaman.
Dengan tetap menjaga resep warisan keluarga dan suasana pedesaan, warung sederhana di Desa Pucangan ini terus menjadi tempat singgah bagi pencinta bakmi Jawa yang ingin menikmati masakan dengan cita rasa rumahan.
Editor : EldeJoyosemito
Artikel Terkait
