get app
inews
Aa Text
Read Next : Miris! Suami Aniaya Istri Hamil 8 Bulan di Banyumas, Polisi Ungkap Kronologi

Banyumas Raya Deflasi pada April 2026, Harga Pangan dan Tarif Transportasi Turun

Kamis, 07 Mei 2026 | 08:35 WIB
header img
Wilayah Banyumas Raya yang mencakup Purwokerto dan Cilacap mengalami deflasi pada April 2026, salah satu upaya meredam inflasi adalah dengan mendorong penanaman cabai. (Foto: Istimewa)

PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id - Wilayah Banyumas Raya yang mencakup Purwokerto dan Cilacap mengalami deflasi pada April 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya penurunan harga secara bulanan setelah sebelumnya terjadi inflasi pada Maret 2026.

Di Purwokerto, inflasi bulanan pada April 2026 tercatat minus 0,07 persen month to month (mtm). Sementara inflasi tahun kalender berada di angka 1,03 persen dan inflasi tahunan mencapai 2,12 persen.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kondisi Maret 2026 yang mencatat inflasi 0,68 persen (mtm), 1,10 persen (ytd), dan 3,31 persen (yoy).

Sementara itu, Cilacap juga mengalami kondisi serupa. Pada April 2026, deflasi tercatat sebesar 0,21 persen (mtm), dengan inflasi tahun kalender 0,87 persen dan inflasi tahunan 2,23 persen.

Capaian tersebut menurun dibandingkan Maret 2026 yang mencatat inflasi 0,70 persen (mtm), 1,08 persen (ytd), dan 3,51 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny, mengatakan tingkat inflasi di Banyumas Raya secara umum masih lebih rendah dibandingkan Jawa Tengah maupun nasional. Pada periode yang sama, Jawa Tengah mengalami deflasi sebesar 0,03 persen (mtm) dengan inflasi tahunan 2,11 persen.

Menurutnya, deflasi di Purwokerto dan Cilacap dipengaruhi normalisasi permintaan masyarakat usai Ramadan dan Idulfitri.

“Setelah arus mudik dan balik Lebaran berakhir, mobilitas masyarakat menurun sehingga berdampak pada penurunan harga sejumlah komoditas dan tarif angkutan antarkota,” ujar Christoveny.

Ia menambahkan, penurunan harga emas dunia akibat meredanya tensi geopolitik turut berpengaruh terhadap harga emas perhiasan di pasar domestik.

Dari sisi kelompok pengeluaran, deflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

“Di Purwokerto, kelompok tersebut mengalami deflasi 0,62 persen dengan andil minus 0,19 persen. Sedangkan di Cilacap, deflasi mencapai 0,67 persen dengan andil minus 0,22 persen,” katanya.

Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit.

Meski terjadi deflasi secara bulanan, inflasi tahunan di Banyumas Raya tetap terkendali dan berada dalam target nasional sebesar 2,5±1 persen.

Christoveny menuturkan kondisi tersebut tidak lepas dari sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

“Berbagai langkah pengendalian inflasi terus diperkuat melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera, mulai dari Gerakan Pangan Murah, pengembangan sentra komoditas, panen hasil pemberdayaan petani milenial dan pesantren, fasilitasi distribusi pangan, hingga kerja sama antardaerah,” pungkasnya.

Editor : EldeJoyosemito

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut