Sidat Jadi Komoditas Andalan Ubah Desa yang Awalnya Miskin untuk Lebih Berdaya
Rumah produksi diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengolahan sekaligus membuat proses produksi lebih terorganisasi.
Sidat dan Konsep Ekonomi Sirkular
Menariknya, pemberdayaan sidat di Sidamukti tidak berhenti pada prinsip menghasilkan produk sebanyak mungkin. Warga juga mulai menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah organik hasil pengolahan.
Sisa organik dari proses produksi digunakan sebagai bahan pakan maggot. Maggot tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele.
"Jadi kalau pengolahan itu kan ada sampahnya organik, ya. Nah, sampah organik dari hasil pengolahan tadi kita gunakan untuk pakan maggot. Nanti pakan maggotnya sendiri kita gunakan untuk pakan lele. Jadi kayak circular economy, seperti itu," jelas Ita.
Pola tersebut menciptakan rantai ekonomi yang saling terhubung. Sidat dibesarkan di kolam, dipanen dan dijual sebagai ikan segar. Sebagian hasil panen kemudian masuk ke proses pengolahan menjadi abon, sambal, dan kerupuk.
Sementara limbah organiknya tidak serta-merta menjadi sampah, melainkan dimanfaatkan kembali untuk mendukung budidaya maggot dan lele.
Bagi warga Sidamukti, perjalanan sidat dari Sungai Citanduy menuju kolam pembesaran hingga menjadi produk pangan bukan sekadar cerita tentang ikan.
Di baliknya ada upaya mengubah potensi alam menjadi sumber penghidupan, membuka peluang usaha, dan membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Dari seekor sidat, warga kini melihat lebih banyak kemungkinan: penghasilan, pekerjaan, produk olahan, hingga harapan agar desa yang dulu lekat dengan persoalan kemiskinan dapat tumbuh menjadi desa yang lebih berdaya.
Editor : EldeJoyosemito