Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kisah Perjuangan Mia, Ibu Hamil yang Rela Motoran 13 Jam Demi Mudik dari Tangerang ke Cilacap
Advertisement . Scroll to see content

Kenaikan Harga Ayam Ras Jadi Penyumbang Inflasi di Purwokerto dan Cilacap 

Rabu, 02 September 2026 | 17:00 WIB
  • author Elde Joyosemito
Kenaikan Harga Ayam Ras Jadi Penyumbang Inflasi di Purwokerto dan Cilacap 
Harga daging ayam menjadi salah satu penyumbang inflasi. (Foto: Istimewa)

PURWOKERTO, iNewsPurwokerto.id - Inflasi di Purwokerto dan Cilacap pada Agustus 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5 plus minus 1 persen. Meski secara bulanan kedua wilayah mengalami inflasi setelah pada Juli mencatatkan deflasi, tekanan harga masih terkendali.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto Aswin Gantina mengatakan Purwokerto pada Agustus 2026 mencatat inflasi sebesar 0,39 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Secara tahunan, inflasi Purwokerto mencapai 3,15 persen atau year on year (yoy).

Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli 2026 yang mencatatkan deflasi 0,05 persen secara bulanan dengan inflasi tahunan sebesar 2,66 persen.

Sementara itu, Cilacap mencatat inflasi bulanan sebesar 0,50 persen dan inflasi tahunan 3,08 persen. Pada Juli 2026, Cilacap mengalami deflasi 0,06 persen secara bulanan dengan inflasi tahunan 2,44 persen.

“Perkembangan inflasi di Purwokerto dan Cilacap tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen. Hal ini menunjukkan pengendalian inflasi melalui sinergi Bank Indonesia dan pemerintah daerah terus berjalan,” kata Aswin, Selasa (2/9/2026).

Menurut dia, kenaikan harga daging ayam ras menjadi salah satu penyumbang utama inflasi di kedua wilayah. Permintaan daging ayam meningkat pada momentum Hari Kemerdekaan dan Maulid Nabi.

Dari sisi produksi, kenaikan harga juga dipengaruhi meningkatnya biaya yang harus ditanggung peternak, terutama akibat kenaikan harga pakan dan day-old chick (DOC).

Tekanan inflasi juga berasal dari komoditas hortikultura, terutama cabai rawit, buncis, dan kacang panjang. Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut terjadi seiring menurunnya produksi di beberapa daerah sentra.

Selain pangan, harga emas perhiasan turut memberikan tekanan terhadap inflasi. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan di dalam negeri serta perkembangan harga emas di pasar global.

Namun, tekanan inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, seperti bawang merah, bawang putih, bensin, dan telur ayam ras.

“Berbagai tekanan harga tersebut masih dapat diimbangi oleh penurunan harga beberapa komoditas. Karena itu, inflasi di Banyumas Raya secara umum tetap berada dalam kondisi terkendali,” ujar Aswin.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi di kedua wilayah.

Di Purwokerto, kelompok tersebut mengalami inflasi 1,12 persen secara bulanan dengan andil 0,33 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang inflasi 0,02 persen, demikian pula kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga.

Adapun di Cilacap, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 1,32 persen secara bulanan dengan andil 0,42 persen. Tekanan juga berasal dari kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga dengan andil 0,02 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen.

Aswin mengatakan pengendalian inflasi dilakukan melalui sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Upaya tersebut juga didukung penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional.

Selama Agustus, pengendalian inflasi di Banyumas Raya dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Sejumlah Gerakan Pangan Murah digelar di Desa Mandirancan, Banjarsari, Langgongsari, Gandatapa, dan Kutaliman.

“Pengendalian inflasi tidak hanya dilakukan ketika harga sudah meningkat, tetapi juga melalui penguatan pasokan dan produktivitas. Salah satunya dengan pendampingan kepada petani cabai untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan,” kata Aswin.

Upaya lainnya dilakukan melalui penyelenggaraan Toko Tani mingguan untuk memperpendek rantai distribusi pangan. TPID juga secara rutin menggelar koordinasi bersama pedagang besar, asosiasi, dan kelompok tani.

Ke depan, TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

“Sinergi akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan inflasi tetap terkendali sesuai sasaran nasional,” pungkas Aswin.

Editor: EldeJoyosemito

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut